Di balik kemilau panggung runway dan estetika busana yang memikat, industri gaya hidup global kini berhadapan dengan rahasia besar yang kian sulit disembunyikan. Laporan tahunan terbaru mengenai produksi serat global dari organisasi nirlaba Textile Exchange mengungkap fakta mengejutkan: meski komitmen keberlanjutan (sustainable fashion) dari jenama-jenama papan atas menunjukkan tren positif, jurang antara janji hijau korporat dan realitas lingkungan justru semakin melebar.
Di satu sisi, kelompok 384 merek dan peritel fesyen dunia yang memiliki komitmen CSR tinggi berhasil mencatatkan transformasi nyata. Namun di sisi lain, laju produksi serat sintetis yang tak terkendali mendorong total emisi karbon industri pakaian dan gaya hidup ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Langkah Hijau Label Fesyen Dunia
Bagi komunitas pecinta mode yang mendambakan sustainable fashion, laporan ini membawa kabar buruk sekaligus kabar baik. Kelompok merek yang dipantau berhasil menekan penggunaan virgin polyester—bahan sintetis berbasis murni minyak bumi—dari 540.000 ton menjadi 480.000 ton pada tahun fiskal 2025. Alhasil, porsi penggunaan poliester daur ulang (recycled polyester) melonjak hingga 76%, naik signifikan dari angka 67% pada tahun sebelumnya.
Kenaikan positif juga terlihat pada pengadaan material katun berkelanjutan. Merek-merek yang berpartisipasi mampu meningkatkan proporsi katun berstandar ramah lingkungan hingga 82%. Secara keseluruhan, penggunaan serat yang bersertifikasi atau berasal dari program berkelanjutan berhasil menyentuh angka 72%.
“Data tahunan terbaru kami membuktikan capaian yang luar biasa ketika para pelaku industri memiliki komitmen kuat, mengambil tindakan nyata, dan saling berkolaborasi untuk mempercepat transisi menuju sistem produksi yang lebih ramah lingkungan,” ungkap Beth Jensen, Head of Impact di Textile Exchange. Menurutnya, kelompok merek pionir ini berhasil menunjukkan kepemimpinan yang melampaui tren global.
Bayang-bayang Emisi Karbon di Balik Tren Fast Fashion
Namun, keanggunan narasi keberlanjutan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi industri serat secara keseluruhan. Di tingkat global, pengadaan bahan baku berkelanjutan ternyata baru mencakup 20% dari total volume produksi industri.
Dampak paling tajam terlihat pada jejak karbon industri fesyen, perlengkapan rumah tangga, hingga alas kaki yang terus melonjak. Emisi gas rumah kaca dari produksi bahan baku tekstil diperkirakan menembus angka fantastis sekitar 325 juta ton setara CO₂. Angka ini melonjak 30% dibandingkan garis dasar (baseline) tahun 2019, padahal target efisiensi global mematok penurunan emisi sebesar 45% pada 2030 mendatang.
Penggunaan poliester sintetis berbasis fosil menjadi penyumbang emisi terbesar, yakni menyumbang 43% dari total dampak lingkungan sektor ini. Material ini jauh melampaui kontaminasi karbon dari bahan lain seperti man-made cellulosic fibres (13%), nilon (11%), katun (11%), wol (8%), hingga material kulit (3%).
Tantangan Daur Ulang Tekstil dan Transparansi Pasokan
Isu krusial lainnya terletak pada efektivitas sistem daur ulang kain-ke-kain (textile-to-textile recycling). Meski istilah recycled fashion gencar dikampanyekan, kenyataannya hanya 1,5% dari poliester daur ulang yang digunakan oleh merek-merek tersebut benar-benar berasal dari limbah tekstil. Angka ini hanya mewakili 1,1% dari total konsumsi poliester mereka.
Secara keseluruhan, proses mendaur ulang pakaian bekas menjadi benang baru untuk seluruh jenis serat secara global baru menyentuh angka 0,76%. Sementara itu, proporsi material pre-consumer maupun post-consumer yang dimanfaatkan oleh deretan label mode ternama masih tertahan di angka 2%.
Kesenjangan yang tajam antara janji kampanye dan realitas pasar ini mendorong Textile Exchange untuk memperketat aturan main. Mulai tahun 2027, seluruh merek anggota diwajibkan melaporkan rantai pasokan material mereka secara tahunan. Langkah tegas ini dinilai sangat mendesak, mengingat hingga saat ini, asal-usul dari 79% volume bahan baku tekstil yang beredar di industri fesyen dunia masih gelap dan tidak diketahui Jejaknya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post