MALANG TODAY – Fenomena “salju abadi” di Pegunungan Tengah Papua kini berada di ambang kepunahan total. Berdasarkan riset terbaru Badan Meteorologi Dunia (WMO), lapisan es atau gletser di sekitar Puncak Carstensz kini hanya tersisa sekitar 16 hektare dan diprediksi akan mencair seluruhnya pada akhir 2026 atau awal 2027.
Kondisi ini menandai berakhirnya keberadaan gletser di kawasan khatulistiwa Indonesia. Sebelumnya, gletser di puncak-puncak pegunungan Papua lainnya, seperti Puncak Mandala (Aplim Apom) dan Puncak Trikora (Ettiakup), telah lebih dulu lenyap akibat lonjakan suhu global.
Ancaman Kepunahan Mikroorganisme Unik
Pakar ekologi gletser dari Charles University Republik Ceko, Marie Sabacka, bersama peneliti Universitas Milan, Roberto Ambrosini, menjadi salah satu tim ilmuwan terakhir yang berkesempatan meneliti sisa gletser di East Carstensz pada Maret lalu. Penelitian kolaboratif bersama akademisi Indonesia ini berfokus pada analisis ekosistem es yang kian menyusut.
Meskipun ukurannya terus mengecil, temuan awal menunjukkan bahwa sisa es Carstensz menyimpan kehidupan biologis yang penting. Lapisan es tersebut menjadi habitat bagi komunitas mikroorganisme dan hewan mikroskopis khas yang jarang ditemukan di gletser wilayah lain secara global.
“Hilangnya gletser di Puncak Carstensz berarti hilangnya sebuah ekosistem unik yang belum banyak dipahami. Organisme ini akan punah seiring dengan lenyapnya habitat es mereka,” ujar Sabacka.
Penyusutan drastis ini mencatat sejarah panjang pemanasan global. Sejak tahun 1850, lebih dari 99 persen massa es di kawasan Puncak Carstensz telah mencair. Lenyapnya es bahkan mengubah topografi wilayah secara permanen; Puncak Ngga Pulu yang pada 1936 berada di titik tertinggi kini menyusut dan posisinya digantikan oleh Puncak Carstensz (Nemangkawi) sebagai puncak tertinggi di Oseania.
Dampak Nyata Perubahan Iklim di Papua
Penyebab utama mencairnya salju abadi ini adalah peningkatan suhu atmosfer jangka panjang akibat aktivitas manusia. Suhu yang membubung tinggi menaikkan batas titik beku udara, sehingga presipitasi yang jatuh di pegunungan lebih banyak berupa air hujan ketimbang salju. Fenomena iklim El Nino turut mempercepat proses penyusutan tersebut.
Secara volume, mencairnya gletser Carstensz tidak akan memicu krisis air bersih bagi warga lokal, mengingat curah hujan harian di dataran tinggi Papua relatif tinggi. Hal ini berbeda dengan kondisi di Pegunungan Andes atau Himalaya yang sangat bergantung pada lelehan gletser untuk pasokan air minum.
Namun, fenomena ini menjadi sinyal bahaya bagi ketahanan pangan dan stabilitas iklim lokal. Warga di dataran tinggi Papua kini makin sering menghadapi anomali cuaca, mulai dari kekeringan ekstrem, hujan lebat yang memicu banjir, hingga munculnya embun beku (frost) yang merusak tanaman pertanian warga di kaki pegunungan.
Di samping itu, fenomena ini memperlihatkan bentuk ketidakadilan iklim. Masyarakat adat Papua yang berkontribusi sangat kecil terhadap emisi gas rumah kaca global justru harus menjadi pihak yang menyaksikan perubahan drastis pada tanah adat dan lanskap sakral mereka secara permanen.
Tantangan Ekspedisi dan Kehilangan Arsip Iklim
Gletser Carstensz memiliki posisi vital dalam peta ilmu pengetahuan dunia karena merupakan gletser tropis terakhir di wilayah Pasifik Barat. Lapisan es di Puncak Carstensz sebenarnya menyimpan catatan sejarah iklim masa lalu kawasan Pasifik Tropis.
Namun, lantaran proses pencairan terjadi sangat cepat—baik dari permukaan atas maupun batas bawah es—arsip data iklim purba tersebut musnah sebelum sempat dipelajari secara menyeluruh oleh para peneliti.
Proses pengumpulan data ilmiah di kawasan ini pun penuh dinamika. Tim peneliti menghadapi tantangan logistik yang rumit, proses perizinan yang panjang, cuaca ekstrem berupa hujan tiada henti, hingga faktor keamanan di sekitar kawasan tambang Grasberg. Meski demikian, tim berhasil membawa sampel es dan sedimen beku untuk diproses dan diteliti lebih lanjut di Universitas Indonesia, Jakarta.
Hilangnya es di Puncak Carstensz menjadi peringatan keras bagi dunia bahwa perubahan iklim telah mencapai batas kritis di kawasan khatulistiwa.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post