Produk UMKM berbasis ekonomi inklusif kembali menunjukkan taji di panggung perdagangan internasional. Batik ciprat hasil karya kelompok penyandang disabilitas asal Kabupaten Blitar, Jawa Timur, berhasil menembus gelaran internasional Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Produk lokal berdaya saing tinggi ini tampil menonjol di Paviliun Pilihan Busan setelah lolos kurasi ketat dalam program Product Placement yang diinisiasi oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Diusung oleh CV Kinasih Abyudaya melalui brand Batik Kinasih, karya seni tekstil ini tidak sekadar menawarkan keunikan estetika, tetapi juga membuktikan transformasi kegiatan seni komunitas menjadi entitas bisnis komersial yang berkelanjutan dan memberdayakan.
Inovasi Teknik Membatik dan Inklusivitas Produksi
Batik Kinasih mengusung teknik batik ciprat, yaitu metode pembuatan motif dengan cara memercikkan cairan pewarna secara bebas di atas permukaan kain. Teknik intuitif ini dirancang khusus agar terjangkau dan adaptif bagi para penyandang disabilitas, sehingga setiap individu dapat berkontribusi aktif dalam rantai produksi sesuai dengan spektrum kemampuan masing-masing.
Pemilik Batik Kinasih, Dwi Mawadati, menjelaskan bahwa proses manufaktur dibagi ke dalam alur kerja yang terstruktur dengan pendampingan intensif. “Ada rekan yang khusus menangani pencipratan warna, ada yang fokus pada tahap pewarnaan kain, dan ada pula yang bertugas dalam proses pencucian akhir. Pembagian kerja ini disesuaikan dengan minat serta kapasitas fisik mereka,” ujar Dwi.
Pendekatan manajemen operasional yang fleksibel ini berhasil mengoptimalkan produktivitas sekaligus menjaga standar mutu produk yang dipasarkan.
Diversifikasi Produk dan Penguatan Pasar Lokal
Berawal dari media terapi dan ekspresi seni, Batik Kinasih bertransformasi menjadi usaha produktif setelah berhasil mengatasi tantangan komersialisasi. Melalui wadah perkumpulan, hasil karya para pembatih dikanalisasi ke pasar untuk menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan bagi para anggotanya.
Langkah diversifikasi produk juga terus digencarkan. Selain kain lembaran, Batik Kinasih kini memproduksi berbagai lini barang jadi seperti tas, mukena, sajadah, hingga sarung. Bahkan, program pemberdayaan ini telah melahirkan kemandirian wirausaha baru, di mana tiga orang perajin dengan kondisi down syndrome kini telah mengelola merek batik mereka sendiri secara mandiri dengan dukungan penuh dari pihak keluarga.
Di tingkat daerah, produk ini mendapat respons pasar yang sangat positif. Penetrasi pasar domestik makin kokoh setelah sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar berkomitmen menggunakan produk Batik Kinasih sebagai pakaian kedinasan resmi.
Model Bisnis Sosial sebagai Key Driver Ekonomi Kreatif
Kehadiran Batik Kinasih di ajang pameran dagang berskala internasional seperti TEI menegaskan potensi besar model bisnis sosial (social enterprise) dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Keberhasilan ini memberikan pesan kuat bagi para pelaku usaha muda dan Generasi Z bahwa membangun bisnis berdaya saing tidak selalu bergantung pada modal finansial yang besar.
Dengan mengoptimalkan keterampilan lokal, ide inovatif, pendampingan yang tepat, serta pemanfaatan saluran pemasaran modern seperti media sosial, keterbatasan operasional dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif. Batik Kinasih membuktikan bahwa integrasi antara profitabilitas bisnis dan dampak sosial (social impact) mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri, berkelanjutan, serta inklusif.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post