MOSKOW — Di tengah sengitnya kompetisi global dalam pengembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), diskursus baru muncul mengenai sejauh mana teknologi ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi peradaban. Dunia kini tak lagi sekadar menyoroti siapa yang memiliki superkomputer tercepat atau model AI terbesar, melainkan negara mana yang paling mampu menjadikan teknologi tersebut relevan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Perspektif kritis ini ditegaskan oleh akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia (UI), Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, saat hadir sebagai pembicara dalam rangkaian Global Digital Forum II 2026 yang berlangsung di Moskow, Rusia. Ajang berskala internasional tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 pejabat tingkat menteri, serta perwakilan dari 50 perusahaan teknologi terkemuka yang melibatkan partisipasi lebih dari 100 negara.
Pelajaran Inovasi dari Ekosistem Skolkovo
Di sela-sela agenda forum, Devie bersama delegasi Indonesia meninjau langsung Skolkovo Innovation Center, sebuah kawasan pusat inovasi terpadu di Rusia yang mengintegrasikan riset ilmiah, pendidikan tinggi, pengembangan teknologi, dan sektor industri.
Berdasarkan catatan resmi Skolkovo Foundation, ekosistem teknologi ini telah menampung lebih dari 5.000 perusahaan rintisan (startup) residen hingga Juli 2025. Performa ekonomi kawasan ini tercatat sangat signifikan, dengan total pendapatan perusahaan residen mencapai 704,3 miliar rubel sepanjang tahun 2024.
Devie menggarisbawahi bahwa keberhasilan Skolkovo mencerminkan krusialnya pembangunan ekosistem yang terintegrasi demi menyokong inovasi. Namun, ia mengingatkan bahwa tolok ukur kemajuan teknologi tidak boleh melepaskan faktor kemanusiaan.
“Skolkovo memberikan contoh konkret bagaimana pengetahuan, teknologi, dan industri dapat dipertemukan secara terpadu. Namun, tantangan utama bagi setiap negara saat ini adalah memastikan inovasi yang lahir benar-benar memahami kebutuhan manusia. Teknologi memang menciptakan kemungkinan, tetapi masyarakatlah yang menentukan kebermaknaannya,” ujar Devie.
Pergeseran Paradigm: Dari Kapasitas Komputasi ke Konteks Lokal
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity?”, Devie memaparkan pergeseran konseptual dalam persaingan AI global, yaitu pergeseran dari fokus kapasitas komputasi (compute) menuju pemahaman konteks (context).
Investasi pada infrastruktur seperti pusat data dan pemrosesan model AI diakui tetap krusial. Kendati demikian, keunggulan sejati sebuah teknologi akan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam memahami bahasa, kebudayaan, sistem nilai, serta dinamika sosial di tengah masyarakat tempat teknologi itu diterapkan.
“AI bisa saja sangat cerdas secara global, tetapi berpotensi keliru saat memahami kebutuhan lokal. Oleh karena itu, negara-negara berkembang tidak harus selalu memulai pengembangan teknologi dari nol. Kita dapat mengambil langkah yang lebih strategis melalui pendekatan Adapt, Align, Apply—sesuaikan dengan bahasa kita, selaraskan dengan nilai-nilai kita, dan terapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata,” jelasnya.
Mendorong Transformasi dari Konsumen Menjadi Kontributor
Lebih lanjut, Devie menekankan bahwa keberhasilan adopsi kecerdasan artifisial di suatu negara tidak boleh hanya diukur dari angka statistik pengguna atau kecepatan penetrasi aplikasinya semata. Kunci utamanya terletak pada peningkatan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi, berkontribusi, hingga menciptakan solusi berbasis teknologi secara mandiri.
“Jangan hanya bertanya berapa banyak masyarakat yang menggunakan AI. Tanyakan juga berapa banyak dari mereka yang mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas, menyelesaikan masalah sosial, dan menciptakan peluang ekonomi baru. Kita harus tergerak untuk bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi kontributor inovasi,” pungkas akademisi yang juga penulis buku Penelitian Digital Sosial: Menelaah Kehidupan Masyarakat di Era Teknologi Informasi tersebut.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post