Sentuhan Mistik Afghanistan di Onstage Paris Fashion Week
Panggung pameran busana kelas dunia kembali disihir oleh keanggunan narasi budaya dan keberlanjutan. Desainer kenamaan asal Uruguay, Gabriela Hearst, memukau publik panggung runway Paris Fashion Week melalui koleksi busana wanita untuk musim semi/panas. Kali ini, ia menghadirkan jajaran busana yang sarat nilai seni tinggi, memadukan jaket patchwork bermotif ikat yang memikat serta gaun-gaun berhiaskan sulaman cermin tradisional shisha. Koleksi bernuansa etnik ini terinspirasi langsung dari kekayaan kriya Afghanistan dan dikerjakan secara khusus oleh para perajin perempuan berbakat dari negara Asia Tengah tersebut.
Dalam pergelaran yang berlangsung anggun di taman melingkar Petit Palais—museum seni bersejarah peninggalan Paris Exposition 1900—para model melangkah elok di atas lantai mosaik berwarna-warni. Kehadiran selebriti papan atas seperti aktris Katie Holmes turut menambah kemewahan atmosfer barisan depan panggung mode tersebut.
22 Juta Muse: Penghormatan untuk Perempuan Afghanistan
Untuk mewujudkan visi artistiknya, label independen Gabriela Hearst berkolaborasi dengan organisasi nirlaba Turquoise Mountain guna memberdayakan komunitas perajin di Afghanistan. Setiap tamu undangan menerima risalah khusus yang merangkum sejarah tekstil tradisional serta perjalanan sejarah kawasan tersebut sejak 1901 hingga era modern. Secara emosional, Hearst mempersembahkan karya ini untuk kaum perempuan Afghanistan yang ia sebut sebagai “22 juta muse”-nya.
“Proses riset dan pembuatan koleksi ini sungguh luar biasa mendalam, terutama ketika kita benar-benar mendedikasikannya untuk para perempuan di sana,” ujar Gabriela Hearst. Ia menegaskan bahwa meski situasi kehidupan di tempat seperti Afghanistan terasa berat dan penuh tantangan, dari tangan-tangan terampil para perajinnya tetap mampu tercipta karya seni yang sangat indah dan puitis.
Eksplorasi warisan budaya ini tampak mendetail hingga ke elemen terkecil. Lukisan karya perajin Afghanistan diabadikan sebagai ornamen perhiasan dan kancing pada blazer berbahan linen. Sebagai penutup pergelaran yang dramatis, jajaran gaun putih berhias sulaman buah delima—buah nasional Afghanistan—tampil memikat sebagai simbol kehidupan dan ketahanan.
Manifesto Fashion Berkelanjutan Tanpa Sintetis
Bukan Gabriela Hearst namanya jika tidak menyisipkan pesan kuat tentang kelestarian lingkungan. Komitmen sang desainer terhadap sustainable fashion diwujudkan lewat inovasi material yang cerdas. Salah satu kreasinya yang mencuri perhatian adalah trench coat berbahan sutra yang dilapisi resin alami berbasis air. Teknik ini berhasil meniru efek tahan air khas bahan nilon tanpa harus mengandalkan kain sintetis.
Hearst secara konsisten menyerukan agar industri mode global mulai meninggalkan penggunaan nilon dan poliester, dua jenis kain turunan petrokimia yang marak digunakan akibat harganya yang murah. Langkah ini kian krusial di tengah ancaman perubahan iklim global yang nyata.
“Dampak perubahan iklim sudah terasa di mana-mana, termasuk di kampung halaman saya di Uruguay, di mana cuaca kini makin sulit diprediksi,” tutur perancang yang pernah menjabat sebagai Direktur Kreatif rumah mode Chloé tersebut. Ia mengingatkan industri mode agar tidak lupa bahwa krisis lingkungan saat ini merupakan dampak langsung dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Sejak didirikan pada tahun 2015, brand Gabriela Hearst terus menarik perhatian raksasa mode dunia, termasuk LVMH Luxury Ventures yang telah memiliki saham minoritas di label ini sejak awal 2019. Dengan pendekatan estetika yang matang, komitmen etis yang kuat, serta narasi budaya yang kaya, pergelaran ini makin menegaskan posisi Hearst sebagai salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam lanskap mode mewah modern.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post