Industri halal nasional mengukuhkan posisinya sebagai fondasi utama perekonomian Indonesia. Pada semester pertama tahun 2026, sektor manufaktur halal mencatatkan kontribusi fantastis sebesar Rp1.102 triliun (sekitar 61,60 miliar dolar AS). Angka ini menyumbang lebih dari separuh, atau tepatnya 50,55 persen, dari total nilai output industri manufaktur non-migas nasional.
Capaian impresif ini menegaskan bahwa produk berbasis prinsip syariah tidak lagi sekadar menjadi pemenuh kebutuhan keagamaan, melainkan telah bertransformasi menjadi mesin penggerak ekonomi riil. Tingginya angka kontribusi tersebut didukung kuat oleh basis konsumen domestik yang masif, di mana populasi Muslim Indonesia diperkirakan mencapai 252 juta jiwa dari total 280 juta penduduk. Pada periode yang sama, total konsumsi rumah tangga Muslim di Tanah Air menyentuh angka Rp5.974,9 triliun.
Mesin Utama Pertumbuhan Industri Non-Migas
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa dominasi sektor manufaktur halal menunjukkan peran strategisnya yang semakin vital dalam menopang ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
“Industri halal kian membuktikan peran strategisnya terhadap perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap industri manufaktur non-migas telah menembus Rp1.102 triliun, atau mencakup sekitar 50,55 persen dari total sektor tersebut,” ujar Agus dalam keterangannya di Kawasan ICE BSD, Tangerang Selatan.
Agus menambahkan, struktur pasar domestik yang sangat besar serta basis manufaktur nasional yang kian matang menjadi fondasi utama yang mendorong efisiensi dan daya saing produk halal lokal. Menurutnya, potensi ini merupakan modal berharga bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan industri dalam negeri.
Perluasan Ekspansi Pasar Ekspor dan Strategi Efisiensi
Kinerja positif industri halal Indonesia tidak hanya bersinar di dalam negeri, tetapi juga menorehkan jejak signifikan di panggung internasional. Sepanjang paruh pertama 2026, nilai ekspor produk industri halal Indonesia berhasil mencapai 35,72 miliar dolar AS. Nilai tersebut jauh melampaui angka impor produk halal yang tercatat sebesar 17,47 miliar dolar AS, sehingga menciptakan surplus perdagangan yang sehat pada kategori ini.
Pemerintah optimistis surplus ini dapat terus ditingkatkan. Langkah strategis yang disiapkan meliputi penguatan rantai pasok halal dari hulu ke hilir, optimalisasi sertifikasi halal bagi para pelaku usaha, serta peningkatan kualitas standar produk agar makin diminati pasar global.
Selain mendorong akselerasi ekspor, pemerintah juga mencanangkan target efisiensi melalui substitusi impor. Langkah menurunkan ketergantungan pada produk halal impor untuk tahun mendatang akan difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi dalam negeri dan pemberdayaan pelaku industri lokal agar mampu memenuhi kebutuhan pasar secara mandiri dan berdaya saing tinggi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post