JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga terus membuktikan komitmennya dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam lini bisnisnya. Melalui subholding operasionalnya di wilayah Regional Jawa Bagian Barat, unit kerja Integrated Terminal Balongan berhasil menyulap permasalahan limbah pertanian di Indramayu menjadi peluang ekonomi sirkular bernilai ratusan juta rupiah lewat program Sagari (Sadar Lingkungan, Gerakan Aksi Reduce dan Inovasi).
Keberhasilan mengawinkan aspek kelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat ini mengantarkan Pertamina Patra Niaga meraih penghargaan kategori Social Innovation & Circular Economy Impact pada ajang ESG NOW Awards 2026. Inisiatif yang dikembangkan di Desa Sliyeg Lor, Indramayu, Jawa Barat ini dinilai sukses menghadirkan inovasi sosial yang secara nyata mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.
Solusi atas Anjloknya Harga Panen dan Penumpukan Limbah
Program Sagari dirancang berangkat dari realita tantangan sektor pertanian konvensional di wilayah Indramayu. Sebagai salah satu sentra penghasil mangga, kawasan tersebut menghadapi persoalan penumpukan limbah sisa panen pertanian yang jumlahnya diperkirakan melebihi 100 ton per tahun. Kondisi ini makin diperparah oleh ancaman fluktuasi harga yang ekstrim saat musim panen raya.
Pada puncak panen, harga komoditas mangga kerap anjlok hingga 90 persen, terjun bebas dari kisaran Rp25.000 per kilogram menjadi hanya Rp2.500 per kilogram. Penurunan nilai ekonomi yang tajam ini kerap merugikan para petani lokal dan memicu inefisiensi pengolahan hasil panen.
Menjawab tantangan tersebut, Pertamina Patra Niaga meluncurkan program Desa Energi Berdikari Sagari yang terbagi ke dalam tiga fokus subprogram strategis:
- Griya Mangga: Berfokus pada penguatan metode budidaya pertanian yang ramah lingkungan.
- Griya Kreasi: Mendorong pengembangan inovasi serta penyediaan sarana pendukung budidaya.
- Griya Rasa: Meningkatkan nilai tambah komoditas dengan mengolah mangga menjadi pelbagai produk olahan pangan bernilai jual lebih tinggi.
Dampak Ekonomi dan Pengurangan Emisi Karbon
Tidak sekadar meningkatkan nilai jual komoditas, program Sagari juga menyentuh aspek inklusivitas sosial. Pelaksanaan program ini secara aktif melibatkan kelompok perempuan purna pekerja migran Indonesia (PMI) serta kelompok masyarakat rentan melalui serangkaian pelatihan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas usaha berbasis potensi lokal.
Secara teknis, limbah sisa panen mangga yang sebelumnya terbuang diolah kembali menjadi pupuk organik memanfaatkan bioaktivator berbasis kulit mangga. Langkah ini mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 0,168 ton CO2eq. Di sisi ekonomi, optimalisasi produk olahan dan pupuk organik ini berhasil menciptakan kemandirian finansial bagi warga binaan, dengan rata-rata pendapatan kelompok mencapai Rp234 juta per tahun.
Vice President Community Involvement & Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengemukakan bahwa apresiasi yang diterima menjadi penguat komitmen perusahaan untuk memperluas dampak positif program TJSL secara berkelanjutan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi dan penyemangat bagi kami untuk terus berkomitmen melaksanakan program TJSL yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Seluruh pelaksanaan program mengedepankan prinsip ESG, inovasi sosial, serta dampak ekonomi sirkular guna mendukung visi Indonesia Emas,” ujar Dian.
Akselerasi Pencapaian Target SDGs National
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Reno Fri Daryanto, menambahkan bahwa pengolahan limbah organik menjadi sarana produksi pertanian bernilai ekonomis merupakan wujud efisiensi rantai pasok berbasis komunitas.
Pengembangan program Sagari mencakup pemenuhan beberapa poin penting dalam indikator SDGs, di antaranya:
- SDG 1: Tanpa Kemiskinan (Peningkatan pendapatan masyarakat rentan).
- SDG 5: Kesetaraan Gender (Pemberdayaan perempuan purna pekerja migran).
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Pemanfaatan ulang limbah).
- SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (Reduksi emisi karbon).
Dengan model integrasi dari hulu ke hilir ini, Pertamina Patra Niaga menegaskan peran sektor korporasi dalam menciptakan ekosistem bisnis yang tidak hanya berfokus pada kinerja finansial, tetapi juga membawa dampak transformasi sosial-ekonomi yang inklusif di wilayah operasional perusahaan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post