NEW YORK — Delegasi Republik Indonesia menegaskan sikap politik luar negerinya yang konsisten membela kedaulatan Palestina dengan melakukan aksi keluar ruangan (walk out) saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) ke-81 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat. Langkah diplomasi yang berlangsung pada Kamis (24/9) tersebut menjadi bentuk protes keras terhadap aksi militer dan pelanggaran hukum internasional yang terus berlanjut di wilayah Palestina.
Aksi meninggalkan ruang sidang pleno secara simultan ini diinisiasi oleh Misi Diplomatik Palestina untuk PBB dan diikuti oleh puluhan negara sahabat. Begitu nama Netanyahu dipanggil untuk naik ke podium, rombongan diplomat Indonesia bersama delegasi dari sekitar 30 hingga 40 negara langsung bangkit dari tempat duduk mereka dan mengosongkan lebih dari sepertiga area utama ruang sidang.
Bentuk Solidaritas dan Menolak Normalisasi Kekerasan
Gelombang aksi protes tersebut didominasi oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan kelompok Negara Arab, seperti Malaysia, Arab Saudi, Iran, Yordania, Aljazair, Tunisia, Sudan, dan Bangladesh. Dukungan serupa turut disuarakan oleh kelompok Negara Berkembang serta Gerakan Non-Blok dari kawasan Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.
Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyatakan bahwa penarikan diri dari ruang sidang tersebut merupakan pesan tegas Indonesia bersama negara-negara sehaluan dalam menentang kejahatan kemanusiaan di Gaza dan wilayah pendudukan Palestina lainnya.
“Aksi walk out tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina serta protes dan kecaman terhadap kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel. Indonesia ingin menyampaikan pesan yang jelas bahwa kekerasan terhadap rakyat Palestina tidak dapat dinormalisasi dan harus segera dihentikan,” tegas Vahd Nabyl dalam keterangannya, Jumat (25/9).
Aksi koordinasi internasional ini memicu reaksi emosional dari Netanyahu di atas podium, di mana ia sempat mengecam para diplomat yang meninggalkan ruangan sebelum melanjutkan pidatonya.
Dorong Rekonstruksi Gaza Berprinsip Kepemilikan Palestina
Sikap tegas Indonesia di PBB tidak hanya ditunjukkan melalui aksi protes di ruang sidang, tetapi juga lewat langkah diplomasi konkret terkait pemulihan pascakonflik. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menekankan pentingnya rekonstruksi menyeluruh bagi Gaza dalam forum High Level Roundtable on Gaza Early Recovery yang digelar di sela-sela rangkaian SMU PBB.
Dalam forum bertajuk “From Sharm El-Sheikh to Phase II – Consolidating Peace and Early Recovery” tersebut, Sugiono menyoroti bahwa perdamaian sejati bagi masyarakat Gaza harus diwujudkan melalui jaminan kehidupan yang layak, selain penghentian kontak senjata dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan.
“Bagi rakyat Gaza, perdamaian harus berarti lebih dari sekadar tidak adanya kekerasan. Mereka harus dapat membangun kembali kehidupan yang layak dan bermartabat,” ujar Sugiono.
Sugiono menambahkan bahwa proses pembangunan kembali infrastruktur, pemulihan layanan dasar, dan penyediaan mata pencaharian harus berpegang teguh pada prinsip Palestinian-led and Palestinian-owned. Indonesia menegaskan bahwa seluruh program rekonstruksi wajib dipimpin dan dimiliki sepenuhnya oleh rakyat Palestina, dengan dukungan internasional yang terarah pada penguatan kapasitas nasional Palestina sesuai dengan kerangka Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post