Inovasi Pangan Kawasan Bromo: Menyulap Kentang Afkir Jadi Biskuit Darurat Bencana
Masyarakat Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan—wilayah tetangga yang berbatasan langsung dengan kawasan Malang Raya di lereng Pegunungan Tengger—menciptakan langkah terobosan dalam memperkuat ketahanan pangan lokal. Menghadapi ancaman rutin bencana tanah longsor yang kerap memutus akses jalur distribusi, warga setempat kini mengolah hasil panen kentang afkir menjadi biskuit bernutrisi tinggi yang tahan disimpan dalam jangka panjang.
Secara geografis, kawasan pegunungan tersebut memiliki topografi berupa lereng curam dengan curah hujan yang terbilang tinggi. Kondisi ini menempatkan wilayah pemukiman di sekitar kawasan Bromo tersebut dalam potensi risiko bencana alam yang dapat mengisolasi warga dari pasokan kebutuhan pokok luar daerah kapan saja.
Kolaborasi Warga dan Pemberdayaan Komunitas Lokal
Melalui inisiatif Program Kosabangsa 2026, sinergi antara kelompok tani dan Kelompok Ibu PKK Desa Podokoyo dibentuk untuk mengoptimalkan potensi pertanian setempat. Kentang berukuran kecil atau bercacat fisik yang sebelumnya memiliki nilai jual rendah, kini disulap menjadi produk olahan biskuit bernilai tambah serta tahan lama.
Dalam kapasitas produksinya, komoditas ini dikelola secara seimbang antara komersialisasi dan mitigasi bencana. Dari total sekitar 600 kemasan biskuit yang diproduksi setiap bulannya, sebanyak 300 kemasan dialokasikan untuk komoditas pasar, sementara 300 kemasan sisanya disimpan secara khusus sebagai stok cadangan pangan darurat desa.
Ketua Tim Kosabangsa 2026, M. Rifa’i, M.IKom., menegaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk menciptakan kemandirian warga tanpa harus bergantung pada bantuan dari luar saat kondisi krisis terjadi.
“Kami tidak hanya mengajarkan cara mengolah kentang menjadi biskuit, tetapi juga membangun ekosistem ketahanan pangan desa berbasis mitigasi bencana. Dengan memadukan teknologi pengolahan dan manajemen stok pangan, desa tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar saat situasi darurat,” ujar M. Rifa’i.
Manajemen Stok Sistematis dan Persiapan Kontinjensi Bencana
Untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga, pengelolaan gudang penyimpanan diserahkan sepenuhnya kepada Kelompok Ibu PKK. Para kader mendapatkan pelatihan manajemen inventarisasi yang ketat, termasuk penerapan metode first in, first out (FIFO) agar siklus perputaran persediaan biskuit berjalan secara teratur.
Ketua Kelompok Ibu PKK Desa Podokoyo, Sulasih, menyambut positif pendampingan teknis ini. Menurutnya, pemahaman mengenai tata kelola persediaan sangat penting untuk menjamin mutu pangan warga saat masa darurat tiba.
“Kami jadi paham cara menyimpan dan mengelola stok biskuit cadangan agar mutunya tetap terjaga. Kalau nanti terjadi longsor, kami tidak bingung lagi karena sudah punya stok pangan lokal yang bergizi dan tahan simpan untuk warga,” ungkap Sulasih.
Secara kalkulasi awal, ketersediaan cadangan biskuit ini diproyeksikan mampu menopang kebutuhan pangan darurat warga hingga 30 hari penuh. Kendati demikian, tingkat kecukupan tersebut akan terus disesuaikan dengan populasi penduduk, tingkat konsumsi, serta uji kandungan gizi secara berkala. Ke depan, inovasi pengelolaan pangan berbasis komunitas ini siap diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Kontinjensi Bencana Desa guna memperkuat ketangguhan masyarakat di kawasan rawan bencana.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post