Ketika Monotoni Menjadi Magis: Perenungan Eksistensial Guernica Club dalam “Mundane”
Ada kalanya rutinitas harian terasa bagai roda komedi putar: terus berputar, penuh warna, namun tak benar-benar membawa kita ke mana pun. Kegelisahan eksistensial akan hidup yang tampak penuh di permukaan namun hampa di dalam inilah yang ditangkap dengan begitu presisi oleh kolektif musik asal Jakarta, Guernica Club. Lewat single terbarunya bertajuk “Mundane”, unit yang kini mantap berformat trio ini mengajak pendengarnya untuk sejenak berhenti, bernapas, dan mempertanyakan ulang makna rasa cukup.
Satu hal yang paling menarik dari trek ini adalah cara sang vokalis, Kenisa Naimor, merajut liriknya. Ketika baris refrain menyuarakan kata “baby”, pendengar awam mungkin akan mengira ini adalah nomor kasmaran atau ratapan untuk kekasih. Namun, di situlah letak kejutan puitisnya. Kata sapaan hangat tersebut sejatinya adalah dialog intim Kenisa dengan dirinya sendiri—sebuah proyeksi psikologis atas upaya merangkul ‘diri’ yang masih terus berjuang memahami kerumitan hidup.
Eksplorasi Downtempo 90-an dan Sentuhan Magis Trip-Hop
Secara musikalitas, “Mundane” menandai pergeseran sonic yang signifikan dibanding rilisan terdahulu mereka. Jika single sebelumnya, “Rewind”, tampil energik mengawinkan ritme UK garage dengan sentuhan pop elektronik yang cerah, maka “Mundane” memilih untuk menyelami lorong yang lebih gelap, kontemplatif, dan berembun.
Tangan dingin produser Kevin Septanto (bassis Elephant Kind) kembali memegang peranan kunci di balik kemudi produksi. Berawal dari sketsa gitar bertempo lambat, Kevin meracik aransemen lagu ini dengan memasukkan DNA musik downtempo era akhir 90-an hingga awal 2000-an. Sentuhan atmosferik khas trip-hop diinjeksi secara halus, berpadu apik dengan ketukan ritme breakbeat yang sengaja diperlambat. Hasilnya? Sebuah lanskap suara minimalis yang hipnotis, memberi ruang bernapas bagi vokal Kenisa untuk merayap dan menetap di benak pendengar.
Rekaman Memori dan Tur Regional “A Nostalgic Movement”
Lirik lagu ini juga bekerja bagai diari visual. Kenisa menarik benang merah dari fragmen pengalaman personalnya—mulai dari rasa lelah usai menerjang malam yang panjang, kenangan personal saat berada di pegunungan Dolomites, hingga bisikan hasrat untuk melarikan diri dan memulai hidup baru di tempat asing. Alih-alih merumuskan konklusi yang klise atau menyodorkan solusi moral, Guernica Club memilih membiarkan pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi tersebut menggantung indah di udara.
Langkah baru ini makin mengukuhkan soliditas Guernica Club yang kini digawangi oleh Kenisa Naimor (vokal), Raynaldo Limpati (gitar), serta Yosua Karo Karo (kibor/synthesizer). Menyambut era baru ini, mereka juga langsung tancap gas menggelar tur regional bertajuk A Nostalgic Movement. Tur lintas negara ini menjadi ajang pembuktian taji mereka secara langsung, menyapa para penggemar mulai dari Batam, Singapura, Kuala Lumpur, hingga bermuara di Medan.
“Mundane” bukan sekadar trek pelengkap katalog; ini adalah sebuah peryataan artistik yang dewasa. Guernica Club berhasil membuktikan bahwa dari rasa jenuh dan monotoni hidup yang kerap kita hindari, justru bisa lahir sebuah karya musik yang sangat berjiwa dan elegan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post