JAKARTA — Lonjakan adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pesatnya ekspansi ekonomi digital di Tanah Air memicu lonjakan permintaan pasokan listrik secara signifikan. PT PLN (Persero) memproyeksikan kebutuhan daya listrik untuk sektor pusat data (data center) di Indonesia bakal menembus angka fantastis, yakni mencapai 25.297 megawatt (MW) pada tahun 2034.
Guna merespons gelombang permintaan tersebut, BUMN ketenagalistrikan ini terus memperkuat kesiapan infrastruktur pasokan daya. Strategi ini krusial untuk memastikan ekosistem digital nasional tetap memiliki daya saing tinggi di tingkat regional maupun global.
Proyeksi Lonjakan Kapasitas dan Geser Peran BUMN
Dalam ajang Data Centre Power Forum pada gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9/2026), Executive Vice President (EVP) Niaga dan Pemasaran PLN, Nayusrizal, membeberkan peta jalan pertumbuhan kapasitas industri pusat data di Indonesia. Kapasitas IT terpasang yang diperkirakan berada di kisaran 580 MW pada 2026 diproyeksikan melonjak drastis menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030, sebelum akhirnya menyentuh puluhan ribu megawatt pada 2034.
“Peran kami sekarang bukan lagi sekadar menjual listrik. Peran kami adalah memungkinkan (enabler) pertumbuhan infrastruktur digital,” tegas Nayusrizal saat membawakan paparan bertajuk “Powering Indonesia’s AI and Digital Economy: What Can the Grid Really Deliver: Aligning Data Centre Expectations with System Capability”.
Konsentrasi Wilayah dan Ekspansi Luar Jawa
Hingga saat ini, perseroan mencatat telah melayani 159 pelanggan data center dengan total daya tersambung mencapai sekitar 1.990 megavolt ampere (MVA). Meski demikian, peta sebaran konsumen infrastruktur digital ini masih menunjukkan ketimpangan wilayah yang sangat dominan.
Sekitar 99 persen dari total kapasitas terpasang tersebut masih terkonsentrasi di sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (JAMALI), terutama melingkupi kawasan Jakarta Raya, Jawa Barat, dan Banten. Namun, PLN mengamati tren baru di mana para pelaku industri mulai mengarahkan ekspansinya ke luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pergeseran geografis ini menuntut PLN mempercepat penyiapan jaringan transmisi, gardu induk, hingga keandalan sistem pembangkitan secara merata di kawasan-kawasan pertumbuhan baru tersebut.
Pendekatan Koordinasi Awal dan Tuntutan Energi Hijau
Menurut analisis PLN, operasional bisnis pusat data tidak hanya bergantung pada kuantitas daya semata. Pengembang dan operator data center menuntut standar keandalan jaringan tingkat tinggi, kecepatan koneksi, kepastian skema komersial, serta jaminan akses terhadap sumber energi hijau (green energy) sebagai bagian dari pemenuhan target keberlanjutan (ESG).
Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut tanpa mengganggu keandalan sistem kelistrikan nasional, PLN mengusung strategi early alignment atau koordinasi sejak tahap perencanaan paling awal bersama para investor.
“Koordinasi sejak awal memungkinkan kami menyelaraskan kebutuhan daya dengan kesiapan sistem. Dengan begitu, penyediaan listrik dapat direncanakan lebih cepat, tepat, dan efisien,” pungkas Nayusrizal.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post