Ubah Limbah Jadi Cuan, Tim Akademisi Universitas Brawijaya Edukasi Warga Sekolah di Thailand Olah Jelantah
MALANG TODAY – Kiprah akademisi asal Malang dalam membawa solusi lingkungan ke tingkat internasional kembali dibuktikan oleh Universitas Brawijaya (UB). Melalui Departemen Teknik Biosistem, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), tim dosen UB menggelar aksi pengabdian masyarakat internasional dengan mengajari para siswa dan guru di Thammislam Foundation School, Nonthaburi, Thailand, mengolah limbah minyak goreng bekas (jelantah) menjadi sabun dan lilin aromaterapi bernilai ekonomi.
Kegiatan bernuansa ramah lingkungan yang mengusung tema “Recycling Waste Cooking Oil into Soap and Candles” tersebut terlaksana berkat sinergi strategis antara UB dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Thailand. Langkah ini menegaskan komitmen perguruan tinggi asal Kampus Bumi Brawijaya Malang tersebut dalam mengekspor teknologi tepat guna serta mendukung gerakan ekonomi sirkular di mancanegara.
Edukasi Bahaya Bahaya Jelantah dan Bimbingan Praktis
Ketua Tim Pengabdian UB, Dr.Eng. Akhmad Adi Sulianto, STP., MT., M.Si, hadir langsung memimpin kegiatan bersama anggota tim pakar lainnya, yakni Dr.Agr.Sc. Dimas Firmanda Al Riza, ST., M.Sc. Kedatangan tim akademisi Malang ini disambut hangat oleh puluhan guru dan siswa setempat dengan fasilitasi dari perwakilan PCIM Thailand, Bachtiar Rivai dan Nabil.
Dalam sesi edukasi, tim UB membeberkan ancaman serius limbah minyak goreng yang dibuang sembarangan. Selain berpotensi menyumbat saluran air dan merusak ekosistem tanah maupun perairan, pengelolaan jelantah yang buruk turut berkontribusi meningkatkan emisi gas rumah kaca. Sebagai solusinya, para peserta diajak mempraktikkan secara langsung teknik penjernihan minyak menggunakan adsorben alami, proses saponifikasi pembuatan sabun padat dan cair, hingga formulasi pencampuran esens untuk lilin aromaterapi.
“Masalah minyak jelantah adalah isu universal yang dihadapi banyak negara, baik di Indonesia maupun di Thailand. Melalui sentuhan teknologi tepat guna yang sederhana, limbah dapur ini bisa ditransformasikan menjadi produk yang higienis, bernilai guna, dan memiliki nilai jual,” tegas Dr.Eng. Akhmad Adi Sulianto.
Ia menambahkan, edukasi ini dirancang untuk menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus memicu jiwa wirausaha hijau (green entrepreneurship) sejak dini di kalangan pelajar. “Kami ingin siswa-siswi di sini menjadi agen perubahan yang mampu mengolah limbah dari dapurnya sendiri menjadi peluang usaha mandiri,” imbuhnya.
Dorong Kemandirian Sekolah dan Memperkuat Jejaring Diaspora
Guna memastikan keberlanjutan program di Thailand, tim pengabdian UB turut menyerahkan paket bantuan berupa peralatan dasar dan bahan baku praktek. Bantuan ini diharapkan dapat dimanfaatkan pihak Thammislam Foundation School untuk mengembangkan unit produksi mandiri atau program kewirausahaan berbasis sekolah.
Apresiasi tinggi datang dari perwakilan PCIM Thailand, Bachtiar Rivai. Menurutnya, kepedulian yang ditunjukkan institusi pendidikan tinggi asal Kota Malang ini sangat sejalan dengan misi pemberdayaan masyarakat yang diusung jaringan diaspora Indonesia di luar negeri.
“Ilmu daur ulang jelantah yang dibawakan tim Universitas Brawijaya sangat praktis dan mudah diserap oleh para siswa. Kami berharap kerja sama ini menjadi pijakan awal untuk kolaborasi berkelanjutan, khususnya dalam pengembangan teknologi pertanian, energi terbarukan, hingga pemberdayaan UMKM binaan kami di Thailand,” pungkas Bachtiar.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post