Berdiri di tengah hiruk-pikuk persimpangan jalan protokol Kota Malang hari ini, deretan tiang lampu lalu lintas modern dengan lampu LED tampak lumrah mengatur arus kendaraan. Namun, jika kita memutar kembali roda waktu ke medio 1930-an, Kota Malang sejatinya telah menjadi salah satu kota paling modern di Hindia Belanda dalam urusan manajemen lalu lintas jalan raya.
Kala itu, perempatan jalan utama kota telah dilengkapi teknologi mutakhir berupa lampu pengatur lalu lintas bertenaga listrik yang digantung melayang tepat di tengah persimpangan.
Uniknya ‘Lampu Gantung’ Sangkar Burung: STOP, AWAS, dan DJALAN
Sebelum lampu tiang berdiri di sudut-sudut trotoar, lampu pengatur lalu lintas elektrik generasi awal ini memiliki wujud yang sangat unik. Berbentuk lentera besar menyerupai sangkar burung, perangkat ini dibiarkan menggantung pada bentangan kabel baja melintang di atas tengah-tengah perempatan.
Berbeda dari pengaturan manual oleh petugas, alat ini bekerja secara mekanik-elektrik dengan menyalakan tiga tanda sinyal vertikal berurutan dari atas ke bawah:
-
STOP (lampu warna merah)
-
AWAS (lampu warna kuning)
-
DJALAN (lampu warna hijau)
Warga lokal Jawa di Malang pada masa itu mengenalnya dengan beragam sebutan hangat, mulai dari lampu stopan, lampu gantung, hingga istilah legendaris lampu bangjo—akronim dari abang (merah) dan ijo (hijau). Desain lentera gantung sangkar burung ini terbukti efektif dan terus bertahan melayani arus perlintasan kota hingga dekade 1950-an.
Melirik sisi kiri potret arsip klasik tersebut, mata kita disuguhi fasad bangunan megah bertingkat bergaya Nieuwe Bouwen atau modern tropis era kolonial. Gedung tersebut adalah Hotel Mabes, salah satu hotel terkemuka di Kota Malang yang didirikan pada tahun 1930.
Bangunan hotel ini merupakan mahakarya rancangan Karel Bos, salah satu arsitek tersohor yang banyak menorehkan jejak perancangan bangunan penting di Jawa Timur. Pada masa kejayaannya:
-
Hotel Mabes menjadi destinasi singgah favorit para pelancong, pengusaha perkebunan, dan kalangan elit Hindia Belanda yang berkunjung ke Malang.
-
Di lantai dasar gedung ini, beroperasi sebuah apotek modern yang melayani kebutuhan obat-obatan warga kota.
-
Memasuki era pascakemerdekaan pada tahun 1950-an, pengelolaan bangunan ini sempat berganti wajah menjadi hotel jaringan YMCA (Young Men’s Christian Association).
Dinamika Jalanan dan Transformasi Menuju Gedung Modern
Potret masa lalu tersebut merekam kontrasnya harmonisasi transportasi era peralihan: sedan-sedan klasik bermesin uap/bensin melintas berdampingan dengan sepeda ontel warga, dokar, becak, hingga bemo roda tiga awal.
Seiring laju modernisasi tata kota Malang, keberadaan Hotel Mabes kini tinggal kenangan yang tersimpan dalam arsip foto sejarah. Struktur fisik karya arsitek Karel Bos tersebut telah dibongkar dan di atas tapak tanah yang sama kini berdiri gedung kantor perbankan modern (BCA).
Meskipun wujud arsitektur lamanya telah lenyap digantikan beton perkantoran masa kini, rekaman visual ini menjadi saksi otentik: bahwa sejak hampir seabad lalu, Kota Malang telah memiliki denyut peradaban urban yang rapi, tertata, dan sarat inovasi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.







Discussion about this post