Skip to main content

Malang Today

Malang Today
Beauty Fashion Music Malang
SEP 9, 2026
-- : --
⛅ 27°C
Sakitnya Cuma Jadi Tempat Singgah: Makna di Balik ‘Pelarian’ dan Ketangguhan Arek Malang, Keisya Levronka/Treble Raih Pendanaan Rp283 Miliar untuk Kembangkan Platform Simulasi Suara Berbasis AI/Sanksi Tegas Karhutla, Pemerintah Ancam Cabut Izin Perusahaan Pengobar Karhutla/Menelusuri Salju Terakhir Papua: Tiga Generasi Amungme dan Moni Menjaga Gunung Keramat/Intip Cerita ‘Raw’ di Balik Live Session Album Keempat Reality Club/Putusan Terbaru MK Soal Anggaran MBG Bakal Ubah Arah Kebijakan Nasional/Mega Science Center dan Budaya Jatim Park 1, Ruang Eksplorasi Berskala Besar dengan 1.640 Alat Peraga Sains dan Artefak Budaya di Kota Batu/REDMI Note 17 Series Resmi Hadir di Indonesia, Bawa Standar Baru untuk Smartphone Andal Jangka Panjang/Prabowo Jajal LRT Kelapa Gading dan Tegaskan Komitmen Pengembangan Transportasi Publik/Temuan Kotoran dan Kecoa di SPPG Bandung Jadi Sorotan Dinkes/Sinyal Album Baru, Ramengvrl Dobrak Tatanan Lewat Singel #COWOBARU/Booming Pusat Data AI Kini Terjang Kota-Kota Bekas Industri Raksasa/Meta Hadirkan Agen AI untuk Otomatisasi Setting WhatsApp Business/Kapitalisasi Fanatisme: Bagaimana Fandom K-Pop Bertransformasi Menjadi Mesin Ekonomi Raksasa/ZZUF Bentangkan Spektrum Musikal Baru lewat 15 Trek di Album Kedua/
Sakitnya Cuma Jadi Tempat Singgah: Makna di Balik ‘Pelarian’ dan Ketangguhan Arek Malang, Keisya Levronka/Treble Raih Pendanaan Rp283 Miliar untuk Kembangkan Platform Simulasi Suara Berbasis AI/Sanksi Tegas Karhutla, Pemerintah Ancam Cabut Izin Perusahaan Pengobar Karhutla/Menelusuri Salju Terakhir Papua: Tiga Generasi Amungme dan Moni Menjaga Gunung Keramat/Intip Cerita ‘Raw’ di Balik Live Session Album Keempat Reality Club/Putusan Terbaru MK Soal Anggaran MBG Bakal Ubah Arah Kebijakan Nasional/Mega Science Center dan Budaya Jatim Park 1, Ruang Eksplorasi Berskala Besar dengan 1.640 Alat Peraga Sains dan Artefak Budaya di Kota Batu/REDMI Note 17 Series Resmi Hadir di Indonesia, Bawa Standar Baru untuk Smartphone Andal Jangka Panjang/Prabowo Jajal LRT Kelapa Gading dan Tegaskan Komitmen Pengembangan Transportasi Publik/Temuan Kotoran dan Kecoa di SPPG Bandung Jadi Sorotan Dinkes/Sinyal Album Baru, Ramengvrl Dobrak Tatanan Lewat Singel #COWOBARU/Booming Pusat Data AI Kini Terjang Kota-Kota Bekas Industri Raksasa/Meta Hadirkan Agen AI untuk Otomatisasi Setting WhatsApp Business/Kapitalisasi Fanatisme: Bagaimana Fandom K-Pop Bertransformasi Menjadi Mesin Ekonomi Raksasa/ZZUF Bentangkan Spektrum Musikal Baru lewat 15 Trek di Album Kedua/

All Categories / Semua Kategori

Malang Beauty Fashion Music Technology Politic Celebrity Entertain Place to Go Astrology

Gaza: Cerita WNI yang ditangkap Israel – ‘Dia bukan teroris’

Sembilan warga Indonesia yang mengikuti ekspedisi Global Sumud Flotilla menuju Gaza ditangkap otoritas Israel, per Selasa (19/05). Pimpinan media massa Republika, yang dua jurnalisnya turut ditahan Israel, mendesak pemerintah menggunakan forum Board of Peace untuk membebaskan seluruh WNI yang mengikuti pelayaran bermisi kemanusiaan itu.

by Malang Today
May 20, 2026
Gaza: Cerita WNI yang ditangkap Israel - 'Dia bukan teroris'

Thoudy Bada Rifanbillahi dan Andi Angga Prasadewa, dua dari total sembilan WNI dalam ekspedisi Global Sumud Flotilla menuju Gaza yang ditangkap otoritas Israel.

