Manifesto 25 Tahun Sang Veteran Rock N’ Roll
Dua dekade lebih melaju di jalur cepat rock n’ roll Indonesia ternyata belum menumpulkan taring The Brandals. Menginjak usia seperempat abad sejak berdiri pada 2001, unit garage rock legendaris asal Jakarta ini resmi melepaskan amunisi penuh terbaru mereka: album studio keenam bertajuk Oposisi. Rilisan ini menjadi suksesor dari album Era Agressor (2021), sekaligus membuktikan bahwa api perlawanan dan kreativitas mereka masih jauh dari kata padam.
Mengusung 10 trek segar, album ini merangkum pergerakan The Brandals yang mulai diperkenalkan secara bertahap sejak kuartal ketiga tahun lalu. Dibuka lewat kolaborasi eksplosif bersama duo punk elektronik Sukatani dalam “Jari Kasar”, mereka terus menggelontorkan nomor-nomor tajam seperti “Di Pinggir Marjin”, “Langit Biru”, “Ke Timur”, hingga nomor krusial “1948” yang menjadi jembatan menuju peluncuran penuh album ini.
Persilangan Genre dan Eksperimentasi Bunyi Baru
Ada yang berbeda dan menarik secara estetika sonic di album Oposisi. Untuk mengeksplorasi wilayah musikal yang lebih luas, The Brandals menggandeng duo produser Jonathan Mono dan Jonathan Pardede. Sentuhan dingin tangan dingin kedua produser berlatar belakang musik elektronik ini berhasil menyuntikkan lanskap bunyi baru—mulai dari lapisan synthesizer, dentingan piano, keyboard, hingga manipulasi efek suara yang memperkaya aransemen mentah khas rock n’ roll mereka.
Proses penggarapan yang memakan waktu dari September 2024 hingga Desember 2025 di studio Atas Music, Jakarta Barat, ini banyak menyerap energi persilangan genre era 80-an hingga 90-an. Pendengar akan menemukan jejak-jejak spirit The Clash, Blondie, INXS, hingga atmosfer post-punk ala Bauhaus. Tak hanya itu, denyut madchester dari The Stone Roses dan Happy Mondays serta groove hip-hop ala De La Soul turut berkelindan membentuk karakter audio yang megah namun tetap ugal-ugalan.
Sikap Politik, Solidaritas Global, dan Kontemplasi Personal
Pemilihan judul Oposisi bukan sekadar gagah-gagahan jargon. Tajuk ini menegaskan posisi berdiri The Brandals dalam merespons ketimpangan sosial dan gejolak politik. Garis keras kritik tersebut tergambar jelas dalam trek “Jari Kasar”, “Di Pinggir Marjin”, dan “Ke Timur”. Sementara itu, krisis ekologi dan kerusakan alam mendapat porsi sorotan khusus lewat lagu “Langit Biru”.
Salah satu poin paling krusial dalam album ini terletak pada nomor “1948”. Lagu ini merupakan bentuk penyuaraan sikap dan dukungan penuh The Brandals terhadap kemerdekaan rakyat Palestina. Angka 1948 merujuk langsung pada peristiwa sejarah kelam Nakba—tragedi pengusiran dan pemindahan paksa lebih dari 750.000 warga Palestina dari tanah air mereka. Di sisi lain, album ini tidak melulu berteriak soal isu makro; mereka menyisipkan ruang kontemplatif yang lebih personal dan intim melalui lagu bertajuk “Midnight, Dharmawangsa Parking Lot”.
Formasi Baru dan Babak Baru Perjalanan
Album Oposisi juga menjadi ruang pembuktian bagi formasi teranyar The Brandals. Sepeninggal Tony Dwi Setiaji dan Firman Zaenudin, kuartet ini kini digawangi oleh Eka Annash (vokal), Mulyadi Natakusumah (gitar), Radhit Syaharzam (bass), serta amunisi baru di lini belakang, drum Ghani Noorputrawan yang resmi bergabung pada awal 2025.
Dengan formasi baru yang lebih segar dan keberanian menabrakkan rock n’ roll dengan elemen elektronik, The Brandals membuktikan bahwa memasuki usia 25 tahun, mereka bukan sekadar memorabilia hidup masa lalu. Lewat Oposisi, mereka tetap menjadi pengamat zaman yang tajam, relevan, dan berbahaya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post