Pasar saham Eropa berhasil menutup perdagangan dengan hasil positif, terdorong oleh solidnya laporan kinerja keuangan korporasi serta lonjakan investasi pada sektor kesehatan. Penguatan ini terjadi di tengah aksi lepas saham berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang tertekan oleh kecemasan inflasi global.
Berdasarkan data penutupan bursa, indeks acuan pan-Eropa STOXX 600 menguat 0,38 persen atau bertambah 2,41 poin ke posisi 640,16. Pergerakan positif ini turut diikuti oleh mayoritas bursa saham utama di kawasan Eropa. Indeks DAX Jerman mencatatkan kenaikan 0,33 persen (84,01 poin) ke level 25.382,62, sementara indeks FTSE 100 Inggris melesat 1,08 persen (115,49 poin) menuju 10.840,35. Adapun indeks CAC 40 Prancis terangkat 0,78 persen (61,59 poin) ke posisi 7.934,70.
Langkah para investor yang memburu saham-saham berkinerja fundamental kuat diharapkan mampu membawa bursa saham Eropa keluar dari fase konsolidasi atau pergerakan terbatas yang membayangi selama satu bulan terakhir.
Laporan Keuangan Korporasi Jadi Pendorong Kenaikan
Salah satu pendorong utama penguatan indeks adalah melonjaknya harga saham perusahaan telekomunikasi asal Swedia, Ericsson, yang melesat hingga 6,8 persen. Saham Ericsson menjadi penampil terbaik dalam indeks acuan setelah mengumumkan capaian laba kuartal ketiga yang berhasil melampaui proyeksi konsensus para analis.
Selain sektor telekomunikasi, saham di sektor kesehatan juga menjadi primadona baru bagi para pemodal. Indeks sektor kesehatan melonjak 2,4 persen dan menjadi motor penggerak utama STOXX 600. Para investor secara masif mengalihkan modal mereka ke sektor yang dinilai lebih aman (safe haven) ini, menyusul meredupnya daya tarik saham-saham teknologi berbasis AI.
Sektor Teknologi Tertekan Spekulasi Suku Bunga AS
Di sisi lain, sektor teknologi justru mengalami tekanan berat dan menjadi penghambat terbesar bagi laju bursa Eropa. Indeks sektor teknologi tercatat merosot 1,5 persen, dipicu oleh penurunan tajam saham produsen sistem semikonduktor asal Jerman, Aixtron, yang anjlok hingga 13 persen.
Koreksi mendalam juga menimpa produsen cip Infineon dan Soitec yang masing-masing melemah 5,2 persen dan 7,7 persen. Sementara itu, saham raksasa pembuat peralatan semikonduktor asal Belanda, ASML, turut terkikis sebesar 4,2 persen.
Aksi lepas saham teknologi ini dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan mempertahankan ketatnya kebijakan moneter atau kembali menaikkan suku bunga. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan beban biaya pendanaan bagi perusahaan teknologi yang highly-leveraged dalam mendanai infrastruktur AI.
Senior Equity Strategist di Generali Investments, Michele Morganti, menilai tekanan inflasi yang masih persisten terus membayangi prospek saham berdurasi panjang seperti sektor teknologi, karena secara langsung mendongkrak biaya modal mereka.
Sektor Manufaktur dan Pertambangan Mengalami Koreksi
Selain sektor teknologi, koreksi juga melanda perusahaan kemasan dan kertas global, Mondi, yang sahamnya merosot 7,9 persen. Penurunan ini terjadi setelah pihak manajemen mengumumkan rencana kenaikan harga produk kertas pada kuartal ketiga demi menutupi lonjakan biaya energi serta bahan baku.
Di sektor komoditas, saham perusahaan tambang Antofagasta menyusut 4,1 persen setelah melaporkan penurunan produksi tembaga kumulatif sebesar 8,3 persen secara tahunan (YoY) menjadi 436.900 ton. Penurunan volume produksi ini, ditambah melemahnya harga tembaga di pasar dunia, menyeret indeks sektor pertambangan Eropa terkoreksi sebesar 0,8 persen.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post