“Memang tidak ada hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel. Tapi kan kita tahu bahwa Indonesia masuk bagian dari Board of Peace dan Indonesia bahkan Pak Prabowo sempat satu forum dengan Netanyahu [Perdana Menteri Israel] dan Donald Trump,” kata Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin.

“Indonesia harus mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan Internasional yang ditahan,” ujarnya.

Kementerian Luar Negeri Indonesia, dalam keterangan tertulis, menyatakan telah mengetahui penangkapan sembilan WNI tersebut. Mereka mengklaim akan menggunakan jalur diplomatik agar para WNI itu bisa dilepas oleh otoritas Israel dan kembali ke Indonesia.

Di tengah upaya pembebasan delegasi pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF), BBC News Indonesia berbincang dengan keluarga dua WNI yang saat ini masih ditahan Israel.

Di Bandung, Jawa Barat, Hany Hanifah Humanisa, ibunda dari Thoudy Bada Rifanbillahi, jurnalis Republika sekaligus partisipan GSF, mengaku sempat tak mengizinkan anaknya berlayar ke Gaza.

Namun akhirnya Hany memberi lampu hijau kepada Thoudy karena dia melihat “keinginan kuat” anaknya “yang memiliki passsion besar” dalam jurnalistik.

“Thoudy orangnya tenang,” kata Hany. “Saya khawatirnya IDF [militer Israel] yang macam-macam, menyakiti secara fisik,” ujarnya.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Salah satu kapal dalam ekspedisi GSF dipotret di pelabuhan Marmaris, Turki, 14 Mei lalu. Bendera Indonesia terlihat terpasang bersama sejumlah bendera negara lain yang menandakan asal peserta pelayaran menuju Gaza ini.

Pusat misi GSF, 18 Mei lalu menyebut kapal-kapal mereka diserang dalam “agresi ilegal di laut lepas”, sekitar 250 mil laut atau sekitar 460 kilometer dari Gaza. Perairan ini berada di bawah blokade maritim Israel.

GSF mengunggah sejumlah video, yang menurut mereka, menunjukkan pasukan Israel menembaki salah satu kapal. Kementerian Luar Negeri Israel menyangkal informasi tersebut.

Israel justru balik melempar tudingan bahwa GSF melakukan provokasi dan hendak membantu Hamas. Tuduhan ini sebelumnya juga pernah dilemparkan Israel dan telah dibantah oleh GSF yang menyatakan misi mereka adalah kemanusiaan.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, Sutrawati Kaharuddin, ibunda Andi Angga Prasadewa, salah satu WNI yang ditangkap Israel, mendesak anaknya segera dibebaskan.

“Dia tidak membawa senjata, dia hanya membawa makanan, obat-obatan untuk orang yang membutuhkan di Palestina,” kata Sutrawati.

Kisah Thoudy, jurnalis Indonesia yang kini ditahan Israel

Thoudy Bada Rifanbillahi adalah jurnalis foto Republika. Agustus 2025, Thoudy berangkat ke Tunis. Di ibu kota Tunisia itu Thoudy bergabung dengan calon partisipan ekspedisi GSF ke Gaza.

Hany Hanifah Humanisa, ibunda Thoudy, bilang anaknya saat itu mengikuti pelatihan dasar untuk bergabung dalam misi kemanusiaan yang digagas berbagai kelompok masyarakat sipil lintas negara tersebut.

Pelatihan dasar itu berlangsung tiga hari. Namun Thoudy dan calon partisipan ekspedisi GSF tidak otomatis mengikuti pelatihan tahap kedua, kata Hany.

