Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan berat hingga mendekati level Rp 17.900 per dolar AS dalam transaksi perdagangan Kamis siang. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi sentimen global, mulai dari lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury), melambungnya harga minyak mentah dunia di atas USD 100 per barel, hingga ekspektasi kebijakan moneter ketat yang berkepanjangan dari bank sentral AS.
Pada perdagangan Kamis pukul 13.16 WIB, rupiah terpantau melemah sekitar 0,48 persen ke posisi Rp 17.903 per dolar AS. Kendati mengalami depresiasi yang cukup tajam, bank sentral menegaskan bahwa pergerakan rupiah sejauh ini masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang regional lainnya di kawasan Asia.
Badai Sentimen Global: Yield US Treasury dan Geopolitik Timur Tengah
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan prospek fiskal AS telah memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter ketat di negara adidaya tersebut akan bertahan lebih lama. Kondisi ini memicu aksi jual di pasar obligasi AS, yang kemudian mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga ke level 5,11 persen—titik tertinggi sejak tahun 2007.
Selain tekanan dari pasar keuangan AS, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memperkeruh situasi. Konflik yang terus membara di kawasan tersebut memicu kecemasan baru terkait pasokan energi global. Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent kembali meroket dan diperdagangkan di kisaran USD 103 per barel pada hari Kamis.
Kenaikan harga minyak dunia ini menjadi tantangan ganda bagi perekonomian domestik. Sebagai negara net-importir minyak, Indonesia sangat bergantung pada impor minyak mentah dan produk bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Lonjakan harga komoditas ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan APBN.
Tekanan Domestik dan Siklus Akhir Kuartal
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga diperberat oleh faktor musiman. Erwin menyebutkan adanya peningkatan permintaan valuta asing (valas) yang cukup signifikan dari para importir menjelang berakhirnya kuartal ketiga tahun ini. Di saat yang sama, terjadi aliran modal keluar (outflow) dari aset-aset pasar keuangan negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, karena investor global cenderung mengamankan aset mereka ke dalam mata uang dolar AS yang dinilai lebih aman (safe haven).
Meski demikian, jika dilihat secara kumulatif sepanjang kuartal berjalan (quarter-to-date), nilai tukar rupiah sebenarnya masih mencatatkan kinerja positif dengan penguatan tipis sebesar 0,46 persen.
Langkah Intervensi dan Amunisi Bank Indonesia
Menyikapi fluktuasi yang tinggi ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap bergerak sesuai dengan fundamental ekonominya. BI terus melakukan intervensi secara terukur di berbagai lini pasar keuangan.
Strategi intervensi tersebut dijalankan melalui mekanisme Non-Deliverable Forwards (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk meredam gejolak yield.
Selain melakukan intervensi langsung, BI juga mengintensifkan komunikasi dan koordinasi dengan korporasi serta para pelaku pasar keuangan guna menjaga pasokan dan permintaan valas tetap berimbang. Guna mendukung langkah-langkah stabilisasi tersebut, BI memiliki amunisi yang cukup kuat. Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi USD 146,5 miliar pada akhir Agustus, memberikan ruang intervensi yang memadai bagi bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian global ke depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post