Ketika seorang anak tampak acuh atau lambat merespons perintah, sudut pandang awam orang tua cenderung melabeli buah hati mereka sebagai sosok yang sulit diatur atau tidak mau mendengarkan. Padahal, fenomena anak sulit mengikuti instruksi tidak sesederhana masalah kepatuhan semata, melainkan melibatkan jalinan kompleks dari berbagai aspek perkembangan, mulai dari kemampuan bahasa, pemrosesan sensorik, regulasi emosi, hingga tingkat perhatian anak.
Menanggapi isu perkembangan anak tersebut, pusat edukasi inklusif Atelier of Minds mendorong kesadaran masyarakat—khususnya orang tua—agar lebih bijak dalam memahami dinamika perilaku anak. Penilaian yang tepat dari sudut pandang profesional, seperti psikolog dan terapis okupasi, menjadi kunci mendasar agar bentuk dukungan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan riil sang anak.
Memahami Empat Aspek Utama Kepatuhan Anak
Psikolog dari Atelier of Minds, Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., memaparkan bahwa pemahaman anak terhadap perintah tidak datang secara instan, melainkan berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia. Ia menyoroti pentingnya mengevaluasi empat aspek utama yang memengaruhi tingkat kepatuhan anak, yaitu bahasa reseptif (kemampuan mencerna makna kata), perhatian (attention), memori kerja (working memory), serta regulasi perilaku.
Perkembangan pemahaman instruksi ini memiliki tahapan alamiah yang dapat diobservasi sejak dini:
- Usia 9–12 Bulan: Bayi mulai mengenal nama mereka sendiri dan mampu merespons kata-kata sederhana.
- Usia 12–18 Bulan: Anak mulai bisa mengikuti arahan sederhana yang dibantu dengan isyarat atau gestur tubuh.
- Usia 18–24 Bulan: Pemahaman berkembang sehingga anak mampu merespons instruksi tanpa perlu bantuan gestur.
- Usia 2–3 Tahun: Anak mulai dapat mencerna dan menjalankan instruksi dua langkah secara berurutan.
- Usia 3–4 Tahun: Anak mampu memproses arahan tiga langkah serta perintah yang memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi.
“Ketika anak belum dapat mengikuti instruksi, kita perlu melihat apakah arahan yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuannya, apakah anak memahami kata-kata yang digunakan, dan apakah ia siap memproses informasi tersebut,” jelas Erna.
Pengaruh Pemrosesan Sensorik dan Lingkungan
Dari kacamata terapi okupasi, kepatuhan anak tidak hanya ditentukan oleh fungsi kognitif dan bahasa, tetapi juga oleh bagaimana tubuh anak merespons stimulus eksternal. Terapis Okupasi dari Atelier of Minds, Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, mengungkapkan bahwa kemampuan pemrosesan sensorik memiliki andil besar terhadap fokus anak dalam menerima informasi.
Kondisi lingkungan yang penuh gangguan—seperti paparan suara bising, gerakan yang ramai, atau stimulasi visual berlebih—dapat membuat fokus anak dengan mudah teralih. Akibatnya, anak kesulitan memusatkan perhatian penuh pada pesan atau instruksi yang sedang disampaikan oleh orang tua maupun pendidik.
“Ketika anak sulit mengikuti instruksi, orang tua kerap menganggap anak tidak mendengarkan atau sulit diatur. Padahal, kemampuan memahami dan merespons instruksi melibatkan berbagai aspek perkembangan, mulai dari bahasa, perhatian, dan regulasi emosi hingga pemrosesan sensorik,” terang Dwi Ayu.
Indikator Penting Kapan Harus Berkonsultasi
Para ahli mengimbau para orang tua agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan ekstrem bahwa anak mengalami gangguan perkembangan permanen hanya karena sesekali mangkir dari instruksi. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus dijaga apabila kondisi tersebut menunjukkan pola abnormal yang konsisten.
Erna menegaskan bahwa konsultasi dengan tenaga profesional—seperti psikolog anak atau terapis okupasi—sangat disarankan apabila hambatan mengikuti instruksi ini terjadi secara terus-menerus hingga mengganggu aktivitas harian, atau ketika anak mengalami regresi (kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah ia kuasai).
Melalui pendekatan yang inklusif dan berbasis pemahaman perkembangan, orang tua diharapkan dapat mengenali kebutuhan spesifik buah hati mereka sejak dini. Intervensi dan dukungan yang tepat waktu akan membantu anak meningkatkan kemampuan kognitif, kemandirian, serta kepercayaan diri mereka di masa depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post