JAKARTA — PT SANY Indonesia Finance resmi memulai operasional bisnisnya di Indonesia setelah mengantongi izin usaha perusahaan pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Guna mengimbangi pesatnya ekspansi ekosistem SANY Group, perusahaan pembiayaan ini tengah menyiapkan strategi penguatan modal untuk menopang pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Chief Executive Officer (CEO) PT SANY Indonesia Finance, Bryan Kasenda, mengungkapkan bahwa modal awal sebesar Rp250 miliar dari perusahaan induk diproyeksikan perlu ditambah dalam jangka menengah dan panjang. Langkah ini krusial untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan alat berat yang terus meningkat sekaligus menjaga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Antisipasi Batas Rasio Pengungkit OJK
Bryan menjelaskan, salah satu alasan utama di balik rencana penambahan modal adalah aturan batas maksimal rasio pengungkit (gearing ratio) yang ditetapkan OJK, yakni paling tinggi 10 kali dari modal sendiri.
Dengan laju pertumbuhan penjualan SANY Group yang sangat tinggi di industri alat berat, struktur permodalan yang ada saat ini diperkirakan akan mendekati batas atas rasio pengungkit dalam kurun waktu satu tahun ke depan.
“Pertumbuhan penjualan SANY Group sangat pesat, sehingga kami harus bisa menyeimbangkan pertumbuhan tersebut. Jika mendekati ambang batas OJK, kami harus melakukan injeksi modal lagi agar tetap mematuhi ketentuan,” ujar Bryan.
Untuk mendukung operasional awal, SANY Indonesia Finance telah menandatangani kerja sama strategis dengan delapan lembaga perbankan terkemuka, di antaranya Maybank Indonesia, HSBC Indonesia, Bank of China, BRI, OCBC Indonesia, SMBC Indonesia, BNP Paribas, dan UOB Indonesia. Fokus utama bisnis perusahaan saat ini adalah memberikan pembiayaan investasi secara langsung kepada pelanggan yang membeli alat berat melalui jaringan diler resmi SANY.
Utamakan Kepatuhan dan Manajemen Risiko
Di tengah rencana ekspansi yang agresif, SANY Indonesia Finance menegaskan komitmennya untuk mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan penguatan manajemen risiko.
Perusahaan telah menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten di bidang kepatuhan serta menyempurnakan prosedur internal agar penyaluran pembiayaan tidak mengabaikan prinsip kehati-hatian.
“Kami memastikan seluruh prosedur dan sistem internal siap seiring dengan pertumbuhan bisnis. Jangan sampai penjualan meningkat, tetapi aspek tata kelola dan kepatuhan justru tertinggal,” tegas Bryan.
Rencana Perluasan Jangkauan dan Dukungan Hilirisasi
Saat ini, operasional SANY Indonesia Finance masih berpusat di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun, seiring dengan ekspansi diler SANY Group ke berbagai daerah, perusahaan membuka peluang untuk mendirikan kantor cabang di wilayah strategis, guna mendekatkan layanan pembiayaan kepada konsumen di daerah.
Selain menyasar sektor konstruksi dan pertambangan umum, perusahaan juga siap mendukung proyek hilirisasi industri dan pengembangan teknologi alat berat ramah lingkungan (dekarbonisasi) yang diusung oleh SANY Group di Indonesia. Kendati demikian, Bryan menekankan bahwa setiap keterlibatan dalam proyek investasi akan tetap melewati kajian kelayakan yang ketat sesuai dengan toleransi risiko perusahaan.
Bryan berharap sinergi dan dukungan dari pemerintah, OJK, serta Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) terus terjalin dengan baik guna menciptakan iklim industri pembiayaan yang kondusif di Tanah Air.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post