Dorong Ekonomi Lokal, Pemkot Probolinggo Bidik Mango Carnival Masuk Agenda Nasional
PROBOLINGGO – Pemerintah Kota Probolinggo terus memacu potensi kawasan pesisir Jawa Timur dengan mendorong gelaran Mango Carnival of Indonesia (MCI) berkembang menjadi agenda unggulan berskala nasional. Langkah strategis ini diambil sebagai sarana menggerakkan perekonomian berbasis UMKM sekaligus memperkuat promosi komoditas mangga dan kekayaan seni budaya lokal ke tingkat yang lebih luas.
Keseriusan tersebut terlihat dalam kemeriahan rangkaian MCI yang dikolaborasikan dengan Festival Musik Dug-Dug di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo. Pentas kolosal yang menghadirkan 13 sanggar musik tradisional bersama belasan penari lokal tersebut berhasil memikat perhatian ribuan warga. Tak hanya menyuguhkan atraksi budaya, area kawasan stadion juga disulap menjadi pusat ekonomi kreatif dengan hadirnya deretan stan produk UMKM unggulan dan pameran aneka varietas mangga khas daerah setempat.
Sinergi Seni Budaya dan Potensi Mangga Khas Daerah
Ketua TP PKK Kota Probolinggo, dr. Evariani Aminuddin, menegaskan bahwa integrasi antara seni budaya, komoditas perkebunan, dan usaha mikro merupakan formulasi ampuh dalam memajukan daerah. Pihaknya membidik MCI dapat melompat lebih tinggi hingga menembus penanggalan event pariwisata resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Harapannya, Kota Probolinggo semakin dikenal sebagai kota event dan kota wisata. Mudah-mudahan Mango Carnival of Indonesia ke depan bisa masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) dan menjadi agenda tahunan berskala nasional. Dengan adanya event seperti ini, UMKM semakin berkembang, seni budaya semakin dikenal, dan tentunya dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” tegas dr. Evariani.
Di sisi lain, gelaran ini juga menjadi panggung pembuktian bagi eksistensi kesenian tradisional khas Probolinggo. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Setiorini Sayekti, menjelaskan bahwa Festival Musik Dug-Dug dirancang untuk memberi ruang ekspresi serta memperkuat karakter para pelaku seni lokal.
“Dari sekitar 15 sanggar musik dug-dug yang ada di Kota Probolinggo, sebanyak 13 sanggar berpartisipasi dalam festival perdana ini. Festival ini diharapkan menjadi sarana bagi masyarakat untuk lebih mengenal kelompok musik dug-dug lokal, sekaligus membuka peluang kolaborasi maupun penggunaan jasa kelompok seni tersebut dalam berbagai kegiatan,” terangnya.
Apresiasi Seniman dan Penguatan Pasar UMKM
Dukungan penuh Pemkot Probolinggo terhadap wadah berekspresi ini mendapat sambutan hangat dari para seniman daerah. Tokoh seni lokal Probolinggo, Peny Priyono, menyampaikan apresiasinya atas ruang pertunjukan yang dinilai mampu menjaga keberlanjutan tradisi dan membangkitkan kebanggaan pegiat budaya.
“Kami sebagai seniman di Kota Probolinggo merasa mendapatkan apresiasi dan kesempatan untuk tampil. Harapan kami, Kota Probolinggo terus melestarikan dan mengembangkan keseniannya sendiri,” kata Peny.
Selain memperkokoh identitas budaya, kehadiran puluhan stan pameran buah mangga dan produk olahan UMKM sukses menciptakan perputaran ekonomi secara langsung selama perhelatan berlangsung. Melalui paduan harmonis antara potensi hortikultura, ekspresi seni, dan pemberdayaan ekonomi kreatif ini, Pemkot Probolinggo optimis Mango Carnival of Indonesia mampu menjadi magnet baru yang memikat wisatawan regional hingga mancanegara.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post