Bagi warga Kota Malang modern, kawasan Gajayana mungkin identik dengan kemacetan jalanan pusat kota, riuhnya pusat perbelanjaan Mall Olympic Garden (MOG), atau riuh pendukung sepak bola di Stadion Gajayana. Namun, jika mesin waktu diputar mundur seabad ke belakang, tapak tanah yang sama adalah sebuah oase olahraga modern paling menawan di Jawa Timur bernama Zwembad Gajayana.
Bukan sekadar tempat berenang biasa, kolam renang tertua di Bumi Arema ini menyimpan rekam jejak panjang mengenai arsitektur tata kota Hindia Belanda, simbol status sosial era kolonial, hingga transformasi peran menjadi cetakan atlet akuatik kebanggaan Indonesia.
Ambisi Bouwplan dan Oase Modern di Barat Malang
Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gemeente Malang) merancang perluasan kota ke arah barat melalui tata ruang ikonis yang dikenal sebagai Bouwplan. Dalam perencanaan tersebut, area Gajayana dirancang khusus sebagai pusat olahraga terpadu (Sportpark).
Sebagai bagian utama dari Sportpark yang terintegrasi langsung dengan Stadion Gajayana, Zwembad Gajayana dibangun dengan standar yang sangat maju pada zamannya. Kolam utamanya dirancang lengkap dengan keerpunten (dinding pembalik) dan beton pemijak start untuk memenuhi standar kejuaraan renang resmi era kolonial (wedstrijdbanen).
Arsitektur Tropis: Menyatu dengan Panorama Gunung Kawi dan Panderman
Arsip dokumentasi majalah arsitektur era Hindia Belanda memperlihatkan betapa jeniusnya konsep tata ruang pemandian ini. Kolam ini dirancang terbuka dengan mengusung filosofi kesehatan tropis: “gezondheid brengende licht en lucht” (cahaya dan udara segar pembawa kesehatan).
-
Sisi Panorama yang Megah: Dari lantai atap gedung pengelola (dakterras), para pengunjung masa lalu disuguhi pemandangan jajaran pohon cemara dan lanskap Gunung Kawi serta Gunung Panderman yang berdiri gagah di ufuk barat.
-
Fasilitas Loncat Indah (Diving Tower): Tepat di tepi kolam utama, berdiri papan loncat indah bertingkat dengan rangka besi kokoh (springplank) yang menjadi daya tarik bagi perenang pemberani di masa itu.
-
Area Tepian Kolam (Perron): Sekeliling kolam dilapisi ubin (djobin) luas yang biasa digunakan menebar kursi santai dan payung peneduh untuk berjemur, menikmati iklim Malang yang sejuk.
Dari Gaya Hidup Elit Eropa hingga Kawah Candradimuka Atlet
Sebelum era kemerdekaan, Zwembad Gajayana berfungsi sebagai pusat gaya hidup (lifestyle) dan arena rekreasi eksklusif bagi kalangan elit Eropa serta warga pribumi berkecukupan di Malang. Berenang di Zwembad bukan cuma soal olah tubuh, tetapi juga soal simbol status sosial.
Namun, pasca-kemerdekaan Indonesia, alur sejarahnya berbelok indah. Setelah pengelolaannya diambil alih sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Malang dan diubah nama menjadi Kolam Renang Gajayana, tempat ini menjelmakan fungsinya dari sekadar tempat plesir eksklusif menjadi kawah candradimuka inklusif bagi masyarakat luas.
Berpuluh-puluh tahun, dinginnya air Kolam Gajayana menempa lahirnya perenang dan atlet loncat indah legendaris, baik di tingkat Jawa Timur maupun yang melenggang membela merah-putih di arena internasional.
Menjaga Memori Kolektif di Tengah Kepungan Modernitas
Kini, lanskap di sekeliling Gajayana telah berubah drastis. Pemandangan lepas ke arah gunung yang dulu bersih tanpa halangan kini terselip di antara bangunan beton dan pusat perbelanjaan modern.
Meski wujud fisik fasilitasnya telah mengalami perbaikan dan modernisasi berulang kali, jejak Zwembad Gajayana tetap menjadi saksi bisu: bahwa jauh sebelum fasilitas olahraga modern berjamuran di mana-mana, Kota Malang sudah menjadi pionir dalam membangun budaya olahraga yang terencana dan berkelas.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.


Discussion about this post