JAKARTA — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam ancaman serius usai terperosok hingga 41% secara tahun berjalan (year to date/ytd). Memasuki akhir Oktober 2026, pasar modal domestik tersungkur ke level 5.098 dan kini bersiap menghadapi ujian krusial untuk mempertahankan benteng psikologis di level 5.000.
Kondisi pasar kian memprihatinkan setelah pada penutupan perdagangan Kamis (29/10/2026), IHSG anjlok tajam 184,2 poin atau 3,49%. Tekanan jual terjadi secara masif dengan mencatatkan 653 saham melemah, sementara hanya 104 saham yang menguat, dan 206 saham stagnan. Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) membengkak hingga Rp 11,03 triliun di tengah aksi pelepasan aset oleh investor.
Pertaruhan Level Psikologis dan Area Support
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengungkapkan bahwa pergerakan indeks saat ini berada di persimpangan jalan. IHSG berpotensi kuat kembali menguji rentang area penopang (support) kritis di level 5.000–4.907, yang merupakan titik terendah sebelumnya.
Jika tekanan jual dari pelaku pasar tak kunjung mereda, benteng pertahanan teknikal tersebut berisiko jebol dan membawa indeks meluncur lebih dalam. “Di sini akan jadi pertaruhan, apakah IHSG akan melawan atau menyerah?” ujar Liza dalam riset analisisnya.
Liza memperkirakan, apabila area support tersebut gagal menahan gempuran aksi jual, pelemahan IHSG berpeluang meluas hingga ke kisaran level 4.800-an.
Arus Modal Keluar dan Memburuknya Indikator Makro
Aksi lepas saham oleh investor asing menjadi salah satu pemicu utama kejatuhan bursa saham domestik. Catatan Bursa Efek Indonesia menunjukkan, akumulasi arus keluar bersih dana asing (foreign outflow) sejak awal tahun telah menembus angka fantastis, yakni Rp 124,6 triliun.
Dinamika pasar saham ini kian kompleks akibat terpengaruh oleh isu politik nasional serta berbagai opini yang membiaskan persepsi publik. Kombinasi ketidakpastian politik dan tekanan makroekonomi membuat peta investasi menjadi sulit diproyeksikan, hingga sebagian analis memilih untuk menahan rekomendasi investasi di pasar reguler.
Sinyal kecemasan pasar juga tertangkap jelas dari deretan indikator keuangan makro lainnya:
- Nilai Tukar Rupiah: Terdepresiasi tajam hingga menyentuh level Rp 18.183 per dolar AS.
- Imbal Hasil SUN: Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun melonjak ke level 7,7%, mencerminkan tuntutan premi risiko yang lebih tinggi dari investor.
- Risiko Utang Negara: Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di posisi 103,48 basis poin (bps). Meskipun terkoreksi tipis 2,86 poin harian, biaya perlindungan risiko gagal bayar utang ini telah melonjak sekitar 52% jika dibandingkan posisi akhir 2025.
Koreksi Merata di Seluruh Sektor
Pelemahan yang terjadi pada perdagangan terakhir berlangsung secara menyeluruh tanpa menyisakan satu pun sektor di zona hijau. Sektor perindustrian menjadi penyumbang koreksi terdalam setelah merosot 4,64%, disusul sektor barang baku yang terangkas 4,53%, serta sektor infrastruktur yang melorot 4,24%.
Tekanan serupa juga menimpa sektor energi yang melemah 3,29%, barang konsumen non-primer turun 2,5%, dan sektor teknologi terkikis 2,4%. Sektor-sektor berbobot besar seperti keuangan dan properti masing-masing tergerus 2,2%, diikuti barang konsumen primer sebesar 2,19%, kesehatan 1,89%, serta transportasi yang turun 0,7%.
Kini, perhatian seluruh pelaku pasar modal tertuju penuh pada pergerakan indeks di area teknikal 5.000–4.907. Ketahanan level ini akan menjadi penentu utama apakah pasar saham Indonesia mampu melakukan pembalikan arah (rebound) atau justru terperosok ke dalam rekor terendah baru.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post