Harga emas di pasar global terkoreksi pada penutupan perdagangan awal pekan. Kombinasi antara penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menjadi penekan utama pergerakan logam mulia ini. Di sisi lain, para pelaku pasar kini mengambil sikap cermat sembari mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan bakal merilis keputusan penting pada pekan mendatang.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, harga emas mencatatkan penurunan sebesar 0,6% ke level US$ 4.140,52 per ons troi. Penurunan sejalan juga terjadi pada kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember yang terkikis 0,5% hingga mendarat di posisi US$ 4.160,1 per ons troi.
Kombinasi Penguatan Dolar dan Kenaikan Yield Obligasi
Koreksi harga logam mulia kali ini tidak lepas dari dominasi dolar AS yang terus menguat di pasar valuta asing. Penguatan greenback secara otomatis membuat komoditas komoditas berdenominasi dolar, termasuk emas, menjadi relatif lebih mahal bagi para investor yang memegang mata uang non-dolar.
Pada saat bersamaan, tekanan terhadap emas makin berat seiring meningkatnya daya tarik instrumen berimbal hasil. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10 tahun tercatat melesat 0,6%. Mengingat emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), kenaikan yield obligasi membuat minat pemodal bergeser ke instrumen pasar utang AS.
Analis Pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menjelaskan bahwa dinamika di pasar obligasi ini dipicu oleh kecemasan pasar atas potensi pengetatan moneter berkelanjutan. “Kekhawatiran bahwa bank sentral masih perlu memperketat kebijakan lebih lanjut demi meredam laju inflasi menjadi pendorong utama kenaikan yield obligasi. Kondisi imbal hasil yang relatif tinggi ini memicu kalkulasi ulang di kalangan investor mengenai daya tarik pasar utang dibanding emas,” ujar Razaqzada.
Sikap Sikap Pasar Menantikan Komando The Fed
Fokus utama para pelaku pasar ekonomi dan bisnis global saat ini tertuju pada langkah moneter yang akan diambil oleh The Fed. Sebelumnya, bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut telah mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September—yang menandai kenaikan suku bunga pertama pada periode tahun berjalan.
Pasar kini tidak hanya menantikan ketegasan The Fed terkait apakah akan ada kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan bulan ini atau menundanya hingga akhir tahun. Pernyataan resmi dan sinyal panduan kebijakan (forward guidance) yang dikeluarkan oleh otoritas moneter tersebut dinilai bakal menjadi variabel krusial yang menentukan arah tren harga emas dalam jangka pendek maupun menengah.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post