Pelatihan lanjutan itu, kata dia, hanya bisa diikuti orang-orang yang telah terkonfirmasi akan berlayar bersama tim GSF menuju Gaza. Untuk mendapat konfirmasi itu, calon partisipan harus meneken dokumen kesepakatan dan mendapat izin dari keluarga mereka masing-masing.

Thoudy, kala itu, akhirnya batal berlayar ke Gaza. “Saya tidak izinkan,” kata Hany saat ditemui di Bandung, menengang peristiwa Agustus 2025.

Namun persinggungan dengan GSF belakangan kembali menghampiri Thoudy.

Redaksi Republika, kata Hany, memberi tugas jurnalistik kepada Thoudy dan sejawatnya, Bambang Noroyono, untuk meliput misi GSF yang akan berlayar ke Gaza.

“Ketika mau berangkat, belum ada kepastian Thoudy berlayar atau tidak. Hanya ada tugas meliput kegiatan itu. Jadi seperti tugas liputan biasanya, saya izinkan,” ujar Hany.

Awal Mei lalu Thoudy lantas terbang ke Turki. Saat anaknya berada di negara itu, ponsel Hany berdering.

“Mungkin ada pertimbangan tertentu dan mungkin sudah diprogramkan untuk konvoi kapalnya, dia minta izin lagi ke saya,” kata Hany.

Gaza, sumud flotilla

Hany menunjukkan foto Thoudy bersama saudaranya.

Sama seperti Agustus 2025, awal Mei lalu Thoudy kembali bertanya kepada Hany apakah ibunya bersedia melepasnya berlayar ke Gaza.

Kepala Hany lalu dipenuhi berbagai pertanyaan dan pertimbangan.

“Sama seperti orang tua lain, adakah orang tua yang mengantarkan anaknya ke risiko-risiko yang sudah jelas. Sebagai ibu, saya juga berpikir begitu,” tuturnya.

“Tapi saya berpikir, sebagai ibu saya tahu betul keinginan dan passion anak. Saya berpikir, anak saya jangan hidup untuk ibu dan saudaranya, tapi untuk dirinya sendiri.

“Saya lihat passion Thoudy di situ. Saya tanya, berapa persen keyakinan untuk berangkat? Dia sempat bilang 80%.

“Kami obrolkan bahwa dia tahu betul risikonya dan tujuannya, baik dari sisi pribadi maupun profesionalismenya. Akhirnya saya dukung dia secara moral dan doa,” kata Hany.

Seniman Palestina, Yezid Abu Jerad, membuat patung pasir bertuliskan 'Armada Kebebasan Gaza Memanggilmu' di pantai dekat sebuah pengungsian di Jalur Gaza, Selasa (19/05).

Sumber gambar, Getty Images

Seniman Palestina, Yezid Abu Jerad, membuat patung pasir bertuliskan ‘Armada Kebebasan Gaza Memanggilmu’ di pantai dekat sebuah pengungsian di Jalur Gaza, Selasa (19/05).

Pada 14 Mei silam, kapal yang ditumpangi Thoudy, menarik jangkar dari pelabuhan di Marmaris, Turki. Bersama 53 lainnya, rombongan GSF itu memulai perjalanan menuju Gaza.

GSF menyebut rombongan mereka tak membawa barang apapun, kecuali bantuan kemanusiaan.

Sepanjang sejarah GSF, ekspedisi mereka tak pernah mencapai Gaza. Militer Israel selalu mencegat dan menangkap rombongan mereka.

Fakta itu sempat masuk ke benak Hany. Namun dia tak mau menghalangi Thoudy mencapai keinginannya.

“Dia ingin mendokumentasikan, mengalami momen-momen itu. Dia tidak puas kalau hanya mendapat info dari orang lain. Semua jurnalis pasti begitu, sama juga dengan Thoudy,” ujarnya.

“Saya sering ngobrol dengan anak-anak saya tentang apa makna profesionalisme, bahwa kita harus menyelami apa yang sedang kita lakukan, menginternalisasi pekerjaan dengan kehidupan,” tuturnya.

Sejak 14 hingga 18 Mei, Hany terus berkomunikasi dengan Thoudy yang berada di tengah laut.

“Terakhir kali dia mengabarkan dia sudah di perairan internasional. Kurang lebih 200 mil laut ke Gaza,” kata Hany.

