Laju alih fungsi lahan pertanian di kawasan Malang Raya—yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu—kini berada pada titik krusial. Pesatnya ekspansi permukiman, kawasan industri, hingga masifnya pembangunan infrastruktur penunjang sektor pariwisata terus menggerus ketersediaan lahan produktif. Tanpa langkah konkret berbasis intervensi teknologi dan peningkatan kesejahteraan petani, ancaman terhadap ketahanan pangan daerah berpotensi menjadi krisis di masa depan.
Tekanan Sektor Pariwisata dan Menurunnya Pendapatan Petani
Penyusutan area pertanian di Malang Raya tidak hanya dipicu oleh pertumbuhan penduduk, tetapi juga ketatnya kompetisi pemanfaatan ruang dengan sektor pariwisata dan industri. Banyak petani terdorong menjual atau mengalihfungsikan lahan mereka lantaran hasil usaha tani yang tak lagi sebanding dengan biaya produksi.
Guru Besar Program Doktor Ilmu Pertanian Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., mengungkapkan bahwa ancaman alih fungsi lahan di kawasan ini makin nyata. “Ancaman di Malang yang tergolong besar adalah pariwisata. Pemilik lahan lebih cenderung menjual tanah atau membangun infrastruktur untuk sarana prasarana pariwisata. Hal tersebut secara langsung mengurangi luas lahan pertanian produktif,” terangnya.
Menurut Prof. Indah, keputusan petani melepas aset tanahnya kerap kali dipicu oleh penurunan produktivitas lahan yang berdampak pada merosotnya pendapatan. “Alasan utama petani menjual tanah kepada industri pariwisata adalah karena produktivitas lahannya semakin menurun. Secara kalkulasi agribisnis, mereka berada di posisi merugi sehingga tidak mendapatkan pendapatan yang layak,” tambahnya.
Optimalisasi Lahan Lewat Teknologi dan Pendampingan Lapangan
Mengingat opsi perluasan lahan (ekspansi) hampir tidak mungkin dilakukan di tengah padatnya wilayah Malang Raya, langkah paling strategis yang harus ditempuh adalah optimalisasi lahan ter sisa. Strategi ini memprioritaskan efisiensi biaya serta peningkatan hasil panen guna menjaga margin keuntungan petani.
Pendekatan berbasis teknologi biologis menjadi salah satu solusi unggulan yang ditawarkan akademisi. Riset yang mencakup pemanfaatan pembenah tanah, pupuk hayati, hingga pupuk organik cair terbukti mampu memulihkan kualitas hara tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan, dan meminimalisasi risiko serangan hama.
Guna memastikan inovasi tersebut diserap dengan baik oleh komunitas lokal, metode demonstrasi plot (demplot) diterapkan sebagai laboratorium lapang. Melalui keterlibatan langsung di lapangan, petani dapat melihat bukti konkret sebelum menerapkan teknologi baru secara luas pada lahan mereka.
“Petani sejatinya sangat cerdas dan realistis. Keberhasilan transfer teknologi sangat bergantung pada pola komunikasi serta pendampingan. Jika mereka meyakini bahwa teknologi yang ditawarkan terbukti meningkatkan hasil panen, mereka pasti akan mengadopsinya,” jelas Prof. Indah.
Sinergi Inter-Wilayah Menjaga Keseimbangan Pangan Malang Raya
Meski menghadapi tekanan alih fungsi lahan yang signifikan, neraca ketahanan pangan di tingkat Malang Raya secara agregat dinilai masih berada dalam batas aman dan ideal. Kendati demikian, terdapat ketimpangan kemampuan produksi di antara ketiga daerah.
Kota Malang yang didominasi kawasan perkotaan mengalami defisit lahan, sementara Kabupaten Malang masih menyuplai surplus komoditas pangan. Di sisi lain, Kota Batu berfokus pada hortikultura dan pariwisata. Oleh karena itu, peta ketahanan pangan kawasan ini sangat bergantung pada kelancaran rantai pasok dan kolaborasi antarwilayah.
Langkah menjaga ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan regulasi pemetaan kawasan atau penetapan perlindungan lahan semata. Diperlukan sinergi lintas sektor—meliputi pemerintah daerah, perguruan tinggi, kelompok tani, hingga pelaku usaha—untuk menjamin kepastian pasar dan harga jual hasil tani yang stabil. Dengan tingkat produktivitas yang tinggi dan nilai ekonomi yang menjanjikan, para petani memiliki alasan kuat untuk tetap mempertahankan lahan pertanian mereka dari gempuran alih fungsi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post