MALANG TODAY – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat melanda sejumlah wilayah di Tanah Papua sepanjang tahun 2026. Provinsi Papua Selatan kini menjadi episentrum utama penyebaran titik api, yang diduga kuat terpacu oleh masifnya pembukaan lahan skala besar untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) serta kawasan konsesi perkebunan.
Dampak karhutla ini memicu krisis udara bersih yang parah. Selama berbulan-bulan, kabut asap pekat tidak hanya melumpuhkan aktivitas harian warga, tetapi juga memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mengganggu penerbangan di sejumlah bandara vital, hingga menghentikan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Sebaran asap terpantau terus meluas mengikuti pergerakan angin. Wilayah terdampak meliputi Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya, Maluku, Maluku Utara, hingga wilayah Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara.
Warga Merauke Keluhkan Krisis Air dan Kesehatan
Kondisi paling memprihatinkan dirasakan oleh warga di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Yonas, warga Distrik Ilwayab, mengungkapkan bahwa kabut asap pekat membuat warga mulai terserang batuk-batuk dan sesak nafas. Situasi kian memburuk akibat krisis air bersih yang memaksa warga menempuh perjalanan hingga delapan kilometer hanya untuk mendapatkan air pasokan harian.
“Asap masih tebal, banyak yang mulai batuk karena polusi. Air bersih juga sudah sangat susah didapat. Tahun ini masyarakat betul-betul setengah mati,” ujar Yonas saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026).
Kondisi serupa dialami Vincen, warga Distrik Jagebob. Menurutnya, jarak pandang di wilayahnya terdistorsi hingga menyisakan sekitar 200 meter saja. Degradasi lingkungan dan pembukaan hutan masif dinilai membuat lonjakan suhu udara terasa kian ekstrem, bahkan di malam hari.
“Dulu meski musim kering, udara malam masih sejuk karena hutan rimbun. Sekarang hutan sudah tidak ada, suhu panas malam hari sangat menyiksa. Kebun pisang, karet, dan sagu milik kami juga ikut terbakar saat api meluas,” tutur Vincen.
Pembelajaran Jarak Jauh dan Lumpuhnya Penerbangan
Memburuknya Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) memaksa Dinas Pendidikan di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Manokwari dan Mimika, menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa PAUD hingga SMA/SMK guna meminimalisasi paparan polusi udara pada anak-anak.
Fasilitas kesehatan setempat catat adanya lonjakan signifikan pada pasien gangguan pernapasan. Dokter Joice Loisia Salossa dari Puskesmas Sowi IV Manokwari menyebutkan, pihak Puskesmas telah menangani setidaknya 231 pasien ISPA sejak kurun waktu Agustus hingga Oktober, angka tertinggi yang pernah tercatat pascapandemi COVID-19.
Tak hanya sektor pendidikan dan kesehatan, sektor transportasi udara juga mengalami kelumpuhan. Di Bandara Rendani Manokwari dan Bandara Internasional Dortheys Hiyo Eluay Sentani Jayapura, belasan jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan dan ditunda karena jarak pandang yang jauh di bawah standar keselamatan penerbangan.
Indikasi Titik Api di Area Konsesi dan PSN
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, indikasi luas karhutla di wilayah Papua sepanjang 2026 melampaui angka 30.000 hektare, dengan Papua Selatan menyumbang area terdampak paling luas yakni mencapai 25.838,53 hektare. Angka tersebut melonjak hingga tiga kali lipat jika dibandingkan periode tahun 2025.
Pantauan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) mencatat ada sebanyak 8.324 titik panas (hotspot) di Papua sejak Januari hingga Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, ribuan titik api terdeteksi berada di dalam kawasan proyek pangan nasional (food estate), kawasan perkebunan tebu (energy estate), serta area konsesi kelapa sawit dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan.
Franky Samperante dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat menegaskan, kebakaran yang terjadi tahun ini menunjukkan pola sistematis dari aktivitas pengolahan lahan.
“Kami menemukan sisa vegetasi dan kayu dari hasil pembukaan lahan ditumpuk dalam petak-petak tertentu sebelum dibakar, dan pola kebakaran mengikuti lokasi tumpukan tersebut. Korporasi dan pihak terkait harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan ini,” tegas Franky.
Langkah Pemadaman dan Tanggap Darurat
Merespons krisis ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Selatan menyatakan status Tanggap Darurat Bencana Karhutla telah ditetapkan di Kabupaten Boven Digoel dari tanggal 8 hingga 21 Oktober. Namun, proses pemadaman darat masih menemui kendala berat akibat keterbatasan akses geografis ke distrik-distrik terisolasi.
Pemerintah Daerah Papua Barat juga memperpanjang status tanggap darurat dan berencana mempercepat operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk meredam titik api serta menyapu kabut asap pekat yang masih menyelimuti wilayah tersebut.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post