Namun sekitar enam jam dari komunikasi terakhir mereka, Thoudy ditangkap dan ditahan otoritas Israel.

israel, gaza

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Kapal-kapal Global Sumud Flotilla ditahan oleh militer Israel. Rombongan misi GSF itu dibawa Israel ke Pelabuhan Ashdod, Israel.

Kini Hany terus berdoa agar anaknya dibebaskan dan kembali ke Indonesia. Republika, tempat Thoudy bekerja, disebut Hany selalu memberi kabar terbaru tentang upaya pembebasan itu.

Lebih dari itu, Hany berharap Thoudy bisa terus tenang.

“Jangan sampai dia kehilangan kontrol dirinya yang bisa menyebabkan kerugian buat dirinya dan teman-temannya,” kata Hany.

“Karena menurut Thoudy dan tim yang lain, itulah kuncinya,” ujar Hany.

‘Anak saya bukan teroris’

Sutrawati Kaharuddin bersama keluarga hanya dapat memohon kepada pemerintah Indonesia untuk segera mengupayakan pembebasan terhadap anaknya, Andi Angga Prasadewa.

Angga adalah satu dari sembilan WNI dalam ekspedisi GSF yang ditangkap Israel, Senin (18/05).

Angga, 32 tahun, bergabung ke ekspedisi GSF sebagai perwakilan dari Rumah Zakat.

Sutrawati berkata, selama empat tahun bekerja di lembaga pengumpul dan penyalur zakat itu, Angga tiga kali ke Gaza. Dia juga pernah sekali ke Kamboja.

“Dia sudah tiga kali membawa bantuan ke Gaza, tapi biasanya itu lewat darat. Kalau sekarang ini lewat laut,” kata Sutrawati, saat ditemui di rumahnya di Makassar.

Setiap kali Angga pergi melaksanakan misi kemanusiaan, Sutrawati selalu khawatir, apalagi jika anaknya harus menempuh perjalanan jauh.

“Saya khawatir terus ya untuk hal-hal seperti itu, tapi saya tidak pernah sampai ke berpikir tentang penculikan,” ujarnya.

gaza, global sumud flotilla

Sumber gambar, Muhammad Aidil

Sutrawati Kaharuddin menunjukkan foto wisuda anaknya, Andi Angga Prasadewa.

Sebelum bergabung dengan ekspedisi GSF ke Gaza, Sutrawati bilang anaknya meminta izin darinya.

Keluarga mereka sempat menentang. Namun Sutrawati bilang, dia tidak mampu melarang Angga jika GSF menyatakan anaknya itu lolos seleksi.

Sutrawati tidak mengetahui pelatihan maupun mitigasi risiko yang dijalani Angga saat hendak berangkat ke Gaza.

“Tapi mereka ada pelatihannya, bagaimana caranya duduk di kapal, cara menghadap di kapal begitu,” kata Sutrawati.

“Jadi kalau dia sudah lolos seleksi, tentu saya mendukung. Tidak bisa lagi saya bilang jangan karena dia merasa bahwa dia melakukan sesuatu berdasarkan panggilan hatinya.”

Sebelum ditangkap Israel, Sutrawati masih sempat berkomunikasi dengan Angga melalui WhatsApp. Dalam komunikasi itu, Sutrawati selalu berpesan kepada Angga untuk tetap berhati-hati dalam perjalanan.

“Saya sampaikan apa yang saya rasakan bahwa saya khawatir. Dia jawab, ‘tidak apa-apa bunda’.”

Gaza, global sumud flotilla

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Terdapat 54 kapal yang berlayar menuju Gaza dalam rombongan GSF, yang berangkat dari Turki, 14 Mei lalu.

Namun Senin lalu Angga menyampaikan sesuatu yang berbeda kepada keluarganya.

“Dia bicara pada adiknya, karena tidak berani sampaikan ke saya. Dia bilang seperti ada penghalang di depan kapalnya. Mungkin dia sudah melihat tanda-tanda itu [akan ditangkap],” kata Sutrawati.

Sutrawati tak dapat lagi menghubungi Angga, sekitar pukul 15.00 WITA, 18 Mei lalu.

