Pemerintah Indonesia dan Singapura kian intensif menggelar diplomasi tingkat tinggi untuk mengatasi persoalan kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan melangsungkan serangkaian pertemuan dengan sejumlah menteri kabinet Indonesia di Jakarta, salah satunya Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, guna memperkuat langkah bersama dalam penanganan krisis lingkungan serta dampaknya terhadap hubungan bilateral kedua negara.
Pertemuan diplomasi maraton ini menjadi krusial setelah krisis kabut asap kembali mencemari ruang udara Singapura dan memicu gangguan pada berbagai sektor strategis, mulai dari ketahanan energi hingga arus investasi regional.
Mengejar Jejak Keuangan Korporasi Pembakar Hutan
Langkah konkret yang dihasilkan dari diplomasi ini adalah kesepakatan pembentukan satuan tugas bersama (joint task force) untuk menanggulangi karhutla dan kabut asap transnasional. Tim gabungan ini berfokus pada pertukaran intelijen keuangan serta pengumpulan bukti lintas batas negara guna memproses hukum perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran lahan.
Indonesia menekankan bahwa strategi kolaboratif ini bertumpu pada mekanisme “follow the money” atau menelusuri aliran dana korporasi pembakar hutan. Di sisi lain, otoritas Singapura merespons ketat dengan memanggil jajaran direksi dari 10 perusahaan terdaftar di Singapura yang diduga kuat berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan di wilayah Indonesia.
Sentimen Diplomasi dan Stabilitas Investasi
Selain bertemu dengan kementerian keuangan, Vivian Balakrishnan juga melangsungkan pertemuan khusus dengan Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani yang juga memimpin lembaga pengelola investasi Danantara. Dalam keterangannya, Rosan menegaskan bahwa komitmen investasi antara kedua negara tetap terbuka lebar dan berjalan stabil di tengah dinamika isu lingkungan yang dihadapi.
Singapura hingga saat ini masih bertahan sebagai investor asing terbesar bagi Indonesia. Data pemerintah mencatat realisasi penanaman modal asing (PMA) dari Singapura menembus angka USD 14 miliar hanya dalam kurun waktu sembilan bulan pertama tahun ini, sementara total nilai perdagangan bilateral kedua negara hingga Agustus telah mencapai USD 22,9 miliar.
Dampak Luas: Dari Gas Bumi Hingga Jalur Penerbangan
Persoalan kabut asap yang diakui Balakrishnan telah berlangsung terlalu lama ini sempat meluas dan memicu gesekan di sektor strategis lainnya, terutama ketahanan energi. Indonesia memutuskan memangkas pasokan ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 miliar British thermal units per hari (BBTUD) demi mengamankan kebutuhan domestik.
Meski sempat memicu kekhawatiran terkait potensi cidera janji atas kontrak jual-beli, kedua negara mengonfirmasi komitmen bersama untuk tetap menghormati perjanjian yang ada. Selain sektor energi, dinamika hubungan bilateral kedua negara belakangan juga diuji oleh isu pemutusan kabel serat optik bawah laut hingga regulasi rute penerbangan transit untuk jamaah Umrah.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post