Pemerintah Indonesia optimistis mampu mengunci target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen atau bahkan lebih dalam beberapa tahun ke depan. Kunci utama pencapaian tersebut terletak pada ekspansi terukur di sektor perumahan, infrastruktur digital, energi terbarukan, serta adopsi teknologi hijau yang dijalankan secara selaras dengan perlindungan lingkungan.
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Perubahan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa akselerasi ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarian alam. Strategi besar ini mengusung prinsip growth with balance (pertumbuhan yang seimbang) demi menjaga keberlanjutan ekosistem, khususnya kawasan hutan Indonesia.
Sektor Properti dan Perumahan Sebagai Motor Utama
Dalam keterangannya, Hashim menyoroti sektor perumahan dan konstruksi sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi paling potensial. Sektor ini memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok industri yang sangat luas, sehingga mampu memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian nasional.
“Sektor properti, perumahan, dan konstruksi terhubung langsung dengan sekitar 185 industri atau sektor ekonomi lainnya, mulai dari furnitur, kelistrikan, kabel, semen, hingga kayu. Ini adalah salah satu pendorong utama pertumbuhan kita,” ujar Hashim.
Saat ini, kontribusi sektor konstruksi dan perumahan baru menyumbang sekitar 14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk ekspansi. Hashim membandingkan kondisi ini dengan Tiongkok, di mana sektor properti dan konstruksinya sempat menyumbang hingga 25 persen terhadap PDB selama hampir 35 tahun hingga 2018.
Konektivitas Digital dan Kecerdasan Buatan
Selain sektor riil, pemerintah juga membidik pilar ekonomi digital sebagai fondasi pertumbuhan masa depan. Akses internet yang terjangkau, pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta pembangunan pusat data (data center) dinilai bakal menjadi penggerak ekonomi baru.
Mengutip kajian dari McKinsey dan Bank Dunia, Hashim menjelaskan bahwa setiap peningkatan 10 persen populasi yang mendapatkan akses internet terjangkau berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 0,7 persen hingga 1,3 persen. Potensi ini sangat besar mengingat saat ini baru sekitar 15 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses internet stabil dan terjangkau secara konsisten.
“Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang kuat di era AI dan data center, didukung oleh demografi usia muda serta keberagaman sumber daya energi,” tambahnya.
Transisi Energi Terbarukan dan Komitmen Hijau
Melesatnya kebutuhan energi untuk menopang infrastruktur digital dan industri kecerdasan buatan menuntut ketersediaan pasokan listrik berbasis ramah lingkungan. Guna menjawab tantangan tersebut, pemerintah telah menyiapkan langkah strategis berupa program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai (BESS).
Hashim menegaskan kembali bahwa integrasi antara perumahan, ekonomi digital, energi terbarukan, ketahanan pangan, dan teknologi hijau akan menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia untuk melaju ke tingkat pertumbuhan 8 persen tanpa merusak kelestarian lingkungan.
“Saya sangat optimistis Indonesia akan bersinar. Perekonomian kita akan tumbuh pesat melalui strategi yang seimbang,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post