“Saya tahunya setelah 1 jam saya hilang kontak sama anak saya. Biasanya, biar di mana pun, tetap dia jawab. Tapi ini pesan WhatsApp saya tidak masuk, centang satu,” kata dia.

Sampai sekarang, komunikasi keluarga dengan Angga terputus.

Penangkapan rombongan GSF mengagetkan Sutrawati dan keluarganya. Rasa cemas itu muncul, kata dia, karena semua orang tahu rekam jejak militer Israel.

“Kami tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa mendoakan karena akses kami untuk ke sana tidak ada,” kata Sutrawati.

Gaza, global sumud flotilla

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Seorang anak di Gaza melihat mural yang menggambarkan bagaimana kapal-kapal GSF dicegat militer Israel, Selasa (19/05).

Rumah Zakat, tempat Angga bekerja, disebut Sutrawati sudah berupaya menyelamatkan Angga.

“Mereka langsung menghubungi kami, bahwa mereka akan melakukan upaya-upaya karena itu adalah bagian dari tanggung jawab mereka,” katanya.

Sutrawati berharap pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dalam peristiwa ini.

“Kami berharap Bapak Prabowo menyelamatkan anak saya, karena anak saya ini kan aktivis kemanusiaan. Dia hanya membawa misi bantuan ke Gaza, sebagai perwakilan Indonesia,” kata Sutrawati.

“Anak saya bukan teroris yang harus diculik. Dia tidak membawa senjata, dia hanya membawa makanan, obat-obatan untuk orang yang membutuhkan di Palestina,” tuturnya.

Apa saja upaya untuk membebaskan para WNI?

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menyebut Global Peace Conference Indonesia, badan yang mengoordinasikan rombongan WNI di GSF, sudah menyiapkan tim kuasa hukum.

Muhyiddin berkata, badan itu telah mengontak berbagai kantor kedutaan besar Indonesia di sekitar lokasi penangkapan.

Republika, bersama lembaga lain yang menernjunkan pegawainya ke ekspedisi GSF, disebut Muhyiddin juga terus berkontak dengan berbagai lembaga negara, seperti Kemlu, MPR, dan DPR.

Tujuannya, kata dia, agar Indonesia mendesak pemerintah Israel membebaskan sembilan WNI tersebut.

Lebih dari itu, Muhyiddin juga menyinggung Dewan Perdamaian alias Board of Peace (BOP)—lembaga bentukan Presiden AS Donald Trump, yang mengeklaim akan menggelar restorasi Gaza.

“Memang tidak ada hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel, tapi kan kita tahu bahwa Indonesia masuk bagian dari Board of Peace. Bahkan Pak Prabowo sempat satu forum dengan Netanyahu dan Trump,” kata Muhyiddin.

“Harusnya BOP ini bisa menjadi langkah yang ampuh. Kan aneh kalau sama-sama anggota BOP, tapi kemudian menangkap warga anggota BOP yang lain di perairan internasional,” ujarnya.

Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Mulachela, menyebut lembaganya akan melakukan pendekatan kepada berbagai otoritas di sekitar wilayah penangkapan.

“Indonesia mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan Internasional yang ditahan,” kata Nabyl, seperti dilansir kantor berita Antara.

Sebelumnya Kemlu menyatakan akan mengeluarkan Surat Perjalanan Laksana Paspor jika Israel menyita paspor sembilan WNI dalam rombongan GSF. Kemlu meminta perwakilan mereka di Mesir, Italia, dan Yordania, untuk mengawal upaya pembebasan para WNI.

Lebih dari itu, Kemlu menyatakan Israel harus menjamin penyaluran bantuan untuk warga Palestina di Gaza. Dan oleh karena itu, menurut Kemlu, penangkapan para peserta ekspedisi GSF semestinya tidak dilakukan Israel.

Source link

Logo Malang Today
Malang Today

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.

Related Posts

Sanksi Tegas Karhutla Pemerintah Ancam Cabut Izin Perusahaan Pengobar Karhutla

Sanksi Tegas Karhutla, Pemerintah Ancam Cabut Izin Perusahaan Pengobar Karhutla

by Malang Today
September 17, 2026

Pemerintah akan tegas mencabut izin usaha perusahaan yang terbukti terlibat karhutla guna memberikan efek jera dan mencegah bencana asap.

