Setiap kali melangkahkan kaki di sepanjang pedestrian Jalan Basuki Rahmat, bayangan riuh pertunjukan musik jalanan dan pendar lampu jalan bergaya klasik kini menyapa hangat warga maupun wisatawan. Namun, jika kita memejamkan mata sejenak dan melemparkan imajinasi mundur ke awal abad ke-20, aroma kopi segar dari sangrai toko lokal, dentang lonceng gereja berarsitektur Neo-Gotik, serta derak roda trem uap di atas rel besi pernah menjadi irama harian di kawasan ini.
Dikenal dengan ejaan lamanya Kajoetangan, koridor ini bukan sekadar jalan protokol biasa. Ia adalah jantung sejarah, ruang etalase kejayaan ekonomi kolonial, sekaligus saksi bisu transformasi Kota Malang dari pemukiman agraris menjadi megapolitan berkarakter.
Asal-usul nama “Kayutangan” sendiri menyimpang cerita rakyat dan fakta sejarah yang unik. Konon, nama ini merujuk pada keberadaan sebatang pohon petung/kayu di persimpangan jalan utama menuju utara (arah Surabaya). Dahan atau ranting pohon tersebut tumbuh secara alami membentang dan meliuk menyerupai jemari telapak tangan manusia.
Pohon “bertangan” ini dahulunya dimanfaatkan oleh warga lokal maupun musafir sebagai penanda batas wilayah sekaligus penunjuk arah jalan dari kawasan Alun-alun menuju ke arah utara. Meski pohon tersebut kini telah lama tiada, namanya terpatri abadi dalam memori kolektif arek-arek Malang.
‘Winkelstraat’ Elit: Pusat Belanja Klasik dan Demam Kopi
Lompatan besar Kajoetangan terjadi pada akhir abad ke-19 seiring meletusnya ledakan ekonomi (booming) perkebunan kopi dan tebu di wilayah Malang Raya. Kehadiran jalur kereta api yang dioperasikan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) makin mempercepat arus moda dan barang.
Oleh Pemerintah Hindia Belanda, Kajoetangan dirancang khusus sebagai winkelstraat—sebuah koridor pertokoan komersial kelas atas. Di sepanjang trotoar yang lebar dan teduh oleh rindangnya pepohonan, berdiri deretan ruko gaya Art Deco dan Indische Empire:
-
Gereja Hati Kudus Yesus (1905–1906): Menara ganda bergaya Neo-Gotik ini berdiri megah di ujung jalan dan menjadi lanskap landmark paling ikonis yang tak tergeser zaman.
-
Gaya Hidup Klasik: Di jalur ini, para pengusaha Eropa dan borjuis lokal memanjakan diri—mulai dari memesan pakaian tailoring, mencuci foto di studio mode, bersantai di toko roti legendaris (seperti Toko Oen), hingga bertransaksi di lembaga perbankan.
Arsip foto klasik memperlihatkan kesibukan koridor ini pada era 1920–1930-an: mobil-mobil sedan buatan Amerika dan Eropa berlalu-lalang sejajar dengan dokar, sepeda angin, hingga gerobak dagang lokal bertuliskan “Kajoetangan” yang didorong penuh kehangatan.
Kehidupan ‘Nggang’ dan Rumah-Rumah Zaman Dulu
Sisi menarik Kajoetangan tidak hanya terletak pada megahnya etalase toko di pinggir jalan raya. Tepat di balik deretan ruko utama, membentang lorong-lorong perkampungan warga (Kampung Kayutangan).
Di dalam gang-gang ini, waktu seolah berhenti. Rumah-rumah berarsitektur Indische, bangunan berdinding kayu dengan ornamen ubin PC kuno, serta struktur hunian tradisional Jawa masih berdiri kokoh dan dirawat secara turun-temurun oleh warga. Hubungan harmonis antara kawasan komersial di luar dan kehangatan Kampung Heritage di dalam menjadi keunikan struktur tata ruang kota yang jarang ditemui di tempat lain.
Dari Basuki Rahmat Menuju ‘Kayutangan Heritage’
Pasca-kemerdekaan Indonesia, nama koridor ini secara resmi diubah menjadi Jalan Basuki Rahmat sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan nasional. Walau demikian, sebutan Kajoetangan tak pernah benar-benar memudar.
Lewat revitalisasi berkonsep Kayutangan Heritage, Pemerintah Kota Malang menghidupkan kembali roh keemasan masa lalu. Penataan trotoar ramah pejalan kaki, lampu-lampu taman bergaya vintage, hingga preservasi gedung cagar budaya berhasil mengembalikan atmosfer romantis khas tempo doeloe.
Kini, Kayutangan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif—tempat anak muda berkumpul, musisi jalanan mengekspresikan seni, serta pecinta sejarah merayakan kenangan nostalgia. Kajoetangan bukan sekadar deretan batu bata tua, melainkan identitas dan kebanggaan yang terus bernapas dari masa ke masa.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.


Discussion about this post