Pasar keuangan Indonesia kembali dihantam gelombang tekanan eksternal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meluncur deras ke zona merah pada penutupan perdagangan Kamis, terimbas oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS (US Treasury), penguatan mata uang dolar AS, serta maraknya aksi jual bersih oleh investor asing di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG anjlok 76 poin atau setara 1,2 persen ke level 6.298. Sepanjang jam perdagangan, indeks saham domestik bergerak loyo tanpa perlawanan berarti di rentang level terendah 6.287 hingga titik tertinggi harian di 6.368.
Aktivitas transaksi mencatatkan volume sebesar 29,3 miliar lembar saham dengan nilai transaksi (turnover) mencapai Rp 11,23 triliun dari 1,6 juta kali transaksi. Tekanan pasar terlihat dari dominasi saham yang melemah, di mana sebanyak 462 saham berguguran, 188 saham menguat, dan 144 saham stagnan.
Eskalasi Geopolitik dan Risiko Inflasi Global
Tim riset analis Pilarmas mengonfirmasi bahwa sentimen negatif dari pasar global menjadi faktor utama yang merontokkan IHSG. Para pelaku pasar cenderung mengambil langkah antisipatif dan berhati-hati merespons prospek suku bunga AS yang masih penuh teka-teki, melonjaknya imbal hasil obligasi, dan penguatan keperkasaan dolar AS.
Kondisi pasar kian diperparah oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan tajam pasar modal dunia karena berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu kenaikan harga minyak mentah.
Lonjakan harga minyak diproyeksikan bakal melambungkan kembali angka inflasi global. Jika inflasi bertahan di tingkat tinggi, ruang bagi bank-bank sentral dunia untuk melonggarkan kebijakan moneter atau memangkas suku bunga akan makin sempit. Risiko ini memicu para investor melepas aset-aset berisiko tinggi (risk-off) seperti saham, lalu mengalihkan dana mereka ke instrumen pasar uang yang lebih aman.
Arah Hubungan dagang AS-Tiongkok
Selain geopolitik Timur Tengah, perhatian investor global kini tertuju pada rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington.
Pertemuan kedua pemimpin negara berdaya ekonomi terbesar di dunia tersebut dijadwalkan membahas kelanjutan hubungan perdagangan bilateral, khususnya perpanjangan masa jeda perang dagang (trade truce). Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa kedua belah pihak telah sepakat memperpanjang kesepakatan gencatan senjata dagang selama dua bulan hingga 10 Januari mendatang, meski pemerintah Tiongkok secara resmi belum mengonfirmasi tanggal pasti berakhirnya kesepakatan tersebut.
Agenda diplomasi ekonomi Trump dan Xi Jinping diprediksi juga akan menyentuh isu-isu strategis kawasan serta sektor krusial, meliputi pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), dinamika isu Iran, status Taiwan, hingga stabilitas hubungan ekonomi kedua negara.
Rupiah Tertekan dan Perlambatan Ekonomi Domestik
Dari dalam negeri, kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah dan hengkangnya modal asing (capital outflow) makin memberatkan langkah IHSG. Penguatan dolar AS yang dibarengi lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS kian menghimpit nilai tukar mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), tidak terkecuali rupiah.
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah menahan suku bunga acuan pada level tetap untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengawal pertumbuhan ekonomi, tingginya volatilitas pasar eksternal membuat aset-aset berbasis pasar keuangan domestik sangat rentan terhadap perubahan sentimen global.
Faktor lain yang turut memicu kehati-hatian investor adalah indikasi awal perlambatan pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga di dalam negeri. Akumulasi dari deretan sentimen negatif ini memaksa investor bersikap lebih selektif dan mengencangkan aksi jual pada sejumlah saham unggulan.
Dinamika Bursa Saham Kawasan Asia
Pergerakan bursa saham di kawasan Asia Pasifik bergerak bervariasi (mixed) merespons volatilitas global ini:
- Jepang: Indeks Nikkei 225 justru mampu membukukan kenaikan 0,8 persen, didorong oleh aksi beli saham-saham produsen semi konduktor seiring bangkitnya minat investor terhadap ekosistem kecerdasan buatan (AI).
- Hong Kong: Indeks Hang Seng tergerus 0,3 persen.
- Tiongkok: Indeks Shanghai Composite ikut melemah sebesar 1,2 persen.
- Korea Selatan: Pasar keuangan di negara ini tutup karena memperingati libur nasional festival panen Chuseok.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post