Kabar Duka dari Trah Soekarno: Guruh Soekarnoputra Tutup Usia di Usia 73 Tahun
Dunia seni dan politik Indonesia berduka. Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra, putra bungsu dari Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sekaligus seniman, koreografer, dan maestro budaya terkemuka, meninggal dunia pada Sabtu dini hari di Jakarta pada usia 73 tahun.
Pihak keluarga mengonfirmasi bahwa Guruh mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Sebelum dipindahkan ke Siloam akibat kondisinya yang kembali menurun, Guruh sempat menjalani perawatan intensif selama kurang lebih empat minggu di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.
Kepergian Guruh menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang tokoh yang memiliki posisi unik dalam panggung publik Indonesia. Lahir dari salah satu trah politik paling berpengaruh di tanah air, Guruh justru memilih jalur kesenian sebagai ruang ekspresi utamanya, sebelum akhirnya turut terjun ke dunia politik praktis.
Sebagai anak bungsu dari pasangan Soekarno dan Fatmawati, Guruh merupakan adik kandung dari Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Menjembatani Tradisi dan Modernitas Lewat Mahakarya Seni
Keterikatan Guruh dengan dunia seni telah terbangun sejak belia. Catatan Arsip Nasional Republik Indonesia merekam bahwa ia sudah mempelajari tarian Jawa, Sunda, dan Bali sejak usia lima tahun. Selain piawai menari, ia juga mendalami alat musik piano hingga membentuk grup musik The Beat G pada tahun 1965 saat beranjak remaja.
Pendidikan akademisnya pun tak lepas dari wawasan kebudayaan. Guruh sempat menempuh studi arkeologi di Universitas Amsterdam dan lulus pada tahun 1976. Selama bermukim di Belanda, ia tetap aktif melestarikan budaya Nusantara dengan bergabung dalam kelompok gamelan Jawa dan Bali, serta mengajar tari Bali melalui lembaga kebudayaan mahasiswa, CREA.
Sekembalinya ke tanah air, Guruh mengawali era paling transformatif dalam karier keseniannya. Ia dikenal luas berkat keahliannya mengawinkan unsur seni tradisional Indonesia dengan genre musik modern dan seni pertunjukan kontemporer.
Salah satu rekam jejak terbesarnya adalah proyek eksperimental Guruh Gipsy pada tahun 1977. Kolaborasi maestro ini menggandeng grup musik progressive-rock Jakarta, Gipsy—yang digawangi musisi legendaris seperti Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman. Album kolaboratif yang memadukan instrumen gamelan Bali dengan musik rock Barat tersebut kini diakui sebagai salah satu tonggak sejarah terpenting dalam industri musik populer Indonesia.
Tak berhenti di situ, Guruh mendirikan wadah kreativitas pemuda Swara Maharddhika pada tahun 1977 untuk mengeksplorasi seni pertunjukan. Pada tahun 1979, lembaga ini menggelar pergelaran perdana bertajuk Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra, di mana Guruh bertindak langsung sebagai koreografer, komposer, sekaligus sutradara. Langkah ini dilanjutkan dengan pembentukan Gencar Semarak Perkasa (GSP) pada tahun 1989 untuk menggarap pertunjukan kolosal bertaraf internasional.
Dedikasi tingginya di bidang kebudayaan membuahkan berbagai penghargaan bergengsi. Pemerintah Prancis menganugerahinya gelar Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres pada tahun 1991. Di dalam negeri, ia dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) pada 2010 serta penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia pada 2011.
Dedikasi Politik dan Penghormatan Terakhir
Meski memiliki reputasi kuat sebagai seorang budayawan, Guruh pada akhirnya melangkah ke panggung politik untuk meneruskan warisan ideologis keluarganya. Ia resmi menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) pada tahun 1992 melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Pasca-reformasi, Guruh bergabung dengan PDI Perjuangan dan konsisten terpilih sebagai wakil rakyat di parlemen dalam beberapa periode berturut-turut, termasuk pada masa jabatan 2019–2024. Identity politiknya dikenal sangat erat dengan ajaran Marhaenisme dan pemikiran Soekarno.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya sang maestro. Ia menilai partai telah kehilangan sosok aktivis senior sekaligus figur kebudayaan yang berdedikasi tinggi.
“Keluarga besar PDI Perjuangan benar-benar merasa kehilangan Mas Guruh Sukarnoputra,” ujar Hasto dalam keterangan tertulisnya. Ia mengenang almarhum sebagai budayawan besar, sosok Marhaenis sejati, dan pejuang partai yang gigih.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdian almarhum, DPP PDIP menginstruksikan seluruh jajaran pengurus partai dari tingkat pusat hingga ranting untuk mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari berturut-turut.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post