Meta kini tidak lagi sekadar bermain di ranah media sosial. Raksasa teknologi yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg ini resmi menancapkan taringnya lebih dalam ke ekosistem kecerdasan buatan (AI) melalui Muse, agen AI personal yang digadang-gadang akan menjadi “superintelejensia” bagi miliaran pengguna di seluruh dunia.
Era Baru Agen Personal: Bukan Sekadar Chatbot
Dalam ajang tahunan Meta Connect di Menlo Park, Zuckerberg menegaskan bahwa Muse adalah taruhan terbesar perusahaan saat ini. Berbeda dengan model bahasa besar (LLM) konvensional, Muse dirancang sebagai agen yang mampu melakukan tindakan nyata—menangani tugas harian, mengelola surel, hingga mengatur jadwal—dengan integrasi mendalam ke berbagai perangkat dan layanan digital pengguna.
Ditenagai oleh Muse Spark, model multimodal yang dioptimalkan untuk kerja agenik, Meta memosisikan Muse sebagai asisten yang lebih aksesibel dibandingkan kompetitornya. Zuckerberg bahkan memiliki visi ambisius: Muse akan menjadi mitra produktivitas yang mampu membantu pengguna mencapai tujuan hidup dan, pada akhirnya, menghasilkan keuntungan ekonomi bagi penggunanya.
Wajah Baru Muse: Personalisasi dan Integrasi Fisik
Meta membawa sentuhan futuristik dengan memperkenalkan Jolly, avatar digital yang memberikan “wajah” dan “suara” pada agen AI tersebut. Melalui model Muse Realtime Avatar, pengguna kini bisa berinteraksi secara visual melalui panggilan video real-time. Langkah ini menjadi indikasi kuat bahwa Meta ingin membuat interaksi AI terasa lebih manusiawi dan personal.
Tak berhenti di layar, Muse kini merambah ke perangkat keras melalui integrasi dengan kacamata pintar Meta. Pengguna cukup memberikan perintah suara, dan Muse akan bertindak sebagai asisten pribadi yang sigap: mulai dari memandu sesi olahraga, mencatat asupan makanan, hingga membantu proses belanja barang yang dilihat langsung oleh pengguna.
Otomatisasi Pekerjaan di Mac
Salah satu terobosan paling signifikan adalah kemampuan Muse untuk mengambil alih kendali perangkat desktop. Meta mengonfirmasi bahwa Muse akan segera beroperasi di perangkat Mac. Dengan kemampuan ini, pengguna dapat mendelegasikan tugas-tugas kompleks kepada AI untuk menjalankan aplikasi di latar belakang.
Alexandr Wang, Chief AI Officer Meta, menjelaskan bahwa pengguna dapat meninggalkan komputer mereka sementara Muse tetap bekerja menyelesaikan daftar tugas yang telah ditentukan. Hal ini membuka potensi besar bagi pemilik bisnis kecil untuk mengotomatisasi alur kerja tanpa harus memantau layar secara terus-menerus.
Ekosistem yang Terkoneksi: Dari Email hingga Belanja
Meta memperluas utilitas Muse dengan memberikan alamat email khusus bagi agen tersebut. Pengguna nantinya dapat melibatkan Muse dalam utas percakapan email atau meneruskan tugas tertentu kepada agen untuk diselesaikan secara mandiri.
Lebih jauh, Meta membangun jembatan ekonomi melalui kemitraan strategis dengan raksasa ritel dan pembayaran. Muse kini terintegrasi dengan Shopify, Stripe, PayPal, Best Buy, Gap, Sephora, Walmart, hingga Expedia. Dengan dukungan konektor ke platform kerja seperti GitHub, Granola, dan Notion, Muse diproyeksikan menjadi pusat kendali digital yang komprehensif.
Antusiasme pengembang pun tampak tinggi. Meta mencatat lebih dari 1.500 aplikasi dari pengembang yang ingin membangun “konektor” untuk Muse dalam waktu kurang dari sepekan setelah platform tersebut dibuka. Bagi Meta, ini bukan sekadar peluncuran fitur, melainkan upaya membangun platform generasi baru yang akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi di masa depan.
Mengenai model bisnis, Zuckerberg memberikan sinyal jelas: Muse akan tersedia secara gratis dengan kuota token yang besar, sementara perusahaan berencana mengambil komisi kecil dari transaksi yang diproses melalui ekosistem agen tersebut di masa mendatang.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post