MALANG TODAY – Partai NasDem dinilai memilih mengambil posisi aman dan cenderung pasif dalam merespons wacana pemakzulan serta usulan penggunaan hak angket di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Langkah politik ini dipandang sebagai strategi partai untuk menghindari konflik terbuka sekaligus menjaga posisinya dalam peta koalisi pemerintahan saat ini.
Dinamika Internal dan Posisi Mengambang
Pengamat politik Nurul Fatta menyoroti dinamika internal Partai NasDem yang sempat menampakkan perbedaan suara terkait isu-isu krusial pasca-putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Meski sempat berembus dorongan dari internal partai terkait wacana pemakzulan, jajaran pimpinan partai dengan cepat melakukan klarifikasi untuk meredam spekulasi yang berkembang di publik.
“NasDem sendiri memposisikan diri sebagai ‘anak bawang’ yang berprinsip bagai air di daun talas. Meskipun sempat ada anggotanya yang mendorong pemakzulan, Bendahara Umum mereka segera mengklarifikasi bahwa kabar itu tidak benar. NasDem pada akhirnya memilih untuk mengambil sikap diam,” ujar Nurul Fatta saat memberikan analisisnya mengenai konstelasi politik nasional, Jumat (16/10/2026).
Sikap berhati-hati tersebut mengindikasikan ketidakinginan Partai NasDem untuk menjadi akselerator atau pemantik polemik politik yang lebih luas, terutama yang berkaitan dengan keputusan lembaga peradilan tertinggi negara.
Pengaruh Posisi Strategis di Kabinet
Lebih lanjut, analisis politik menggarisbawahi bahwa terbatasnya ruang gerak Partai NasDem tidak terlepas dari posisi tawar politisnya di dalam pemerintahan. Mendaulat diri sebagai bagian dari koalisi pendukung pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, partai ini diketahui tidak menempatkan kadernya dalam susunan menteri kabinet.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada daya tawar dan pijakan politik partai di parlemen, sehingga mendorong mereka untuk mengambil sikap yang fleksibel mengikuti dinamika kekuatan terbesar.
“Gelagatnya sudah jelas, mereka tidak ingin menjadi pemantik bola liar menuju pemakzulan atau hak angket. Sebagai partai koalisi yang tak mendapat kursi menteri di kabinet Prabowo-Gibran, NasDem seperti berada di posisi serba tanggung karena tidak punya pijakan yang cukup kuat,” kata Fatta menjelaskan.
Ia menyimpulkan, strategi politik Partai NasDem saat ini ditandai dengan kecenderungan untuk beradaptasi secara dinamis terhadap pergeseran arus kekuatan politik utama. Ke mana arah stabilitas dan kekuatan terbesar bermuara, ke sanalah kalkulasi sikap politik partai akan bermuara guna mengamankan posisi kelembagaannya dalam jangka panjang.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post