Milan Fashion Week 2026 baru saja menutup tirainya, meninggalkan jejak estetika yang mendalam bagi dunia mode global. Pekan mode ini menjadi panggung bagi perpaduan antara sensualitas yang matang, kembalinya siluet rok yang ikonik, hingga interpretasi modern terhadap warisan budaya. Dari kemegahan pembukaan hingga penghormatan terakhir bagi sang legenda Giorgio Armani, Milan sekali lagi membuktikan posisinya sebagai kiblat mode yang tak lekang oleh waktu.
Agnona: Menjelajahi Kebebasan dalam Koleksi “Coast to Coast”
Rumah mode Agnona tampil memukau dengan koleksi Spring–Summer 2027 bertajuk “Coast to Coast”. Di bawah arahan kreatif Stefano Aimone, koleksi ini menjadi sebuah narasi perjalanan yang tak berujung, mencerminkan keinginan untuk terus bergerak di tengah dunia yang kian statis. Palet warna lembut seperti ecru, baby blue, dan peach pink mendominasi, memberikan kesan elegan yang tenang.
Material berkualitas tinggi menjadi kunci; mantel kasmir double-faced yang ringan berpadu harmonis dengan tekstur bouclé yang taktil. Untuk koleksi pria, Agnona tetap setia pada gaya tailoring yang santai namun berwibawa, mencerminkan sosok pengelana modern yang percaya diri. Keberhasilan butik mereka di Milan, meski dibuka di luar musim puncak, menjadi bukti bahwa pesona quiet luxury Agnona tetap relevan sepanjang tahun.
Saman Loira: Magma Alam dan Deklarasi Cinta pada Couture
Membawa energi dari Naples, Saman Loira menghadirkan koleksi “Tephra Vesuviana” yang terinspirasi dari erupsi Vesuvius. Duo desainer Francesco Corcione dan Francesco Canessa berhasil menyatukan dua dunia yang sering dianggap berseberangan: sustainability dan kemewahan. Melalui teknik daur ulang yang presisi, mereka mengubah sisa kain seperti sutra, chiffon, dan tulle menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Koleksi ini menampilkan 36 look yang mengeksplorasi keberanian struktural, mulai dari celana kulit yang memberikan tekstur kontras hingga rajutan tulle yang halus. Kehadiran elemen pria yang elegan namun cair (fluid) semakin mempertegas visi Saman Loira untuk terus berkembang sebagai label yang mendefinisikan ulang identitas mode kontemporer.
Sara Behbud: Merayakan Kebebasan Perempuan melalui Motif Persia
Desainer Sara Behbud membawa pesan kuat tentang kebebasan dan identitas dalam koleksi Spring–Summer 2027 miliknya. Terinspirasi oleh gerakan Woman, Life, Freedom, Behbud mengeksplorasi motif tradisional karpet Persia, Afshan, dan mendekonstruksinya menjadi estetika piksel yang modern. Setiap helai busana yang ia ciptakan adalah bentuk perlawanan dan perayaan atas hak perempuan untuk menentukan pilihan hidupnya.
Dengan teknik laser-cut dan sulaman tangan yang rumit, koleksi ini memadukan warisan budaya Iran dengan keunggulan craftsmanship Italia. Bagi Behbud, Milan bukan sekadar tempat untuk memamerkan karya, melainkan panggung untuk menyuarakan aspirasi perempuan melalui bahasa mode yang elegan dan penuh makna.
Inovasi dan Ekspansi: Dari Denim hingga Alas Kaki
Milan Fashion Week juga menjadi saksi kolaborasi unik antara Pianegonda dan Pioneer Denim. Keduanya menghadirkan kapsul koleksi gelang denim yang memadukan jiwa pemberontak kain biru dengan kemewahan perak 925, sebuah simbol kebebasan berekspresi yang universal. Sementara itu, Bros Manifatture, induk perusahaan yang menaungi Rosato, mengumumkan rencana ekspansi besar-besaran ke Arab Saudi, menandai pertumbuhan pesat mereka di pasar Timur Tengah.
Di sisi lain, jenama alas kaki asal Kanada, Rossano, mencuri perhatian dengan pendekatan slow fashion. Pendirinya, Toby Martineau, tetap mempertahankan metode produksi tradisional Italia yang sangat personal. Dengan fokus pada kualitas kulit dari Tuscany dan detail yang sangat teliti, Rossano membuktikan bahwa kemewahan sejati terletak pada proses yang tidak terburu-buru dan penghormatan terhadap warisan kualitas.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post