Indonesia Menanti Sekjen Baru PBB: Mampu Menjawab Tantangan Global dengan Hasil Nyata
Pemerintah Indonesia menyuarakan harapan besar terhadap sosok yang bakal memimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya. Seiring dengan makin dekatnya akhir masa jabatan António Guterres, Indonesia menekankan pentingnya kepemimpinan baru yang tidak hanya sekadar menjaga prinsip diplomasi, tetapi juga mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia.
Pesan krusial tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, saat menyampaikan pernyataan nasional di Sidang Majelis Umum PBB di New York. Indonesia menilai bahwa perubahan kepemimpinan di badan dunia ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem multilateralisme dalam menghadapi krisis global yang kian kompleks.
“Sekretaris Jenderal PBB berikutnya akan mengemban tanggung jawab yang sama besarnya untuk menegakkan Piagam PBB, memperkuat organisasi, serta menerjemahkan prinsip multilateralisme menjadi hasil yang nyata bagi masyarakat,” ujar Sugiono di hadapan forum diplomatik tertinggi dunia tersebut.
Tantangan Multilateralisme dan Tanggung Jawab Bersama
Masa kepemimpinan António Guterres yang akan resmi berakhir pada akhir 2026 diakui sebagai salah satu periode paling dinamis sekaligus sulit dalam sejarah PBB. Selama hampir satu dekade terakhir, organisasi beranggotakan 193 negara ini dihantam berbagai gelombang krisis besar, mulai dari konflik bersenjata, pandemi Covid-19, krisis kemanusiaan global, hingga disrupsi pesat teknologi digital.
Meski mengapresiasi kepemimpinan Guterres dalam mengarungi masa-masa sulit tersebut, Sugiono mengingatkan bahwa keberhasilan PBB tidak semata-mata bergantung pada sosok Sekretaris Jenderal. Negara-negara anggota memiliki kewajiban moral dan politik yang sama untuk memastikan mekanisme kerja sama internasional dapat berfungsi secara efektif.
“Indonesia siap mengambil peran dan berkontribusi. Hal ini sejalan dengan mandat konstitusi kami untuk ikut serta mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” tegasnya, menegaskan komitmen diplomasi bebas-aktif yang diusung Jakarta.
Peta Persaingan Kandidat Sekjen PBB Selanjutnya
Bursa pencalonan untuk mengisi posisi tertinggi di PBB kini mulai memanas. Saat ini, terdapat tujuh figur diplomatik dan mantan kepala negara yang resmi bersaing merebut posisi Sekretaris Jenderal PBB mendatang:
- Ivonne A-Baki (Diplomat senior asal Ekuador)
- María Fernanda Espinosa Garcés (Mantan Menteri Luar Negeri Ekuador)
- Rafael Grossi (Kepala Badan Tenaga Atom Internasional/IAEA asal Argentina)
- Olara Otunnu (Diplomat veteran asal Uganda)
- Macky Sall (Mantan Presiden Senegal)
- Rebeca Grynspan Mayufis (Ekonom kenamaan asal Kosta Rika)
- Carolyn Rodrigues Birkett (Mantan Menteri Luar Negeri Guyana)
Sementara itu, dua tokoh perempuan lainnya, yakni mantan Presiden Cile Michelle Bachelet Jeria dan pejabat senior PBB Virginia Gamba, dinyatakan telah mundur dari bursa pencalonan.
Proses seleksi Sekjen PBB dikenal sangat ketat. Seorang kandidat harus mengantongi minimal sembilan suara dukungan dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, tanpa ada veto dari lima anggota tetap (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Tiongkok, dan Rusia). Kandidat yang lolos seleksi Dewan Keamanan selanjutnya akan direkomendasikan ke Majelis Umum PBB untuk dilantik secara resmi.
Warisan Kepemimpinan dan Pesan Terakhir António Guterres
Dalam pidato perpisahannya di forum Majelis Umum PBB, António Guterres menyampaikan refleksi mendalam mengenai masa depannya dan arah dunia ke depan. Ia memperingatkan bahwa stabilitas global di masa mendatang sangat ditentukan oleh bagaimana masyarakat internasional merespons ancaman perang, ketimpangan ekonomi, krisis iklim, serta perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI).
Guterres juga menegaskan komitmen pribadinya untuk terus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan meskipun nantinya sudah tidak lagi menjabat sebagai pimpinan tertinggi PBB.
“Di mana pun saya berada dan apa pun yang akan saya lakukan, saya akan terus memegang teguh keyakinan bahwa perdamaian itu mungkin diwujudkan dan martabat manusia bersifat universal. Kekuatan hukum harus selalu menang atas hukum kekuasaan, dan masa depan kita bersama adalah sesuatu yang layak untuk diperjuangkan,” tutur Guterres menutup pengabdian diplomatisnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post