Upaya mempererat diplomasi kebudayaan antara Indonesia dan Prancis terus digulirkan melalui langkah konkret. Salah satunya diwujudkan lewat proyek restorasi dan revitalisasi bangunan cagar budaya Rumah Raden Saleh yang berlokasi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Langkah kolaboratif ini menjadi simbol penting pemeliharaan jejak sejarah serta hubungan kultural panjang yang telah terjalin antara kedua negara sejak abad ke-19.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, meninjau langsung progres pemugaran kediaman sang maestro lukis tersebut pada Rabu (30/9/2026). Dalam kunjungan itu, Dubes Penone didampingi oleh Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Pembina Yayasan Kesehatan Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Miranda Goeltom, serta tim arsitek konservasi yang menangani proyek pemugaran.
Menjaga Warisan Sejarah Sang Maestro di Cikini
Rumah Raden Saleh dibangun pada tahun 1862 dan memiliki nilai arsitektur yang sangat tinggi. Bangunan abad ke-19 ini menggabungkan karakteristik gaya arsitektur Eropa dengan sentuhan struktur bernuansa Jawa pada bagian belakangnya. Kediaman ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup Raden Saleh Syarif Bustaman, seniman besar Indonesia yang menghabiskan lebih dari dua dekade hidupnya di Benua Biru.
Prancis memiliki ikatan historis yang kuat dengan perjalanan karya Raden Saleh. Sang pelukis tercatat pernah bermukim dan berkarya di Prancis pada kurun waktu 1845 hingga 1848. Dalam periode tersebut, ia berinteraksi erat dengan para seniman terkemuka dan mendapatkan apresiasi tinggi dari kalangan bangsawan Eropa.
“Beliau melukis bersama maestro-maestro Prancis pada masa itu. Bahkan, Raja Prancis Louis-Philippe membeli salah satu lukisannya. Ini menunjukkan betapa tingginya penghargaan atas karya Raden Saleh,” ujar Fabien Penone di sela-sela peninjauan.
Dubes Penone menegaskan bahwa revitalisasi ini menjadi fondasi penting untuk memperluas kerja sama kebudayaan kedua negara, sejalan dengan komitmen yang telah disepakati oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Sebagai bentuk komitmen lanjutan, Presiden Lembaga Warisan Budaya Prancis (French Heritage Agency) Marie Lavandier dijadwalkan segera berkunjung ke Indonesia untuk menjajaki kemitraan dengan Indonesian Heritage Agency dalam pelestarian berbagai situs bersejarah.
Teknik Konservasi Presisi dan Penguatan Bangunan
Dalam aspek teknis pemugaran, proses restorasi dilakukan dengan pendekatan konservasi yang sangat hati-hati. Arsitek Konservasi dari Wastu Adi Olahrupa, Febe Liana, menjelaskan bahwa timnya menerapkan prinsip kehati-hatian dengan hanya mengembalikan elemen bangunan yang memiliki bukti sejarah valid.
Struktur fisik kediaman yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut mendapat penanganan khusus agar tetap kokoh tanpa menghilangkan nilai keasliannya. “Dinding bata berusia 160 tahun ini kami perkuat dengan metode ferrocement, yakni dijahit dengan kawat baja tanpa mengubah bentuk aslinya,” ungkap Febe Liana saat menjelaskan detail struktur arsitektur bangunan.
Dukungan Pemerintah dan Rencana Menjadi Ruang Publik Kreatif
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan memberikan apresiasi penuh atas keterlibatan aktif pihak Kedutaan Besar Prancis dalam proyek pelestarian cagar budaya ini. Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, yang hadir mewakili Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menyatakan kesiapan pemerintah untuk mendukung penuh kelancaran pemugaran hingga tuntas.
“Pak Dubes Prancis kerjanya luar biasa cepat. Dari Kementerian Kebudayaan, kami siap memberikan dukungan penuh terhadap apa pun yang dibutuhkan demi memajukan cagar budaya ini,” kata Giring Ganesha. Ia menambahkan bahwa revitalisasi aset sejarah ini sangat krusial agar generasi muda, khususnya Generasi Z, dapat terus terhubung dengan warisan dan rekam jejak sejarah bangsa.
Proyek pemugaran tahap awal ini mendapatkan pendanaan dari pihak swasta serta Yayasan Kesehatan PGI. Pembina Yayasan Kesehatan PGI, Miranda Goeltom, menyebutkan bahwa keseluruhan proses restorasi ditargetkan rampung sepenuhnya pada awal tahun 2027.
Setelah seluruh proses restorasi selesai, Rumah Raden Saleh ditargetkan tidak sekadar menjadi bangunan cagar budaya pasif, melainkan difungsikan sebagai ruang publik kreatif yang hidup. Kawasan ini nantinya akan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seni dan literasi, seperti pameran seni rupa, pertunjukan budaya, hingga diskusi sastra, sekaligus menjaga ingatan publik atas diplomasi kebudayaan Indonesia dan Prancis.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post