DEPOK — Potensi pertumbuhan pasar modal Indonesia, khususnya instrumen reksa dana, masih membentang sangat luas. Saat ini, total dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana nasional mencatatkan angka sekitar Rp 998 triliun. Nilai tersebut terbilang masih sangat minim karena baru menyerap sekitar 10 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang telah menembus Rp 9.745 triliun.
Untuk mengoptimalkan ceruk pasar yang besar ini, sinergi antara pelaku industri keuangan dan akademisi terus diperkuat. Langkah konkret ditunjukkan oleh PT Generasi Paham Investasi (Ayovest) bersama Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia (PWMII) dan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) melalui gelaran edukasi bertajuk “PWMII Goes to Campus x Ayovest” di Auditorium Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat (25/9/2026).
Agenda kolaboratif bersama Program Studi Administrasi Keuangan dan Perbankan Sekolah Vokasi UI serta HIMAKUPA ini menyoroti pentingnya penguatan literasi keuangan, optimalisasi reksa dana syariah, hingga penyiapan SDM terampil untuk mengisi peluang karier di industri pasar modal.
Peluang Pasar Besar dan Potensi Investor Muda
Direktur Ayovest, Sonny Afriansyah, mengungkapkan bahwa selain ruang penetrasi DPK yang masih longgar, keterlibatan kelompok usia muda dalam pasar modal domestik menorehkan tren positif. Data menunjukkan bahwa demografi pelajar dan mahasiswa kini sudah menyumbang 10,86 persen dari total investor pasar modal tanah air.
Guna menangkap potensi tersebut, Ayovest menghadirkan kemudahan akses transaksi reksa dana berbasis instrumen syariah secara menyeluruh (full pledged sharia). Skema transaksi dirancang transparan mulai dari persetujuan akad wakalah bil ujrah di dalam aplikasi hingga penempatan dana pada rekening penampung syariah khusus.
“Banyak mahasiswa merasa investasi butuh modal besar, padahal reksa dana bisa dimulai dari Rp 10.000. Yang lebih penting dari nominalnya adalah pemahaman dan kebiasaan. Bagi investor yang ingin berinvestasi sesuai prinsip syariah, kami memastikan prosesnya syariah dari awal hingga akhir,” terang Sonny.
Diversifikasi Portofolio dan Edukasi Risiko Reksa Dana Syariah
Dari sudut pandang pengelola investasi, Direktur PT Majoris Asset Management sekaligus Ketua Panitia Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) APRDI 2026, Gresia Kusyanto, menegaskan bahwa instrumen syariah menawarkan diversifikasi portofolio yang aman dan terukur bagi investor pemula.
Terdapat empat instrumen utama yang dapat dimanfaatkan investor, yakni reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Pemilihan produk wajib diselaraskan dengan profil risiko, jangka waktu, dan tujuan keuangan masing-masing individu, sejalan dengan program kampanye Pintar Reksa Dana yang dicanangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Reksa dana syariah memberi pilihan bagi investor yang ingin menyelaraskan investasinya dengan prinsip syariah, tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian. Melalui program sosialisasi dan edukasi APRDI, kami ingin generasi muda mengenal produk ini sejak dini, termasuk membiasakan diri membaca prospektus dan memahami risikonya,” ujar Gresia.
Kebutuhan Talenta Bersertifikasi di Industri Pengelolaan Investasi
Seiring pesatnya ekspansi industri keuangan, kebutuhan akan tenaga profesional bernilai tambah tinggi semakin mendesak. Division Head Business Development & Product PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) yang juga Anggota Wakil Ketua Bidang III PWMII, Widi Aulia, menggarisbawahi pentingnya legalitas keprofesian di pasar modal.
Setiap praktisi di sektor ini—mulai dari kualifikasi Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD) hingga Wakil Manajer Investasi (WMI)—diwajibkan mengantongi sertifikasi resmi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang terdaftar dan diawasi langsung oleh OJK.
“Industri pengelolaan investasi membutuhkan talenta muda yang kompeten dan berintegritas. Profesi seperti Wakil Manajer Investasi menuntut sertifikasi dan pemahaman regulasi, dan bekal itu bisa dipersiapkan sejak di bangku kuliah,” tutur Widi.
Inisiatif strategis ini mendapat sambutan hangat dari pihak akademisi. Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi UI, Badrul Munir, Ph.D., serta Ketua Program Studi Administrasi Keuangan dan Perbankan, Wahyu Nofiantoro, menilai kolaborasi lintas sektor antara regulator, pelaku industri, dan perguruan tinggi menjadi kunci utama dalam mempercepat inklusi keuangan nasional sekaligus mencetak SDM siap kerja di sektor finansial.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post