JAKARTA — Pasar komoditas global kembali diuji oleh dinamika geopolitik dan kebijakan moneter. Harga emas dunia diproyeksikan masih menghadapi risiko koreksi lanjutan pada pekan ini, tertekan oleh penguatan harga minyak mentah serta tingginya imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS). Koreksi ini terjadi meski sebelumnya pelemahan mata uang dolar AS sempat memberikan ruang apresiasi bagi logam mulia tersebut.
Berdasarkan data perdagangan akhir pekan, harga emas di pasar spot ditutup melemah 0,13% ke level US$ 4.165,4 per ons troi pada Jumat (16/10/2026). Secara akumulatif, pergerakan harga emas mencatatkan akumulasi koreksi sebesar 0,7% sepanjang pekan lalu.
Minyak Mentah dan Yield Obligasi Jadi Penekan Utama
Pasar logam mulia menunjukkan kerentanan yang signifikan terhadap fluktuasi komoditas energi dan pasar obligasi. Analis Pasar StoneX, Fawad Razaqzada, mencatat bahwa momentum pemulihan harga emas yang sempat terjadi pada Kamis (15/10/2026) tidak mampu bertahan hingga penutupan pekan. Emas bersama perak kembali berbalik ke zona merah pada Jumat (16/10/2026), mengindikasikan dominasi tekanan jual di pasar.
Razaqzada menjelaskan, tingginya harga minyak mentah dunia serta imbal hasil obligasi AS yang bertahan di dekat level tertingginya menjadi pemicu utama risiko penurunan harga emas dalam jangka pendek.
Loncatan harga minyak mentah sekitar US$ 3 pada penutupan perdagangan Jumat lalu dipicu oleh kembali mengemukanya potensi ketegangan geopolitik dan kekhawatiran aksi militer AS terhadap Iran. Lonjakan harga energi ini secara langsung memicu kecemasan terhadap ekspektasi inflasi global.
“Kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi dan berpotensi menahan penurunan imbal hasil obligasi. Kondisi ini pada gilirannya memberikan dorongan bagi penguatan dolar AS, yang menjadi beban tambahan bagi pergerakan emas,” ungkap Razaqzada dalam analisis risetnya.
Sentimen Makroekonomi dan Penopang Bank Sentral
Dari sisi pasar obligasi, yield surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun terpantau masih kokoh bertahan di atas area support teknis 5% hingga 5,05%. Level kritis ini sebelumnya merupakan titik resistance sebelum akhirnya berhasil ditembus pada 23 September lalu. Meskipun sempat mengalami penurunan tipis, tren kenaikan yield diperkirakan belum berakhir selama tidak ada perubahan mendasar pada indikator makroekonomi global.
Mengingat minimnya rilis data ekonomi krusial dari AS pada pekan ini, pergerakan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi diprediksi akan menjadi kemudi utama yang mengarahkan pergerakan dolar AS sekaligus menentukan arah harga emas.
Kendati membayangi dengan risiko koreksi, tekanan terhadap logam mulia diperkirakan tidak akan berlanjut tanpa batas. Razaqzada menilai aksi aksi pembelian bersih (net buying) yang konsisten oleh sejumlah bank sentral global berpotensi menjadi penopang utama (buffer) yang membatasi ruang penurunan harga emas lebih lanjut.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post