Dari New York hingga Paris, melintasi Milan dan London, industri alas kaki Portugal kini semakin menancapkan taringnya di panggung pekan mode internasional. Lewat rangkaian kolaborasi tak terduga yang menghiasi sekitar 20 peragaan busana, kemitraan antara desainer global dan produsen Portugal sukses mencuri perhatian para pencinta gaya hidup modern. Langkah strategis ini menegaskan reposisi Portugal: bukan lagi sekadar basis manufaktur, melainkan mitra kreatif yang menyatukan visi artistik dunia dengan keahlian craftmanship yang presisi.
Asosiasi Produsen Alas Kaki, Komponen, dan Barang Kulit Portugal (APICCAPS) mengungkapkan bahwa kampanye ini bertujuan menyelaraskan label “Made in Portugal” dengan inovasi, pengembangan estetika, dan kreasi mutakhir. Di bawah sorotan lampu runway, kolaborasi ini membuktikan bahwa sepatu bukan lagi sekadar pelengkap busana, melainkan sebuah pernyataan seni yang utuh.
Gebrakan Estetika di New York Fashion Week
Panggung New York Fashion Week (NYFW) menjadi saksi bisu keanggunan alas kaki Portugal yang tampil dalam sedikitnya empat peragaan busana prestisius. Desainer kenamaan Patricio Campillo kembali menggandeng Mariano Shoes untuk menyempurnakan koleksi musim semi/panas terbarunya. Sementara itu, Daniella Kallmeyer memamerkan rancangan memukau yang dikembangkan bersama produsen JJ Heitor.
Nuansa teatrikal juga dihadirkan oleh Johnson Hartig yang mengutus para model label Libertine melenggang anggun dalam balutan sepatu karya label Portugal, Helena Mar. Tak ketinggalan, Henry Zankov—direktur kreatif kelahiran Rusia yang juga menakhodai lini rajutan artistik—memulai debut kolaborasi perdananya dengan desainer legendaris Portugal, Luís Onofre.
Kolaborasi antara Henry Zankov x Luís Onofre ini mengusung estetika retro era 1960-an yang dipadukan dengan memori personal sang desainer. Menampilkan jajaran sandal datar, sepatu hak tinggi (heels), hingga platform dengan permainan palet warna yang berani, koleksi ini lahir dari pertemuan intensif di Porto. Hebatnya, hanya dalam waktu tiga minggu, sebanyak 30 pasang sepatu kurasi tinggi berhasil diproduksi untuk langsung melenggang di NYFW.
Dari Karpet Merah Hollywood hingga Department Store Mewah Paris
Dampak dari kolaborasi ini terbukti melampaui batas panggung runway. Kemitraan antara Patricio Campillo x Mariano Shoes, misalnya, kini telah merambah ranah komersial global dengan menembus kurasi department store paling prestisius di Prancis, seperti Printemps dan Galeries Lafayette.
Kisah sukses lain datang dari kolaborasi Daniella Kallmeyer x JJ Heitor. Salah satu siluet sepatu yang mereka kembangkan berhasil memikat hati aktris dan komedian asal California, Chloe Fineman, yang mengenakannya saat menghadiri pesta eksklusif Vanity Fair dalam rangkaian perayaan Piala Oscar. Di ranah seni pertunjukan, sinergi JJ Heitor dan PC Footwear juga dipercaya untuk merancang alas kaki para aktor dalam pementasan teater legendaris “Brokeback Mountain” di Teatro da Trindade, Lisbon.
Dominasi Kreatif di Paris dan Milan
Di Paris, kiblat mode dunia, kehadiran Portugal semakin mendominasi. Desainer visioner Willy Chavarria mempresentasikan koleksi alas kaki yang dikembangkan bersama dua raksasa Portugal sekaligus: Luís Onofre untuk lini sepatu wanita, dan Mariano Shoes untuk koleksi pria. Sejak awal, proyek ini dirancang dengan orientasi komersial yang matang agar langsung dapat diakses oleh konsumen melalui butik-butik pilihan.
Sementara itu, label avant-garde Alainpaul memilih bermitra dengan PC Footwear. Kolaborasi ini mencerminkan tren baru di mana generasi desainer muda aktif mencari produsen yang mampu menerjemahkan konsep kreatif rumit mereka ke dalam produk nyata, bahkan dalam skala produksi kecil (small-batch).
Beralih ke Milan Fashion Week (MFW), desainer berbasis London, Saul Nash, berkolaborasi dengan brand spesialis alas kaki teknis ToWorkFor. Nash secara jenius merekonstruksi siluet boat shoe tradisional menjadi lebih modern dan sporty untuk koleksi Musim Semi/Panas 2027, membuktikan fleksibilitas industri Portugal dalam menggarap desain fungsional berteknologi tinggi.
Kualitas dan Fleksibilitas di Atas Kuantitas
Komitmen Portugal untuk mendekatkan industri manufakturnya dengan talenta masa depan juga diwujudkan melalui kerja sama tahun kedua antara APICCAPS dengan institusi mode ternama dunia, London College of Fashion (LCF) di bawah University of the Arts London.
Secara angka, industri alas kaki Portugal memang memiliki posisi kuat. Pada tahun 2025, negara ini memproduksi sekitar 80 juta pasang sepatu dan mengekspor hampir 90% hasil produksinya ke lebih dari 170 negara, dengan nilai ekspor klaster alas kaki dan barang kulit mencapai 2,23 miliar euro. Meskipun volume ini belum bisa menandingi dominasi produsen Asia seperti China, Portugal tidak berniat bersaing dalam perang harga atau kuantitas massal.
Strategi Portugal sangat jelas: memenangkan pasar premium global melalui fleksibilitas, kualitas material premium, keahlian teknis yang presisi, respons pengembangan yang cepat, serta kemampuan memproduksi busana kapsul dalam jumlah terbatas. Melalui kolaborasi seni di panggung runway dunia, sepasang sepatu “Made in Portugal” kini tidak hanya berbicara tentang keahlian membuat alas kaki, melainkan tentang perayaan inovasi dan kemewahan modern.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post