Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam sebesar 5,65% ke level 5.278 pada perdagangan Selasa. Lonjakan signifikan ini ditopang oleh akumulasi beli yang masif pada saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar besar (big caps), di mana empat bank utama mencatatkan kenaikan harga lebih dari 5%. Pergerakan positif ini sekaligus membalikkan arah pasar setelah sempat terkoreksi 3,64% ke level 4.996 sehari sebelumnya.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung sangat dinamis dengan mencatatkan total nilai transaksi mencapai Rp 26,5 triliun di seluruh pasar, di mana pasar reguler menyumbang sebesar Rp 25,1 triliun. Menguatnya IHSG juga dipicu oleh respons positif pelaku pasar terhadap aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) serta serangkaian inisiatif kebijakan otoritas bursa untuk menstabilkan pergerakan indeks.
Investor Domestik Serap Tekanan Aksi Jual Asing di Saham BBCA
Meskipun IHSG melonjak tinggi, investor asing tercatat masih melanjutkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 2,19 triliun. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas oleh asing dengan nilai net sell mencapai Rp 966 miliar. Tekanan jual asing juga dialami oleh saham-saham unggulan lain seperti Indosat (ISAT), Merdeka Copper Gold (MDKA), dan Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP).
Menariknya, saham BBCA mendominasi total transaksi pasar dengan nilai fantastis sebesar Rp 6 triliun atau setara 22,68% dari keseluruhan nilai transaksi bursa. Masifnya akumulasi dari investor domestik berhasil menyerap sepenuhnya pasokan saham dari asing, yang menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan dan ketahanan likuiditas pasar modal dalam negeri.
Sebaliknya, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) justru menjadi sasaran aksi beli bersih asing (net buy) senilai Rp 255 miliar, yang mendorong harganya melesat hingga 16,38%.
Sentimen Dividen dan Pengeluaran Saham HSC Jadi Menopang Indeks
Langkah strategis BEI yang berencana mengeluarkan seluruh saham High Share Concentration (HSC)—yang berbobot sekitar 18% terhadap IHSG—dari perhitungan indeks turut memberikan kepastian bagi para pelaku pasar. Kebijakan ini dinilai efektif dalam mengurangi distorsi harga dan meningkatkan transparansi pergerakan saham secara komprehensif.
Di tengah dinamika serta volatilitas pasar global, daya tarik dividen dalam waktu dekat diproyeksikan bakal menjadi penopang utama daya beli investor. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) berpotensi membagikan dividen spesial yang bersumber dari rampungnya divestasi Kestrel pada awal Oktober, dengan perolehan dana bersih sekitar US$ 735 juta (sekitar Rp 13,15 triliun). Emiten ini diproyeksikan memiliki dividend yield mencapai sekitar 8,5%.
Selain itu, sejumlah emiten telah mengumumkan jadwal pembagian dividen interim:
- SCMA: Membagikan dividen interim sebesar Rp 8,4 per saham dengan total nilai Rp 533 miliar (yield sekitar 6,1%). Tanggal akhir perdagangan saham dengan hak dividen (cum date) dijadwalkan pada 27 Oktober, dan pembayaran dilakukan pada 18 November.
- DMAS: Mengagendakan pembagian dividen interim sebesar Rp 29 per saham dengan total dana mencapai Rp 1,4 triliun dan cum date pada 28 Oktober.
- BSSR: Telah merampungkan pembayaran dividen interim sebesar Rp 406 per saham pada 9 Oktober, serta mempertahankan rekam jejak historisnya yang konsisten membagikan dividen berkala kepada pemegang saham.
Kedalaman pasar dan kapasitas penyerapan modal domestik terhadap arus modal keluar (foreign outflow) diperkirakan masih akan menjadi indikator kunci yang terus dicermati para pelaku usaha dan investor dalam menentukan arah pergerakan IHSG ke depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post