Meluruskan Pandangan Sejarah dan Anatomi Pergerakan Nahdlatul Ulama
Kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) sering kali disederhanakan hanya seputar kehidupan pesantren serta tradisi keagamaan seperti qunut dan tahlilan. Padahal, rekam jejak sejarah menunjukkan bahwa pembentukan jam’iyah ini lahir dari artikulasi kegelisahan para ulama melalui rangkaian pergerakan strategis yang kompleks sebelum akhirnya mewujud sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia.
Anatomi pergerakan NU ditopang oleh empat elemen fundamental. Pertama, Nahdlatul Wathan yang mengusung misi literasi, kesadaran nasional, serta semangat cinta tanah air. Kedua, Tashwirul Afkar sebagai forum studi dan pengembangan intelektual, tempat santri dan kiai berdebat secara bebas mengenai khazanah fikih, isu kemasyarakatan, hingga konsep kenegaraan tanpa mengorbankan silaturahmi.
Ketiga, Nahdlatut Tujjar yang berfokus pada penguatan sektor ekonomi dan tata kelola pasar, membuktikan bahwa ulama masa lalu telah memikirkan kesejahteraan finansial umat. Keempat, Komite Hijaz yang menjadi sarana diplomasi keagamaan tingkat internasional. Keempat pilar ini mempertegas bahwa NU sejak awal didesain secara seimbang antara penguatan kultur (jamaah) dan struktur (jam’iyah), pemikiran (fikrah) dan pergerakan (harakah), serta keagamaan (din) dan kenegaraan (daulah).
Refleksi Abad Kedua: Menjawab Tantangan Zaman Modern
Memasuki abad kedua penyelenggaraannya, NU dituntut untuk tidak sekadar menghafal warisan sejarah, melainkan menerjemahkan spirit para pendiri ke dalam dinamika zaman yang kian multidimensi. Pesan mendasar dari para pendiri adalah meletakkan nilai-nilai keagamaan di seluruh lini kehidupan, mulai dari sektor pendidikan, perekonomian, hingga meja diplomasi global.
Jika pada era awal pergerakan ditandai dengan hadirnya Nahdlatut Tujjar, maka relevansi NU hari ini diuji melalui keberpihakan nyata terhadap pengentasan kemiskinan, ketahanan usaha mikro dan kecil, isu hubungan industrial, adaptasi ekonomi digital, hingga kemandirian tata kelola lembaga pendidikan dan pesantren.
Di ranah pemikiran, warisan Tashwirul Afkar perlu ditransformasikan untuk merespons perdebatan sains modern, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), dampak perubahan iklim terhadap masyarakat akar rumput, serta isu bioetika. Sementara itu, rekam jejak diplomasi Komite Hijaz harus diwujudkan melalui peran aktif dalam menyuarakan perdamaian dunia, keadilan global, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Bagi NU, Islam dan keindonesiaan berada dalam satu tarikan napas. Islam hadir sebagai fondasi keyakinan dan tuntunan moral, sedangkan Indonesia merupakan rumah bersama yang wajib dijaga dan dirawat secara berkelanjutan.
Nakhoda Baru dan Moda Kepemimpinan Organisasi
Langkah NU menapaki fase baru kini berada di bawah kepemimpinan Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin. Kepemimpinan baru ini dinilai memiliki modalitas yang kuat melalui kombinasi latar belakang tradisi keagamaan, pengabdian di pesantren, pengalaman profesional di dunia usaha, hingga latar belakang pendidikan pelayaran.
Kombinasi pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal navigasi penting dalam mengarahkan organisasi di tengah perubahan sosial dan politik yang dinamis. Menakhodai organisasi sebesar NU membutuhkan kecermatan membaca arah angin dan ketahanan dalam menghadapi gelombang tantangan zaman.
Peneliti LPPM Universitas Arya Wangsa (UAW) sekaligus Pengampu Republik NU Corner (RNC), Abdul Khalid Boyan, menegaskan bahwa cara terbaik menghormati para pendiri NU bukanlah dengan meniru bentuk fisik produk sejarah secara mentah, melainkan dengan mengambil substansi nilai, keberanian, dan konsistensi perjuangan mereka untuk diterapkan sesuai tantangan konteks hari ini.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post