Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor keuangan Indonesia kian masif. Namun, alih-alih menggantikan peran tenaga kerja secara total, adopsi teknologi mutakhir ini justru difokuskan untuk mengotomatisasi pekerjaan administratif, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat proses bisnis. Faktor pengawasan dan pengambilan keputusan akhir tetap berada penuh di tangan manusia.
Isu strategis tersebut mengemuka dalam pemaparan hasil survei HSBC Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026. Temuan survei mencatat tingkat adopsi AI di tanah air telah mencapai angka yang sangat signifikan, di mana 93 persen responden perusahaan di Indonesia menyatakan telah mengintegrasikan AI ke dalam operasional bisnis mereka.
Sinergi AI dan Keputusan Strategis Manusia
Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, mengungkapkan bahwa integrasi AI mampu memangkas waktu proses keuangan secara signifikan, mulai dari pengolahan data mentah hingga rekonsiliasi transaksi yang kompleks.
“AI bisa melakukan analisa, rekomendasi, hingga review, tetapi manusia tetap memegang peran sentral dalam pengambilan keputusan,” ujar Anne saat memaparkan hasil survei di Jakarta.
Berdasarkan data survei HSBC, sebanyak 55 persen perusahaan memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, sementara 34 persen lainnya telah mengoperasikan AI agent untuk mengotomatisasi berbagai rantai proses bisnis. Meski demikian, Anne menekankan pentingnya aspek human intervention, kualitas data, keamanan sistem, serta ketersediaan tenaga ahli agar pemanfaatan AI tetap terkendali dan aman.
Solusi Efisiensi bagi Sektor Logistik dan Teknologi
Manfaat nyata efisiensi AI dirasakan langsung oleh pelaku industri, salah satunya perusahaan teknologi logistik Shipper. Chief Financial Officer (CFO) Shipper, Leonard Pontoh, menjelaskan bahwa AI menjadi solusi ampuh dalam menangani variasi dokumen penagihan dan pembayaran vendor yang memiliki format berbeda-beda.
“AI sangat membantu kami untuk menstandarkan hal-hal yang tidak standar. Dokumen dengan beragam format diolah menjadi laporan seragam, sehingga mempercepat proses rekonsiliasi dan pembayaran,” kata Leonard.
Langkah serupa juga diterapkan oleh perusahaan teknologi informasi PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC). Head of Finance ATIC, Minto Hartati, membeberkan bahwa penerapan AI berhasil mentransformasi tata kelola administrasi keuangan perusahaan yang sebelumnya mengandalkan rekapitulasi manual.
“Dalam sebulan, kami bisa menerima sekitar 10 ribu invoice dari principal maupun vendor. Dulu data harus diketik manual ke Excel, kini seluruh dokumen digital diproses otomatis oleh AI menjadi daftar siap bayar,” ungkap Minto.
Kolaborasi Antardepartemen Jadi Kunci Sukses
Proses transisi menuju otomatisasi berbasis AI tidak terjadi secara instan. Di ATIC, proses pengembangan sistem hingga tahap implementasi penuh memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan, yang membutuhkan koordinasi erat antara tim keuangan dan pengembang sistem.
Hal senada ditegaskan oleh Leonard. Di lingkungan Shipper, penerapan AI merupakan hasil kolaborasi lintas departemen untuk mengidentifikasi hambatan operasional dan menentukan prioritas pengembangan.
“Tim teknologi bertugas membangun kapabilitas AI, sedangkan unit bisnis bertanggung jawab atas penerapannya. Ini adalah upaya kolaboratif sehingga kami merasa aman dan nyaman saat sistem AI siap diluncurkan secara resmi,” pungkas Leonard.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post