Pasar modal Indonesia kembali tertekan parah pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Tekanan hebat yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, melonjaknya angka inflasi AS, serta ketidakpastian domestik terkait rencana reklasifikasi pasar oleh MSCI memaksa IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) terkoreksi tajam sebesar 0,8 persen hingga meluncur ke level 5.057 pada Jumat sore.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG kehilangan 41 poin dengan dominasi aksi jual yang masif. Sebanyak 552 saham tercatat merosot, sementara hanya 194 saham yang mampu menguat dan 217 saham sisanya stagnan. Nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia menembus angka Rp 11,2 triliun (sekitar US$ 617,27 juta). Kombinasi sentimen negatif dari pasar global dan domestik ini secara serentak menggerus kepercayaan investor di hampir seluruh kawasan Asia.
Eskalasi Geopolitik AS-Iran dan Krisis Jalur Energi
Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas mengungkapkan bahwa perhatian pelaku pasar global saat ini tertuju pada dinamika militer di Timur Tengah. Risiko serangan balasan dari AS terhadap Iran kian membayangi pasar setelah komandan militer senior AS dilaporkan telah menyampaikan sejumlah opsi serangan strategis kepada Presiden AS Donald Trump. Ancaman tersebut diperkuat oleh sinyal Paul Trump yang berulang kali memperingatkan potensi dimulainya kembali serangan udara terhadap Teheran pasca-pemilu sela minggu depan.
Di saat yang sama, konflik bersenjata yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang disokong Iran semakin memperkeruh situasi di jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Sejumlah kapal tanker minyak dilaporkan terus mengalami serangan, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Ketidakpastian pasokan ini merangsang tingginya volatilitas harga minyak mentah global yang pada akhirnya direspons negatif oleh pasar saham.
Inflasi AS Melonjak dan Ketidakpastian MSCI Bayangi Domestik
Sentimen negatif global kian menguat seiring rilis data ekonomi AS yang kurang menggembirakan. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) bulanan AS melonjak menjadi 0,5 persen pada September dari sebelumnya 0,3 persen, sementara PCE tahunan merangkak naik ke level 3,6 persen. Karena PCE merupakan indikator utama yang diacu oleh Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah suku bunga, kenaikan ini langsung meningkatkan spekulasi pasar. CME FedWatch Tool kini mencatat probabilitas sebesar 75 persen bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan pada Desember mendatang.
Dari dalam negeri, sikap hati-hati investor makin menebal akibat ketidakpastian seputar rencana reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh lembaga riset MSCI. Pelaku pasar tengah memantau ketat langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meningkatkan transparansi pasar.
Tekanan bertubi-tubi ini makin diperparah oleh derasnya aksi jual investor asing (foreign outflows), pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta beban fiskal negara akibat tingginya harga minyak dunia. Kondisi tersebut memaksa para pelaku pasar melepas aset-aset berisiko tinggi (risk-off) dan mengalihkan dana mereka ke instrumen investasi yang dinilai lebih aman (safe haven).
Pelemahan IHSG berbanding lurus dengan mayoritas bursa utama di kawasan Asia. Indeks acuan Jepang, Nikkei 225, terhempas 2,1 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 3,5 persen dan SSE Composite Shanghai melemah 1,4 persen. Hanya indeks Hang Seng Hong Kong yang mampu melawan arus bursa regional dengan mencatatkan penguatan sebesar 1,5 persen.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post