MALANG TODAY – Ancaman penyakit jantung kian nyata dan tidak lagi melulu mengincar kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai mengintai usia produktif di kawasan Malang Raya. Tingginya angka kasus penyakit mematikan ini berimbas langsung pada lonjakan beban pembiayaan kesehatan nasional yang menembus angka fantastis puluhan triliun rupiah.
BPJS Kesehatan mencatat, sepanjang rentang 2015 hingga 2025, pembiayaan untuk penanganan 172,3 juta kasus penyakit jantung dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah menelan anggaran lebih dari Rp100 triliun. Khusus pada tahun 2025 saja, tercatat ada 29,8 juta kasus penyakit jantung yang membutuhkan alokasi dana hingga Rp17,4 triliun.
Ancaman Usia Produktif dan Pentingnya Deteksi Dini
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang, Hernina Agustin Arifin, menegaskan bahwa fenomena pergeseran usia penderita penyakit jantung harus menjadi alarm kewaspadaan bagi warga Kota Malang, Kabupaten Malang, maupun Kota Batu.
“Program JKN hadir memberikan perlindungan ketika peserta membutuhkan pelayanan kesehatan. Namun, kami tentu berharap masyarakat tidak menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatannya,” ujar sosok yang akrab disapa Ina tersebut pada Rabu (30/9/2026).
Ina mengimbau warga Malang Raya untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) secara konsisten. Langkah pencegahan mendasar dapat dimulai dari menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, menghentikan kebiasaan merokok, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Sebagai bentuk pemeliharaan kesehatan preventif, seluruh peserta JKN berusia 15 tahun ke atas diimbau memanfaatkan fasilitas Skrining Riwayat Kesehatan yang diakses gratis satu kali dalam setahun. Layanan ini bertujuan memetakan potensi risiko penyakit kronis sebelum berlanjut ke tahap yang lebih parah.
“Skrining dapat dilakukan dengan sangat mudah melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan PANDAWA di nomor 08118165165, maupun langsung di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar,” jelas Ina.
Melalui proses skrining tersebut, peserta cukup menjawab serangkaian pertanyaan mengenai gaya hidup, riwayat penyakit pribadi, serta riwayat kesehatan keluarga. Hasil analisisnya akan menjadi pijakan awal bagi warga untuk mengintervensi potensi penyakit.
“Semakin dini risiko diketahui, semakin besar kesempatan untuk melakukan perubahan gaya hidup maupun mendapatkan tindak lanjut medis yang tepat. Menjaga jantung harus dimulai sejak kita masih sehat,” tegasnya.
Terlindungi JKN di Tengah Badai Serangan Jantung
Manfaat proteksi JKN dirasakan langsung oleh Hadi Susila (61), warga yang kini harus berjuang memulihkan kondisi fisiknya pascaserangan jantung mendadak. Ia mengaku sempat tidak percaya bahwa gejala ringan yang dirasakannya ternyata merupakan indikasi kelainan fatal pada organ jantungnya.
“Sebelumnya saya tidak menyangka akan mengalami serangan jantung. Ketika dokter menyampaikan kondisi saya, tentu ada rasa kaget dan khawatir. Alhamdulillah, saya segera mendapatkan penanganan dan selama menjalani perawatan menggunakan JKN, pelayanan yang saya terima berjalan dengan sangat baik,” cerita Hadi.
Pengalaman berharga mendampingi masa-masa kritis tersebut membuka mata Hadi dan keluarganya akan krusialnya deteksi medis sejak dini serta kepemilikan jaminan kesehatan yang aktif.
“Sekarang saya semakin sadar bahwa kesehatan tidak boleh dianggap sepele. Kalau ada keluhan, sebaiknya segera diperiksakan. Saya sangat bersyukur kepesertaan JKN saya aktif, sehingga saat kondisi darurat seperti ini datang, kami sekeluarga bisa lebih fokus pada pengobatan dan pemulihan tanpa terbebani pikiran finansial,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post