JAMBI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Provinsi Jambi hingga mencapai ribuan hektare dinilai tak lepas dari praktik eksploitasi sumber daya alam berskala besar selama puluhan tahun. Alih fungsi kawasan gambut menjadi area perkebunan dan industri ekstraktif memicu pengeringan lahan yang berujung pada bencana kebakaran berulang.
Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jambi, luas karhutla di wilayah tersebut sepanjang 1 Januari hingga 14 September 2026 tercatat mencapai 2.998 hektare.
Namun, temuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi menunjukkan angka yang jauh lebih besar. Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel periode 1 Januari hingga 18 September 2026, luas karhutla di Jambi diperkirakan mencapai 12.317 hektare—atau empat kali lipat dari data pemerintah. Dari total area yang terbakar tersebut, sebanyak 5.488 hektare berada di dalam 11 kawasan konsesi perusahaan.
Alih Fungsi Gambut dan Dugaan Kelalaian Perusahaan
Direktur Walhi Jambi, Oscar Anugrah, menjelaskan bahwa maraknya karhutla tidak terlepas dari pengubahan bentang alam gambut oleh industri perkebunan skala besar. Pembangunan kanal drainase dan pengeringan lahan untuk produksi membuat gambut kehilangan kemampuan alaminya dalam menyimpan air.
“Tren kebakaran di Jambi bermula dari akhir 1990-an, sejalan dengan masifnya penerbitan izin perusahaan. Gambut terbakar karena dikeringkan, dan ada pula monopoli air di area konsesi,” ujar Oscar.
Walhi Jambi dan sejumlah organisasi masyarakat sipil menyoroti rekam jejak konsesi PT WKS yang kerap mengalami kebakaran saat musim kemarau sejak 2015. KKI Warsi mencatat area terbakar di konsesi tersebut mencapai 3.423 hektare pada 2019, sementara Walhi mengidentifikasi sekitar 40 hektare area terbakar pada tahun ini.
PT WKS diduga menurunkan muka air tanah hingga nyaris satu meter melalui kanalisasi, yang dinilai melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pelindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Pembangunan sekat kanal saat kemarau juga dituding memonopoli air untuk kepentingan internal perusahaan, sehingga lahan masyarakat di sekitarnya semakin mengering dan rentan terbakar.
Dampak Pengeringan Lahan yang Dirasakan Warga
Dampak pengelolaan air oleh perusahaan dirasakan langsung oleh warga sekitar. Syaiman (40), warga Desa Pematang Rahim, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, mengungkapkan bahwa kawasan pemukiman dan kebun warga menjadi sangat rawan terbakar saat kemarau akibat pengeringan lahan.
Menurut Syaiman, skema penutupan sekat kanal oleh perusahaan saat musim kering memicu kekeringan di luar konsesi. Sebaliknya, saat musim hujan, sekat dibuka hingga menyebabkan banjir di kebun warga.
“Kalau musim hujan sekat dibuka jadi warga gampang kebanjiran. Tapi kalau musim kemarau disekat rapat, jadi air untuk warga sangat sedikit,” tutur Syaiman.
Manajer Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, menambahkan bahwa kebakaran pada lahan gambut jauh lebih berbahaya karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah tanpa terlihat, sehingga sangat sulit dipadamkan.
Bantahan Pihak Perusahaan
Menanggapi tuduhan tersebut, Kepala Humas PT WKS, Taufik Qurochman, membenarkan adanya titik kebakaran di area konsesi perusahaan, seperti di Distrik 7 dan Distrik 8. Namun, ia membantah luas area terbakar mencapai 40 hektare dan menyebut kebakaran dipicu oleh rambatan dari luar serta adanya okupasi lahan oleh masyarakat.
Taufik juga menolak anggapan bahwa pihaknya melakukan pengeringan gambut dan monopoli air. Ia mengklaim perusahaan menerapkan tata kelola air untuk membasahi lahan demi mencegah karhutla, serta menggunakan metode Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).
“Kami menggunakan metode manajemen air untuk mempertahankan kebasahan lahan, bukan pengeringan. Untuk pembukaan lahan, kami selalu menggunakan alat berat secara mekanis karena risiko kebakaran sangat tinggi bagi reputasi perusahaan,” jelas Taufik.
Ancaman Kesehatan dan Kabut Asap Penjuru Kota
Meningkatnya intensitas karhutla berdampak langsung pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Jambi mencatat sebanyak 3.437 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi hanya dalam kurun seminggu, mulai 24 Agustus hingga 3 September 2026.
Kepulan asap tebal yang sering muncul pada malam hari memaksa warga menghirup udara tidak sehat. Warga Kota Jambi, Elviza Diana (40), mengeluhkan batuk kering dan iritasi tenggorokan yang tak kunjung sembuh akibat beraktivitas di luar rumah.
Bagi masyarakat Jambi, bencana kabut asap yang terus berulang seolah menjadi ancaman tahunan tanpa penanganan permanen yang efektif. Warga berharap ada langkah tegas dan solusi konkret dari pemerintah agar krisis kualitas udara tidak terus memakan korban setiap musim kemarau.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post