Seni Menikmati Kekalahan dengan Kepala Tegak dalam “Dignified Losers” Milik mpq
Ada pekerjaan yang tidak kunjung dimulai karena hasilnya sudah lebih dulu dibayangkan harus sempurna. Ada kebiasaan yang jelas bikin capek, tetapi terus diulang karena meninggalkannya terasa lebih menakutkan. Kekalahan kadang hadir dalam bentuk sesederhana itu: hari tetap berjalan, sementara kita masih sibuk bernegosiasi dengan pikiran sendiri. Perasaan rumit dan kontemplatif inilah yang menjadi benang merah utama dalam album kedua unit musik mpq bertajuk Dignified Losers.
Melalui deretan trek di dalamnya, mpq—yang digawangi oleh Alit Djarot dan Daniel Hasudungan—tidak hadir untuk memberikan wejangan heroik tentang cara bangkit dari keterpurukan. Sebaliknya, mereka merajut narasi sonic yang memberi ruang bagi kegagalan, rasa cemas, dan kebiasaan berputar-putar dalam otak sendiri, tanpa terburu-buru membereskannya. Ini adalah potret audio tentang bagaimana manusia merayakan kekalahan dengan tetap menjaga martabatnya.
Dari Ekspektasi Semu Hingga Ketidakpastian yang Mengawang
Album ini dibuka oleh “Not For Anyone Else”, sebuah nomor berketukan pelan namun mantap dengan aransemen yang teramat intim. Lagu ini menjadi representasi visual dari seseorang yang akhirnya berani mengeklik tombol ‘kirim’ setelah berulang kali ragu. Alit Djarot mengungkapkan bahwa lagu ini lahir dari pertarungannya melawan pikiran sendiri. “Gue kalah dengan ‘overthinking’, bahwa semuanya harus ‘perfect’ padahal, ternyata semuanya tinggal dijalanin aja. Kontrol yang bisa dikontrol, dan percaya sama orang yang dicintai,” ungkap Alit.
Lepas dari jeratan eksplorasi rasa cemas di trek pembuka, pendengar dibawa masuk ke dalam eksistensialisme penantian lewat “Someplace Sometime Somehow”. Suasana instrumennya dibuat mengawang, disangga oleh ritme konstan yang menjaga lagu tetap bergulir. Trek ini merekam impresi rutinitas harian yang terus berjalan—bekerja, membalas pesan, menyusun rencana—meski kita sendiri belum tahu seperti apa akhir dari skenario yang sedang diperjuangkan.
Dinamika Keputusan dan Manipulasi Emosi yang Manis
Eksplorasi berlanjut ke nomor yang lebih dinamis, “East & West”. Melodi yang adiktif dan dorongan instrumen yang tegas menyuarakan sebuah urgensi untuk memutus kebiasaan buruk. Namun, impresi tegas ini menghadirkan paradoks menarik saat dipadukan dengan pengakuan Daniel Hasudungan. Menurutnya, lagu ini dan “Goodbye Everest” adalah wujud dorongan mengambil tindakan yang justru paling sulit ia praktikan sendiri. “’East & West’ itu memutus hubungan atau kebiasaan yang kita sudah tidak suka lagi untuk ada di dalamnya. Dan gue orang yang cukup sulit untuk ambil tindakan tegas,” aku Daniel.
Kontras paling memikat dalam album ini justru bersemayam di trek “Into Me”. Di atas kertas, aransemen minimalis dan atmosfer yang terkesan chill menyuguhkan zona nyaman bagi pendengar. Namun, ketenangan itu sebenarnya adalah sebuah topeng emosional. Daniel membeberkan bahwa aransemen santai tersebut merupakan bentuk penyangkalan (denial) atas kondisi mental yang remuk. “Isinya benar-benar full rendah diri. Kesannya terpuruk boleh, tapi mesti tetap cool,” jelasnya. Sebuah kejujuran yang getir: bahwa berpura-pura tenang di hadapan publik adalah pekerjaan yang sangat menguras energi.
Pola kontradiksi serupa juga ditemukan dalam “Wheel of Fortune”. Di balik pergerakan akornya yang manis dan bernuansa melankolis, ada narasi keras tentang keberanian mengambil risiko tinggi (high risk, high return). Alit secara jujur mengakui bahwa ia memilih menyanyikannya ketimbang menyelesaikannya di dunia nyata karena ia adalah tipe personal yang sangat bergantung pada zona nyaman.
Duka Tanpa Kata dan Alasan untuk Kembali Melangkah
Memasuki paruh akhir, “Goodbye Everest”—yang menggaet Nabila Hanina—menghadirkan lanskap audio yang berongga dan mengawang. Di sini, batas antara berjuang dan melepaskan diuji melalui perspektif kedua personel. Puncak kedalaman emosional album ini kemudian bermuara pada “Ode to Grief”. Sebuah lagu duka yang unik karena bagian refrainnya sama sekali tidak memiliki lirik, melainkan diisi oleh balutan paduan suara (choir) abstrak.
“Sampai sekarang belum berhasil atau belum kuat untuk menggambarkan ‘grief’. Akhirnya gue berlindung di belakang abstraksi tanpa lirik,” papar Alit mengenai alasan di balik tiadanya teks di bagian kunci tersebut. Keputusan artistik ini justru menjadi sangat jujur; sebab duka yang teramat dalam sering kali memang tidak sanggup diterjemahkan oleh kata-kata.
Sebagai penutup, trek durasi panjang “Miles & Miles” hadir membakar kembali sisa-sisa harapan. Tatanan musiknya dibangun secara perlahan menuju klimaks, memberikan rasa lega setelah melewati pergulatan batin di lagu-lagu sebelumnya. Daniel menegaskan filosofi di balik lagu penutup ini: “Selama belum mati, apa pun masih bisa dikejar. Minimal kalau kalah, at least sudah usaha.”
Secara keseluruhan, Dignified Losers adalah sebuah karya yang sangat solid justru karena ketidaksempurnaan dan kejujuran para pembuatnya. mpq tidak sedang berusaha menjadi pahlawan yang telah berhasil menaklukkan masalah hidup. Mereka merilis album ini sebagai sesama manusia yang masih berjuang menembus rasa takut, menunda keputusan, dan merawat duka. Sebuah catatan musik yang hangat untuk siapa saja yang sedang belajar menerima kekalahan dengan cara yang paling elegan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post