Menelusuri Salju Terakhir Papua Tiga Generasi Amungme Dan Moni Menjaga

Menelusuri Salju Terakhir Papua: Tiga Generasi Amungme dan Moni Menjaga Gunung Keramat

by BBC Indonesia
September 17, 2026

Jelajahi kisah gunung keramat Papua, jejak penaklukan, dan sejarah tiga generasi suku Amungme dan Moni di tengah sirnanya salju terakhir.

Putusan Terbaru Mk Soal Anggaran Mbg Bakal Ubah Arah Kebijakan

Putusan Terbaru MK Soal Anggaran MBG Bakal Ubah Arah Kebijakan Nasional

by BBC Indonesia
September 17, 2026

Simak dampak putusan terbaru MK terkait anggaran program Makan Bergizi Gratis MBG dan implikasinya terhadap alokasi dana pendidikan nasional.

Mega Science Center Dan Budaya Jatim Park 1

Mega Science Center dan Budaya Jatim Park 1, Ruang Eksplorasi Berskala Besar dengan 1.640 Alat Peraga Sains dan Artefak Budaya di Kota Batu

by Malang Today
September 17, 2026

Jawa Timur Park Group memperkenalkan Mega Science Center dan Budaya sebagai destinasi wisata edukasi terbaru di kawasan Jatim Park 1,...

Prabowo Jajal Lrt Kelapa Gading Dan Tegaskan Komitmen Pengembangan Transportasi

Prabowo Jajal LRT Kelapa Gading dan Tegaskan Komitmen Pengembangan Transportasi Publik

by Malang Today
September 16, 2026

Presiden Prabowo Subianto mencoba layanan LRT Jabodebek dari Stasiun Kelapa Gading untuk memastikan kenyamanan transportasi umum masyarakat.

Temuan Kotoran Dan Kecoa Di Sppg Bandung Jadi Sorotan Dinkes

Temuan Kotoran dan Kecoa di SPPG Bandung Jadi Sorotan Dinkes

by Malang Today
September 16, 2026

Dinkes Bandung temukan kecoa dan kotoran saat inspeksi SPPG untuk memastikan standar kebersihan serta keamanan pangan warga tetap terjaga.

Resmi Dilantik Susanna Pimpin Politeknik Aisyiyah Batam

Resmi Dilantik, Susanna Pimpin Politeknik Aisyiyah Batam

by Malang Today
September 14, 2026

Susanna resmi dilantik sebagai Direktur Politeknik Aisyiyah Batam yang baru untuk membawa kampus ini menuju era baru pendidikan tinggi yang...

Aksi Kilat Kawanan Pencuri Gasak Artefak Emas Zaman Perunggu Di

Aksi Kilat Kawanan Pencuri Gasak Artefak Emas Zaman Perunggu di Museum Spanyol

by Malang Today
September 14, 2026

Intip kronologi pencurian kilat koleksi emas Zaman Perunggu yang tak ternilai harganya dari sebuah museum di Spanyol yang menghebohkan dunia.

Peragaan Busana Cos Diguncang Protes Peta Petinggi Cfda Ikut Turun

Peragaan Busana COS Diguncang Protes PETA Petinggi CFDA Ikut Turun Tangan

by Malang Today
September 14, 2026

Simak kronologi aksi protes PETA di peragaan busana COS yang memicu ketegangan hingga menyeret ketua CFDA ke dalam pusaran konflik...

Kowani Apresiasi Sikap Tegas Perwira Tolak Klb

Kowani Apresiasi Sikap Tegas Perwira Tolak KLB

by Malang Today
September 14, 2026

Kowani mengapresiasi langkah tegas para perwira yang menolak pelaksanaan KLB demi menjaga integritas serta marwah organisasi dari perpecahan.

View this post on Instagram

A post shared by SIGNATUREÈ MUSIC FESTIVAL (@signaturee.festival)

Logo Square MLGTDY 1

CONTACT US

ABOUT US

EDITORIAL

CYBER MEDIA GUIDELINES

DISCLAIMER

Logo Square MLGTDY 1

CONTACT US

CYBER MEDIA GUIDELINES

ABOUT US

DISCLAIMER

EDITORIAL

imunify-bot-check 2168
No Result
View All Result
  • Buy JNews
  • Place to gos

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.