JAKARTA — Paradigm penanganan gangguan penglihatan di Indonesia mulai bergeser. Operasi katarak tidak lagi sekadar berfokus menghilangkan sensasi penglihatan buram atau berkabut, melainkan pada pencapaian kualitas penglihatan (quality of vision) yang mendukung mobilitas serta gaya hidup pasien secara personal.
Katarak saat ini masih menjadi ancaman utama kesehatan mata di Indonesia maupun global. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 94 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat atau kebutaan akibat katarak. Di dalam negeri, katarak tercatat sebagai penyebab utama 81,2 persen kasus kebutaan pada populasi berusia di atas 50 tahun. Bahkan, dari 23,35 juta peserta skrining program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026, sebanyak 2,95 juta orang teridentifikasi mengalami masalah penglihatan.
Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals & Clinics, Dr. Milzan Murtadha, SpM, menjelaskan bahwa pergeseran fokus penanganan ini didorong oleh tetap tingginya tingkat aktivitas masyarakat lansia saat ini, mulai dari bekerja, membaca, menggunakan perangkat digital, hingga mengemudikan kendaraan.
“Tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari,” ujar Dr. Milzan Murtadha, SpM dalam acara diskusi media bertajuk Dari Clear Vision Menuju Quality of Vision, Memahami Perkembangan Penanganan Katarak di Jakarta Pusat.
Jangan Menunggu Hingga Mengganggu Aktivitas
Katarak merupakan kondisi medis di mana lensa alami mata yang semula jernih menjadi keruh. Gejala yang dialami pasien meliputi penglihatan berkabut, mata mudah silau, hingga perubahan persepsi warna yang cenderung kekuningan. Meskipun penuaan merupakan faktor risiko paling umum, kondisi lain seperti diabetes, riwayat cedera mata, penggunaan obat-obatan tertentu, dan faktor genetik turut memicu munculnya katarak.
Dr. Milzan Murtadha, SpM mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan mata hingga gejala yang dirasakan mengganggu tingkat produktivitas harian. Menurutnya, indikator utama penanganan katarak bukanlah seberapa parah kekeruhan semata, melainkan sejauh mana kondisi tersebut menurunkan fungsi penglihatan pasien.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya katarak, tetapi sejauh mana kondisi tersebut sudah memengaruhi fungsi penglihatan dan aktivitas pasien,” jelasnya.
Presisi Teknologi Laser dan Ragam Pilihan Lensa Intraokular
Perkembangan teknologi kedokteran mata modern kini menawarkan tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dalam prosedur bedah katarak. Salah satu metode mutakhir yang digunakan adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS). Teknologi berbasis laser ini dapat membantu dokter membuat insisi dan bukaan kapsul lensa secara presisi, sekaligus memecah lensa yang keruh sehingga penggunaan energi ultrasonik dapat diminimalkan.
Selain teknik pembedahan, teknologi lensa tanam atau Intraocular Lens (IOL) juga mengalami kemajuan pesat guna menyesuaikan kebutuhan penglihatan pasien:
- Lensa Multifokal: Mendukung penglihatan jarak jauh, menengah, dan dekat secara simultan untuk mengurangi ketergantungan pada kacamata.
- Lensa EDOF (Extended Depth of Focus): Memberikan rentang fokus optimal, khususnya untuk jarak menengah seperti saat menatap layar komputer atau panel instrumen kendaraan.
- Lensa Monofokal: Memiliki satu titik fokus utama (umumnya jarak jauh), di mana pasien tetap memerlukan kacamata untuk aktivitas jarak dekat.
- Lensa Toric: Dirancang khusus bagi pasien yang memiliki riwayat astigmatisme (mata silinder), dan dapat dikombinasikan dengan jenis lensa monofokal, EDOF, maupun multifokal.
Meski pilihan teknologi semakin beragam, penentuan jenis lensa tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dokter spesialis mata harus melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi kornea, retina, saraf mata, hingga pola aktivitas harian pasien sebelum mengambil keputusan tindakan.
“Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien. Teknologi memberi semakin banyak pilihan, tetapi pusat dari seluruh proses tetap pasien. Yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat kembali menggunakan penglihatannya untuk menjalani aktivitas dengan baik sesuai kondisi dan kebutuhannya,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post