Panggung pementasan mode kelas dunia kembali diguncang oleh perpaduan seni radikal dan pesan sosial yang tajam. Pembukaan agenda panggung mode bergengsi di Paris menjadi saksi bisu bagaimana label independen Matières Fécales meruntuhkan batasan antara estetika haute couture dan aksi protes politik. Dipimpin oleh sang direktur kreatif, Steven Raj Bhaskaran, pagelaran bertajuk ‘The Ninety-Nine Percent’ ini ditutup dengan visualisasi yang begitu membekas: dua model melangkah gontai memikul manekin yang merepresentasikan kaum miliarder di atas pundak mereka. Satu model mengenakan setelan jas putih kancing tunggal yang serba bersih, sementara model lainnya tampil dalam balutan gaun malam gold lamé lengkap dengan ekor gaun yang menjuntai dramatis.
Didirikan di Montreal pada tahun 2014 bersama Hannah Rose Dalton, label yang bernaung di bawah inkubator Dover Street Market Paris ini menyampaikan kritik terbuka terhadap kesenjangan ekonomi global. Mengambil tempat di Place de la République—sebuah lokasi bersejarah yang melambangkan semangat revolusi dan kebebasan—pergelaran ini mengukir sejarah sebagai panggung busana pertama yang digelar di area publik tersebut. Sebuah simbolisme kuat terpancar saat tiga model berkulit hitam melangkah anggun dalam balutan gaun ketat bernuansa biru, putih, dan merah, berpose tepat di depan patung monumental Marianne.
Manifesto Inklusivitas dan Penghormatan bagi Kaum Imigran
Koleksi Musim Bunga/Musim Panas 2027 dari Matières Fécales bukan sekadar pernyataan politik di atas kertas. Presentasi ini menghadirkan secara utuh 99 busana yang diperagakan oleh 99 model kulit berwarna (people of colour). Penataan panggung dan kurasi model ini diakui Steven Raj Bhaskaran sebagai bentuk penghormatan mendalam bagi latar belakang kehidupannya yang tumbuh di pemukiman sosial, sekaligus mendedikasikan karya ini untuk perjuangan para imigran di seluruh dunia.
Narasi visual diawali melalui babak pertama yang bertempo tenang dan puitis. Mengambil inspirasi dari perjalanan sang ibu yang beremigrasi dari Guyana Prancis ke Kanada, busana yang ditampilkan didominasi oleh gaun berpotongan lebar dan ansambel monokromatik. Penggunaan bahan katun putih yang bersahaja secara bertahap bertransformasi menjadi eksplorasi tekstur yang kaya lewat aplikasi kain tulle dan linen. Elemen penjahitan kustom (tailoring) serta gaun yang memeluk siluet tubuh bergerak dramatis dari warna hitam pekat, merah karmin yang anggun dalam balutan sutra, hingga warna biru laguna dengan aksen kriya perca (patchwork) dan potongan tepi mentah (raw-edge) yang memberikan kesan melayang dan transparan. Sosok ikonik Farida Khelfa turut memperkuat keanggunan babak pembuka ini.
Pemberontakan Estetika Punk dan Komersialisasi Berkelas
Atmosfer panggung berubah drastis saat asap tebal mulai memenuhi area Place de la République, menandai dimulainya babak kedua yang sarat akan semangat perlawanan subkultur punk. Musik berirama cepat mengiringi para model yang tampil garang dalam balutan jaket bomber berpotongan gantung (cropped), sepatu bot setinggi paha (thigh-high boots), gaun aksen sobekan (shredded dresses), hingga material denim berteknik cuci ekstrem (extreme wash).
Di antara eksentrisitas yang disajikan, Matières Fécales juga memamerkan kematangan bisnisnya dengan menyisipkan potongan busana yang berpotensi komersial tinggi. Jaket denim yang dilengkapi detail ritsleting berbentuk salib pada bagian punggung, serta deretan sweatshirt dan kaos bersiluet modern ditawarkan sebagai koleksi kapsul yang siap memikat para pecinta busana siap pakai (ready-to-wear) di berbagai pusat perbelanjaan ternama dunia.
Sentuhan Gotik Dreamy dan Dominasi Adibusana
Puncak pagelaran mengukuhkan reputasi Matières Fécales sebagai maestro gaun-gaun fantastis bersiluet gotik dan puitis—estetika unik yang sebelumnya telah memikat bintang dunia seperti Lady Gaga di panggung Grammy, Zendaya dalam balutan gaun bersayap kreasi penata gaya Law Roach, hingga gaun pengantin kustom untuk pernikahan lansiran seniman Gabbriette dan musisi Matty Healy.
Diiringi lantunan suara legendaris Nina Simone, babak penutup menampilkan deretan gaun mega-volumetrik yang dipadukan secara megah dengan topi-topi heboh terinspirasi dari kebudayaan Afrika Barat serta sepatu tinggi besutan rumah mode Louboutin. Penguasaan teknik kriya tingkat tinggi tercermin jelas melalui permainan renda halus, sulaman rumit, hingga aksen bulu-bulu yang melimpah. Kepiawaian mengolah volume dan detail material ini membuktikan bahwa di balik pesan provokatifnya, Matières Fécales memiliki kapasitas pengerjaan busana sekelas haute couture.
Langkah berani yang diambil oleh Matières Fécales menyegarkan kembali panggung mode Paris. Menyusul jejak desainer legendaris seperti Rick Owens dan mendiang Vivienne Westwood, label ini berhasil mentransformasi suara subkultur yang berani menjadi sebuah bahasa mode universal yang memesona, estetik, dan penuh daya pikat.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post