JAKARTA — Tekanan inflasi yang bersumber dari gejolak harga pangan, lonjakan biaya energi global, serta depresiasi nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal memperrumit ruang gerak kebijakan moneter Indonesia. Bank Sentral diperkirakan berpotensi menaikkan suku bunga acuan BI-Rate hingga ke level 6 persen pada kuartal keempat tahun 2026 mendatang.
Ekonom Senior Bank Permata, Faisal Rachman, mengungkapkan bahwa proyeksi kenaikan suku bunga acuan tersebut mempertimbangkan tingginya potensi risiko inflasi di masa depan, meskipun inflasi inti saat ini relatif melandai. Laju inflasi tahunan Indonesia tercatat melonjak ke angka 3,28 persen pada September, naik dari posisi 3,19 persen pada Agustus, yang sebagian besar didorong oleh kenaikan harga bahan pangan.
Ancaman Inflasi Pangan dan Pasokan
Dalam analisis terbarunya, Faisal memperingatkan bahwa tekanan dari sisi penawaran (supply-side) berpotensi kian intensif. Lonjakan permintaan bahan pangan diperkirakan terjadi seiring jalannya implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) usulan pemerintah. Di sisi lain, potensi ancaman fenomena iklim ekstrem El Niño dapat mengganggu stabilitas produksi sektor pertanian nasional.
Kombinasi antara peningkatan permintaan domestik dan risiko gangguan produksi akibat cuaca ekstrem ini dikhawatirkan memicu lonjakan harga pangan yang signifikan. Kondisi ini menuntut langkah antisipasi ketat dari regulator moneter guna menjaga daya beli masyarakat.
Dilema Harga Energi dan Beban Fiskal
Selain faktor pangan, ketidakpastian harga energi global menjadi tantangan serius berikutnya bagi stabilitas ekonomi nasional. Faisal menilai, upaya pemerintah untuk mempertahankan harga energi domestik di tengah kenaikan harga minyak dunia berisiko memperberat beban anggaran dan subsidi fiskal.
Sebaliknya, jika pemerintah mengambil kebijakan untuk menyesuaikan harga energi bersubsidi, hal itu secara otomatis akan menaikkan biaya transportasi dan logistik. Kenaikan inflasi yang dipicu oleh penyesuaian harga energi ini diperkirakan bakal mendorong Bank Indonesia mengambil respons kebijakan moneter yang jauh lebih agresif melalui pengetatan suku bunga.
Tekanan Nilai Tukar dan Sikap The Fed
Proyeksi kenaikan suku bunga acuan juga tidak lepas dari bayang-bayang tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang diperkirakan berlanjut hingga akhir 2026. Pelemahan mata uang Garuda dipengaruhi oleh pelebaran defisit transaksi berjalan serta potensi pembalikan arah arus modal jangka pendek (capital outflow), terutama dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Rupiah yang melemah dipastikan meningkatkan biaya impor bahan baku (imported inflation), yang pada akhirnya membuat pelaku usaha membebankan kenaikan biaya produksi tersebut kepada konsumen akhir.
Di kancah global, proyeksi ini turut memperhitungkan langkah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate hingga ke tingkat 4,25 persen pada kuartal akhir, mengingat laju inflasi AS yang masih berada di atas target sasaran.
Prospek Inflasi Hingga Tahun 2027
Bank Permata memperkirakan bayang-bayang risiko inflasi tinggi masih akan bertahan setidaknya hingga semester pertama tahun 2027. Ketegangan geopolitik dunia yang belum mereda serta dampak El Niño diproyeksikan terus membayangi pergerakan harga pangan dan energi global.
Tekanan tersebut diperkirakan baru mulai mereda pada paruh kedua tahun 2027 seiring membaiknya kondisi ekonomi global dan menguatnya prospek nilai tukar rupiah. Laju inflasi harga konsumen tahunan diproyeksikan melandai ke kisaran 2,94 persen pada akhir 2027, meski penguatan permintaan domestik yang didorong oleh agenda pertumbuhan ekonomi pemerintah tetap berpotensi memberikan dorongan inflasi tambahan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post