MALANG TODAY – Fenomena iklim El Nino diprediksi akan memperburuk kondisi perekonomian di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Gangguan curah hujan yang ekstrem dan kenaikan suhu udara yang drastis menjadi pemicu utama ancaman krisis di wilayah tersebut, terutama pada sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
Patricio Gonzalez Colville, peneliti dari Pusat Penelitian dan Transfer Irigasi dan Agroklimatologi Universitas Talca, Chile, mengungkapkan bahwa El Nino mengubah pola iklim secara drastis. Fenomena ini memicu kekeringan parah, banjir, hingga gelombang panas ekstrem dengan suhu melampaui 38 derajat Celsius selama berhari-hari.
Ancaman Krisis Pangan dan Kelangkaan Air
Sektor pertanian menjadi pihak yang paling terdampak oleh perubahan cuaca ekstrem ini. Budi daya tanaman pangan seperti buah-buahan dan serealia membutuhkan kondisi cuaca yang stabil. Penurunan hasil panen diperkirakan akan memukul para petani skala kecil atau pertanian keluarga, sekaligus membatasi akses terhadap air irigasi.
“Masyarakat akan mengalami penurunan hasil tanaman pangan, sementara harga kebutuhan pokok di pasar akan melonjak akibat kelangkaan. Angka kemiskinan berpotensi meningkat karena petani tidak memiliki kelebihan hasil panen untuk dijual,” terang Gonzalez.
Selain kemiskinan, angka pengangguran di sektor agrikultur juga terancam meningkat. Meningkatnya ketidakpastian iklim memaksa para pemilik usaha tani mengurangi jumlah tenaga kerja guna menekan kerugian.
Kondisi ‘Luar Biasa’ dan Kerentanan Koridor Kering
Intensitas pemanasan El Nino saat ini masuk dalam kategori “kuat” dan diproyeksikan berkembang menjadi fenomena “luar biasa”. Dampak paling mengkhawatirkan membayangi wilayah Amerika Tengah, khususnya di area “koridor kering” yang membentang dari Meksiko selatan, Guatemala, El Salvador, Honduras, Nikaragua, hingga Kosta Rika.
Di wilayah koridor kering tersebut, sekitar 11 juta orang yang menggantungkan hidup pada pertanian jagung dan kacang-kacangan terancam kehilangan akses air. Kondisi ini berisiko memperparah krisis pangan di kawasan yang sudah mencatatkan sekitar 43 juta penduduk mengalami kekurangan gizi.
Ancaman serupa mengintai Kolombia akibat gelombang panas, serta Brasil yang berpotensi mengalami kekeringan parah di kawasan Amazon. Kelangkaan air di hutan hujan terbesar dunia tersebut dikhawatirkan dapat memicu kebakaran hutan yang sulit dikendalikan.
Ancaman Permanen Perubahan Iklim
Sifat perekonomian negara-negara Amerika Latin yang sangat bergantung pada ekspor hasil pertanian membuat kawasan ini menanggung beban ekonomi paling berat saat El Nino terjadi. Penurunan produksi secara langsung akan memangkas pendapatan negara.
Kombinasi antara El Nino dan perubahan iklim global dinilai telah mendorong bumi memasuki fase iklim baru. Menurut Gonzalez, kondisi cuaca ekstrem ini menegaskan bahwa bumi telah melewati titik kritis, di mana konsep ‘cuaca normal’ yang stabil tidak lagi dapat menjadi acuan di masa depan.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post