JAKARTA — Seniman Gatot Ganyutz resmi menggelar pameran tunggal pertamanya bertajuk “Contemplature” yang berlangsung di STR Art Gallery, Jakarta Selatan, pada 18 September hingga 2 Oktober 2026. Berawal dari perjalanan ekspedisi personal dari Atambua hingga ujung barat Pulau Jawa, Gatot mentransformasikan pengalaman perenungan di alam terbuka menjadi deretan lukisan abstrak dan instalasi patung yang sarat makna batin.
Nama “Contemplature” sendiri disintesis dari gabungan kata contemplation (kontemplasi) dan nature (alam). Pameran ini menjadi penanda penting peralihan medium berekspresi Gatot, yang sebelumnya lebih banyak dikenal lewat karya fotografi, menuju ranah seni rupa murni yang lebih intuitif.
Refleksi Alam sebagai Penawar Kegelisahan
Perjalanan panjang menelusuri bentang alam Nusantara awalnya tidak dirancang Gatot sebagai proyek penciptaan karya seni. Perjalanan tersebut murni menjadi ruang pencarian penawar atas dinamika dan kegelisahan personal yang ia rasakan. Walau sempat mengabadikan momen melalui lensa kamera, Gatot menyadari adanya keterbatasan medium fotografi dalam menampung kedalaman emosi yang ia alami.
“Setelah melalui proses perenungan lebih lanjut, saya menyadari bahwa pengalaman berkontemplasi di alam memiliki sisi rasa yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap oleh fotografi. Karena itu, kemudian saya mentransformasikan pengalaman tersebut ke dalam bahasa seni lukis dan instalasi patung,” ujar Gatot Ganyutz.
Melalui sapuan cat akrilik dan minyak di atas kanvas, Gatot membiarkan insting serta intuisi tubuhnya bekerja secara spontan. Menurutnya, jika fotografi cenderung merekam fenomena pada permukaan fisik, maka seni lukis memberikan kebebasan mutlak untuk menerjemahkan getaran rasa dan pengalaman spiritual ketika berhadapan dengan keagungan alam.
Penundaan Lima Tahun dan Respons terhadap Era AI
Penyelenggaraan pameran tunggal ini sejatinya telah digagas sejak lima tahun lalu bersama kurator Ahmad Anzieb, namun sempat tertunda akibat pandemi COVID-19. Masa jeda yang cukup panjang ini justru dimanfaatkan Gatot untuk memperdalam konsep artistik, sekaligus merespons fenomena pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Di tengah kelebihan informasi dan distrasi media sosial pada era digital saat ini, Gatot menilai latihan fokus melalui kontemplasi alam menjadi sangat krusial. Proses menyatu dengan alam membantu manusia memperdalam kembali intuisi yang kerap tumpul akibat hiruk-pikuk dunia maya.
Kurator pameran, Ahmad Anzieb, menjelaskan bahwa karya-karya yang dipamerkan memperlihatkan manunggalnya manusia dan alam. Ia menekankan bahwa Gatot tidak memaksakan interpretasi visual tertentu kepada penikmat seni.
“Pameran perdana Gatot Ganyutz lebih difokuskan untuk berbagi pengalaman rasa yang Gatot rasakan, dan ketenangan yang ia dapat saat berkontemplasi di alam ke dalam sebuah ruang pameran seni,” terang Ahmad Anzieb. Ia menambahkan bahwa publik memiliki kebebasan penuh dalam menafsirkan setiap karya berdasarkan pengalaman empiris masing-masing.
Dukungan Galeri bagi Generasi Seni Kontemporer
Penyelenggaraan pameran ini sekaligus menegaskan komitmen STR Art Gallery dalam memperluas jangkauan dukungannya terhadap ekosistem seni rupa nasional. Galeri yang selama ini bereputasi dalam konservasi karya-karya maestro klasik (Old Master) Indonesia ini mulai membuka pintu bagi seniman kontemporer yang memiliki kedalaman konseptual dan relevansi kontekstual.
Direktur STR Art Gallery, Brandon, mengungkapkan bahwa Gatot berhasil lolos seleksi kuratorial yang ketat di antara banyak seniman yang mengajukan kolaborasi. Pihaknya menilai karya Gatot memiliki orisinalitas tinggi dalam merespons persoalan krisis hubungan manusia dengan alam di zaman modern.
“Karya-karyanya dinilai tidak hanya memiliki corak estetika visual yang sesuai dengan kecenderungan yang berkembang dalam medan seni rupa saat ini, tetapi juga memiliki relevansi kontekstual dengan berbagai persoalan kehidupan dewasa ini,” kata Brandon.
Ia berharap kehadiran pameran “Contemplature” dapat memberi warna baru sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem seni rupa di Indonesia, sembari mengajak masyarakat luas untuk sejenak berhenti dan merenungkan kembali hakikat hubungan mereka dengan alam sekitar.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post